Lencana Facebook

Sabtu, 12 Maret 2011

Sejarah Muhamadiyah Kota Binjai*)

1. Pada tahun 1929 menurut utusan kongres di Solo. Dimulai adanya Muhammadiyah daerah yang sebelumnya disebut Persatuan Muhammadiyah, kemudian diganti dengan kongres kecil daerah kemudian berganti dengan Confrentie Daerah, Tahun 1930 baru ada sebutan Muhammadiyah Daerah Pesisir Timur yang telah terdaftar cabang atau group sebanyak 12 cabang/group. Satu diantaranya adalah Binjai. Bangunnya Muhammadiyah di Binjai adalah atas usaha sdr. Abbas Hasan dengan 11 orang temannya, yang pada mulanya terpaksa menggabungkan diri sebagai anggota Muhammadiyah Cabang Medan. Telah dua kali dicoba untuk membangunkan Muhammadiyah tetapi gagal, barulah tatkala konsul sendiri Hr. M. Said datang ke Binjai yaitu pada tanggal 20 November 1930 resmilah berdirinya ranting Muhammadiyah dengan susunan pengurusnya : Ketua : Abbas Abisin, Penulis : M. Sabirin, Bendahari : Saidi Ibrahim. Pembantu St. Rajo Ameh , Ahmad Adam, Daridin st. Batuah, Muhammad Isa, Malin Kayo Jamil (Kakek Fauzi Arief), A. Manan Gadang , A. Manan Uban, Rabaini, Usman Jamil. Menurut penuturan beberapa tokoh yang sempat direkam pengajian tentang Muhammadiyah sudah ada sejak tahun 1929.
Pada tanggal 9 Mei 1931, menurut pak Kalimin Sunar dalam tulisannya ketika pelaksanaan Sarasehan sehari Sejarah Muhammadiyah Sumatera Utara 22 Juli 1990/29 Zulhijjah 1410H peristiwa ini terjadi tanggal 9 Maret 1931 dimana Jaksa Kerapatan beserta seorang oppas memerintahkan kepada pengurus supaya sekolah Wustha Muhammadiyah ditutup.
Gerak yang dilancarkan terus yaitu membangun sebuah sekolah yang bernama Wusthaschool yang dipimpin saudara Abbas Abisin dan Usman Kamun. Pada tahun 1933 dibuka pula HIS Met De Quran yang dipimpin saudara Sunedi. Dan pada tahun itu juga Binjai menerima kehormatan sebagai tempat konfrensi Muhammadiyah Daerah S. Timur ke VI. Setelah konfrensi itu terasahlah gerak majunya Muhammadiyah dengan beraninya anggota berterang-terang mengakui dirinya anggota Muhammadiyah, tetapi rintangan dan cobaanpun semakin besar, sehingga peristiwa yang tidak dapat dilupakan ialah terbunuhnya seorang pencinta Muhammadiyah oleh seorang yang suka membusuk-busukan Muhammadiyah. Tetapi itupun diterima dengan rasa sabar dan tabah. Pada tahun 1936 atas inisiatip sdr.Sumowidigdo (Asisten Collecteur dan R. Admodipuro Hoofmantri O. R serta jl, dapatlah dibeli sebidang tanah, dan dibentuklah panitia yang diketuai oleh sdr. Admodipuro dan A. Yusuf dan selesai tahun 1937, dan pada tahun 1940 dibuka pula sekolah Tsanawiyah. Gerakan ‘Aisyiyah digerakkan pula atas pimpinan ibu Jamilah, Nursila dan Rasinah dimana telah berhasil mengadakan sekolah menyesal, begitu juga gerakan NA oleh sdr. Ali Amah (alm) dan HW oleh sdr. Harun st. Pamuncak. Zaman pendudukan Jepang Muhammadiyah dipimpin oleh sdr. Rustam Thaib, Izuddin Qadir (orang tua Riswan Rika), A. Manan Sir, A. Gani Arsyad, Baharuddin Ali, Syahbuddin SS dan Alauddin Samah.
