Lencana Facebook

Selasa, 14 November 2017

My Life, My Adventure III

Menurut kartu keluarga dan yang tertera di ijazah, saya lahir di Padang pada tanggal 06 September 1964. Kata bapak saya, dibenarkan oleh kakak dan abang saya, waktu balita kaki saya X. Susah sekali untuk dibawa berjalan. Masa kecil saya dilalui di Padang. Dari Padang, orang tua saya hijrah ke Medan. Tinggal di jalan Rahmadsjah, gang Kembar. Di sebelah rumah, ada pohon randu cukup besar. Ada cerita aneh yang pernah saya dengar langsung dari orang tua saya. Suatu malam, dari atas pohon berjatuhan anak ayam. Oleh orang tua saya, anak ayam dikumpulkan dikain sarung, anak ayamnya tidak ada. Malam yang lain, abang saya terjaga melihat seperti ada cahaya senter menerpa tidurnya, ternyata tidak ada. Malam yang lain, kedengaran orang menyeret mesin jahit, mesinnya bergeser, pintu jendela tidak ada perubahan. Saya juga dikenal sebagai penterjemah omongan Fadillah adik saya yang celat. "Pa, wak ni pu teng" artinya "Pa, bawa sini lampu stromkeng". "Bu, tak tu tik" artinya "Ibu tidak punya baju cantik". Dari jalan Rahmadsjah, keluarga saya beberapa kali pindah. Ke jalan Utama, Gg. Sadi. Ke Jalan Bakti Gang Kolam. Ke jalan Utama Gang Setia. Terakhir jalan Pelajar Timur, Komplek SPG Negeri I Pasar Merah Ujung.
Masa Sekolah Dasar
Saya bersekolah dasar di SD Negeri Nomor 16, Jalan Rahmadsjah/Japaris Medan. Ketika itu saya dan orangtua beserta keluarga tinggal di jalan Utama Gang Setia. Pergi ke sekolah berjalan kaki dari gang Sadi, gang Bandung, gang Abadi, gang Sekolah. Daerah itu disebut dengan Komat (Kota Matsum). Daerah yang termasuk cukup rawan. Saya lupa kelas berapa, ketika istirahat saya dan beberapa kawan mendapat hukuman berdiri di depan kelas. Satu kaki dan satu tangan di lingkar di atas kepala. Karena ketika istirahat, main tolak-tolakan pintu. Tangan teman saya terjepit pintu. Dia meraung. Tangannya berdarah. Kelihatan cacat. Kalau tidak salah, jempolnya.
Ketika rekreasi ke Tuntungan, mandi-mandi bersama