Ketika terjadi kegemparan di kalangan umat beragama, khususnya di Binjai disaat mana umat Islam dan umat lainnya, ketika balatentara Jepang mengeluarkan MAKLUMAT memerintahkan sekalian penduduk pada 29 April 1942 berkumpul ke tanah lapang Binjai dan sembahyang menundukkan kepala menghadap ke Timur Laut matahari terbit di mana tempat Istana Kaisar Tenno Heika berada dan bertahta. Peristiwa ini tentu menjadi pembicaraan kaum pergerakan, politisi, cendikiawan dan terutama sekali para pemuka agama, menjadi masalah dan beban mental yang sangat berat khususnya ummat Islam dan umat beragama umumnya.
Dengan peristiwa tersebut menjadi daya pendorong menyadarkan pada semua kalangan masyarakat ,apakah kalangan pergerakan, apakah kalangan politisi, apakah kalangan cendikiawan, terutama sekali para ulama, dan kalanganpara pemuka agama bersatu padu untuk menghadapi tindakan Jepang, untuk saling membantu dan memberikan perlindungan sesamanya, bersama-sama dan bersendal bahu untuk menentang segala bentuk kezaliman walaupun ujung bayonet balatentara Jepang mengancamnya.
Situasi sangat mencekam, ujung bayonet balatentara Jepang terhunus dan mengancam, timbullah peristiwa yang sangat mengharukan pada umat Kristen di Binjai.
Pada saat-saat yang krtitis dan mencekam, umat Kristen yang tergabung dalam HKBP Binjai mendapat kesukaran untuk beribadah menurut agamanya, karena pada waktu itu belum mempunyai tempat peribadatannya (Gereja) sendiri. Semua gedung-gedung sekolah Pemerintah dipergunakan oleh Jepang untuk asrama prajurit balatentara Jepang.
Pendeta Kores Harahap tugas sehari-hari sebagai pendidik dan Guru, di dalam HKBP Binjai sebagai sintuanya, sebagai anggota gerakan di bawah tanah, kesulitan dan kesukaran yang sedang dialamai oleh umat Kristen disampaikan kepada teman teman sejawatnya.
Kesukaran yang sedang dialami oleh umat Kristen Binjai dikarenakan tidak adanya sarana peribadatan, menjadi perhatian tokoh tokoh ulama umat islam dan organisasi Muhammadiyah Cabang Binjai. Muhammadiyah cabang Binjai satu satunya organisasi pada tahun 30-an yang telah mampu membangun dan mendirikan sebuah gedung sekolah dengan swadaya para anggotanya yang terletak di jalan KHA Dahlan Binja. Sesuai dengan pimpinan islam, dengan tulus ikhlas Tahun 1954, Muhammadiyah cabang Binjai membenarkan sekolahnya dipakai untuk peribadatan bagi umat HKBP tiap-tiap Minggu. Peristiwa ini sejalan dengan Pidato Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam malam ta’aruf Muktamar Muhammadiyah di Palembang pada bulan Juli 1956.”….terhadap pemeluk agama lain, terutama Kristen Katholik dan Protestan, dengan kesaksian Al Quran Dan Sabda Nabi Muhammad saw, kami menyebut mereka “AHLI KITAB” orang keturunan Kitab. Jika cita-cita kami menjadi kenyataan yakni tercapai masyarakat islam, kami sebagai Muslim terhitung umat yang fasiq dan zalim kalau kami tidak memberikan perlindungan bagi mereka di dalam keyakinan agamanya……..”.
Ucapan ini menjelaskan kewajiban yang dipikulkan Tuhan atas umat Islam terhadap mereka yang menganut agama Kristen, dan karena itu menjadi kewajiban Muhammadiyah pula. Pada zaman pendudukan Jepang, cita-cita mewujudkan masyarakt islam sebenar benarnya belum ditegaskan, akan tetapi hukum islam yang dijunjung tinggi oleh Muhammadiyah tetap berlaku., demikian juga dalam hal supaya bersikap toleran terhadap penganut agama Kristen.
Peristiwa yang mengharukan ini dijelaskan juga oleh pimpinan HKBP (Huria Kristen Batak Protestan Binjai WC Sutarduga dalam pidatonya diwaktu peresmian Gereja HKBP Binjai pada tahun 1954, yang dihadiri oleh para undangan serta instansi sipil dan militer.
Dengan adanya peristiwa tersebut di atas, tentu saja ada pelakunya. Muhammadiyah cabang Binjai telah meletakkan kerangka landasan terukir di batu prasasti sejarah yang gemilang, bahwa toleransi antar (umat) beragama telah terbina dan terwujud, pada awal tentara Jepang menguasai Nusantara pada tahun 1942
1. Pada tahun 1943 didirikanlah Madrasah Muallimin/Muallimat dipimpin oleh al ustadz A. Halim Hasan, Zainal Arifin Abbas, HM Salim Fachry,T. Usman Husin, A. Rahim Haitamy (alm), Rustam Thaib dan M. Ridwan dengan murid lebih kurang 200 orang. Sekolah tersebut berjalan selama 3 tahun. Pada tahun 1944 anak-anak yatim yang dipelihara PKU diserahkan kepada Al Washliyah.
2. Zaman revolusi kemerdekaan maka sdr. Baharuddin Ali dan Syahbuddin SS mempelopori pembentukan Lasykar Hizbullah dan ustadz A. Halim Hasan dan A. Rahim Haitamy mempelopori Masyumi.
3. Zaman pendudukan sekutu, seluruh harta benda Muhammadiyah dijalan Besar no. 130 dirusakan oleh Poh An Tui (tentera bentukan sekutu), sedangkan pemimpin Muhammadiyah ada yang ditawan (A.Yusuf Husein), ada yang meninggal dalam pengungsian yaitu sdr. A. Rahim Haitamy.
4. Sesudah penyerahan kedaulatan maka gerak Muhammadiyah yang telah kutar-katir itu dipulihkan kembali, di bawah pimpinan saudara Abd. Rahman Yakub, sdr.Baharuddin Syarif/Baharuddin Lebay,pernah sekolah di Mesir dan berperang melawan musuh Mesir saat itu. Terakhit jabatan Brliau adalah rektor IAIN Sumatera Barat dan meninggal ketika mengalami kecelakaan pesawat. Panitia pendirian sekolah dibangunkan, dan tanah untuk perumahannya dapat disediakan dengan sokongan penuh sdr. Patih AR Hajad dan Walikota Ibnu (alm) sedangkan Aisyiyah membangun pula satu panitia konsultatie beurau. Perluasan ranting digerakan terus sehingga pada saat ini cabang Binjai telah mempunyai 4 ranting yaitu 1. Ranting Bahorok 2. Ranting Kb. Lada, 3. Ranting Tanjung Selamat 4. Ranting Selayang
Muhammadiyah dan Kemerdekaan RI
Setelah proklamai kemerdekaan yang diumumkan Soekarno Hatta pada tanggal 17.8.45 hari jumat, jam 10,00 pagi di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, dikota Binjai baru menerima berita proklamasi itu pada tanggal 1syawal 1365 H/6 September 1945 setelah menerima 2 telegram dari Bukit Tinggi yang bersamaan datangnya,
Telegram I dari Jamaluddin Adi Negoro ditujukan kepada al ustadz Abdul Halim Hasan.
Telegram II dari Buya AR Sutan Mansur pimpinan Muhammadiyah Sumatera yang berkedudukan di B. Tinggi ditujukan kepada PCM Binjai, yang diterima oleh Abd. Rahin Haetamy, Malin Kayo dan Yahya Nata.
Pimpinan Muhammadiyah Cabang Binjai terdiri dari al ustadz Abd Rahim Haetamy, Malin Kayo Jamil dan Yahya Nata menerima telegram dari AR Sutan Mansur PP Muhammadiyah Sumatera berkedudukan di Bk. Tinggi pada tangal 6 September 1945 pukul 13.00 wib bertepatan waktunya setelah selesainya umat islam melaksanakan sholat idul fitri 1 syawal 1365 H. Isi kedua buah telegram tersebut bunyinya sama, yang memberitahukan bahwa Indonesia sudah merdeka diumumkan oleh Soekarno Hatta atas nama bangsa Indonesia pada tangal 17 Agustus 1945 di Jakarta dan pemerintahan RI sudah terbentuk. Ir. Sorkarno sebagai Presiden dan Dr. M. Hatta sebagai Wapresnya, di Sumatera Mr. T. M. Hassan telah diangkat dan ditetapkan oleh Presiden sebagai Gubernur Propinsi Sumatera dan Dr. M Amir sebagai wakil gubernurnya, diharapkan agar di kota Binjai dan Langkat untuk menyambut proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 dikibarkan bendera merah putih dan mempersiapkan pembentukan pemerintah RI di kota Binjai dan Langkat.
Persiapan pengibaran bendera merah putih petama di Binjai ; oleh al ustadz H.Abd. Halim Hasan sebagai pimpinan politik ketua majelis islam tinggi (MIT) Binjai, memanggil anggota MIT di binjai yang terdiri;
1. Al ustadz abd. Rahim haitamy
2. Al ustadz Sainal Arifin Abbas
3. H. Abd. Wahab Lubis
4. Malin Kayo M. Jamil
5. A. Yusuf Husin
6. M. yahya Nata
7. M. Husni Marzuki
8. Baharuedin Ali
Setelah diadakan diskusi secara mendalam, mengambil keputusan bahwa pada hari itu juga tanggal 6 September 1945 Bendera Merah Putih harus dikibarkan secara rasmi, lokasi atau tempat pengibaran bendera harus disiapkan. Yang melaksanakan pengibaran bendera merah putih, diinstruksikan kepada muhammadiyah ranting kb. Lada Binjai, yang dapat dituturkan sbb :
a. Menginstruksikan kepada Muhammadiyah ranting kb. Lada Binjai untuk mempersiapkan dan melaksanakan pengibaran bendera merah putih pada hari ini juga tanggal 6 september 1945 pukul 14.30 wib,
b. Lokasi tempat pengibaran bendera merah putih tersebut pertama di Binjai di jalan kebun lada simpang empat sebelah kiri. (sekarang jalan P. Kemerdekaan).
Pengibaran Bendera Merah Putih :
Muhammadiyah ranting kebun lada yang menerima instruksi untuk mempersiapkan pelaksanaan pengibaran bendera merah putih,Sulaiman Saleh sebagai ketua rantingnya beserta teman temannya anggota Muhammadiyah bergerak dengan secepatnya menghimpun para pemuda dan masyarakat di kampung Kb. Lada dan sekitarnya yang terdiri dari :
1. M. Yahya Nata
2. Suleiman Saleh
3. M.Saad Amin
4. M. Thaib Jamil
5. H. Ibrahim
6. Abd. Jalil
7. H. Ibrahim
8. M. Salim
9. M. Mabil Lubis
10. M. Adam Lubis
11. Abdul Muthalib
12. M. Abbas
13. M. Husin
14. M. Husin Aceh
15. Abd. Latief
16. M. Sani
17. Udin S
18. Ahmad Sayuti
19. Hasan Usman
20. Samiun Idris
21. Abd. Malik
22. Imong
23. Bachtiar
24. Abd. Rahman
25. Abd. Manan Malik
26. Paino
27. Khairuddin
28. Radiman
29. Sukirno
30. M. Idris



Pimpinan upacara pengibaran bendera merah putih pertama di Binjai dipimpin langsung oleh Abd. Rahim Haetamy Pimpinan Muhammadiyah Cabang Binjai.
Berkibarlah bendera merah putih pertama kali di Kebun Lada, karena sulitnya kain pada waktu itu diambillah kain sarung bantal kepunyaan Sulaiman Saleh dan dijahitkan oleh ibu Ugik kebetulan berwarna merah putuh meskipun kurang sempurna warnanya, berkibarlah bendera merah putih di Simpang Empat Kebun Lada. 30 0rang di atas, kemudian mengarak bendera merah putih ini ke kota Binjai dan ditegakkanlah di tiang gol lapangan kota Binjai.
Berita pengibaran bendera merah putih yang pertama di kota Binjai, akhrinya tersebar luas ke tengah tengah masyrakat kota Binjai,disambut dengan rasa sangat gembira sehingga membakar semangat masyarakatnya. Masyarakat kota binjai dan sekitarnya yang dipelopori dan dikordinir oleh M Husin Nasution seorang politikus dan guru HIS, Joko Sungkono guru Tamsis dan raja Anwar Johan pegawai gun sei bu yang mempersiapkan pengibaran bendera merah putih pada esok harinya 7 september 1945 di tanah lapang Binjai.. Dan esok harinya 7.9.1945 atas dorongan sdr. M. Nasib nst bersama sama dengan guru taman siswa dan tokoh tokoh masyarakat Binjai dikibarkan pula bendera merah putih di tanah lapang Binjai Lokasi atau tempat pengibarannya di sudut tanah lapang Binjai yaitu sekarang di samping sudut kiri markas kantor dandim 0203 Langkat Binjai, dan di atas mercu air di atas pusat kota Binjai.
Setelah penyerahan kedaulatan negara RI maka gerak Muhammadiyah yang telah mandeg itu dipulihkan kembali dibawah pimpinan A, Rahman Yakub dan Baharuddin Syarif (Baharuddin Labay). Perluasan ranting digerakan sehingga ranting Muhammadiyah menjadi cabang karena telah mempunyai ranting 4 buah yaitu : ranting bahorok, ranting kb. Lada, ranting tanjung selamat dan ranting selayang dan akhirnya Muhammaiyah berkembang mulai dari Bahorok sampai ke Besitang dan Pangkalan Susu dan Pimpinan Muhammadiyah kab. Langkat dan kota Binjai mempunyai 8 cabang dan 50 ranting.
Sejak tahun 1967 , di jajaran PWM SU sudah ada 12 PDM termasuk satu diantaranya adalah Langkat/Binjai yang diketuai oleh Bachtiar Hasan. Periode ini 1968-1971. Darul arqam I tingkat wilayah diadakan 15-29 Agustus 1970 di kompleks Muhammadiyah cabang Kp. Dadap dari PDM Binjai/Langkat utusannya adalah Baharuddin Sukemi dan Taufiq Rahman Ya’cub.
Usai Muktamar Muhammadiyah ke 38 tahun 1971 di Ujung Pandang, maka Muhammadiyah Sumatera Utara melaksanakan Musyawarah ke-4 tanggal 25-27 Desember 1971 bertempat dikompleks Muhammadiyah Cabang Binjai jalan KHA Dahlan Binjai.
Musyawarah Muhammadiyah ke-4 ini dinilai lebih semarak dibandingkan dengan Musyawarah Wilayah I (Medan), II (Belawan) dan III (Padang Sidempuan). Pembukaannya diadakan di gedung bioskop RIA Binjai yang dihadiri oleh para pejabat tingkat I Sumatera Utara dan tingkat II Binjai/Langkat. Dari PP Muhammadiyah hadir Drs. M. Djasman.
Periode 1971-1974 Bachtiar Hasan masih dipercaya menjabat ketua PDM Langkat/Binjai,
PMD Langkat Binjai periode 75-78
Ketua : Arief Jamil
: Bachtiar Hasan
: M. Zein
: Abd. Razak
PMD Langkat Binjai peride 78-85
Ketua : Harmaini
Wakil : M. Zein
Wakil : M. Zeis Parinduri
Wakil : Taufiq Rahman
Sekretaris : Dasril Suar
Wakil : Yunis Anwar
Bendahara : Nurdin Harun
Anggota : Ismail Haryono
Tua Pohan
PDM Langkat Binjai 1985-1990 Berdasarkan SK PP M No. A-2/SKD/472/8590 yang ditanda tangani M. Djindar Tamimy dan M. Asriani Asdinardju tanggal 18.02.1990/22 .7.1410..
Ketua : Bachtiar Hasan
: Taufiq Rahman
: Dr. H. Zulkarnaen Tala
Drs. Ali Afsar
Nurdin Harun
As Adinata
Dasril Suar
Supriadi Hs. Basri
Drs. H. Abd. Kholik
A. Mukhtar Nst
M.Z Parinduri BA
Dari SK di atas terpilih susunan selengkapnya :
Ketua : Bachtiar Hasan
Wakil Ketua I : Nurdin Harun
Wak Ketua II : Mukhtar Nst BA
W. Ketua III : dr. Zulkarnaen Tala
Sekretarus : As Adinata
Wk Sekr I : Muchtar BS
Wk Sekr II : Drs. Ali Afsar
Bendahara : Drs. A. Kholiq
Wk. Bend/ : Supriady Hs Basri
Anggota : Taufiq Rahman,
MZ Parinduri
Dasril Suar,
Ismail Haryomo
dan T, Syukri Muli
SK ini berdasarkan hasil Musyda II Muhammadiyah K. Binjai 10-11 Maret 1990 di P.Brandan ditanda tangani oleh Bachtiar Hasan dan As Adinata
Sejak bulan Pebruari 1990 atas kesepakatan dalam Musyda Muhammadiyah pada januari 1990 di Pangkalan Berandan terjadilah pemekaran daerah Langkat dan Binjai dengan keluarnya SK PP Muhammadiyah no : A-2/SKD/471/8590 tanggal 27 Rajab 1410 H/18Pebruari 1990.
1. Pimpinan Daerah Muhammadiyah kab, langkat berkedudukan di Stabat
2. Pimpinan Daerah Binjai berkedudukan di Bimjai
PDM Binjai 1995-2000 berdasarkan SK PP M No. A-2/SKD/090/9500 tanggal 11.05.1996/23.12.1416 H hasil musyda yang berlangsung 25-27.10.1416/14-17.03.1996
Ketua : Anwar Haetamy
Anggota : T. Syukry Muly
Drs. Yunizar Noor, MPd
Zainal Abidin
Drs. A, Khaliq Ar Raya
As Adinata
Drs. Fuad Afsar
H. Nurdin Harun
Sufriady Hs Basri
Abdur Rahman Ayun
Ilham Khairi BA
Drs. ThamrinAriadhie
Ishaq Sutrisno
Serah terima dengan pengurus sebelumnya dilaksanakan 26.02.1417 H/12.07.1996 di Pendopo Umar Baki disaksikan Bachtiar Ibrahim dari Wilayah, Bachtiar Hasan PDM Lama dan As Adinata PDM Baru.
PDM Binjai 1991-1995 berdasarkan SK PP No. A-2/SKD/106/9195 yang ditanda tangani oleh HA Azhar Basyir MA dan Dr. HA Watik Pratiknya tanggal 23-10-1991/15.04.1412
Ketua : Taufiq Rahman
WakilKetua I : Drs. Ali Afsar
Wakil Ket II : Supriady Hs Basri
Wakil Ket III : As Adinata
Sekretaris : Ilham Khairi
Wak. Sek : Drs. Yundiser
Wak. Sek : Abd. Qodir
Bendahara : Drs. Abd. Kholiq
Anggota : Bachtiar Hasan
Nurdin Harun
A.Mukhtar Nst BA
Drs. Ismail Haryomo
Drs. A. Khaliq Ar Raya
PDM Binjai 2000-2005
Ketua ; As Adinata
Wakil : Nurdin Harun
Wakil : Supriady Hs Basri
Sekretaris : Dasril Suar
Wakil : Fuad
Wakil : Sujarno
Bendahara : Baharuddin AR/Sujarno
Anggota : Ilham Khairi
Khaliq Ar Raya
Demikianlah sejarah singkat perkembangan Muhammadiyah ini.

+) Disampaikan dalam Seminar Sejarah Muhammadiyah Kota Binjai, Minggu 27-02-2011

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktops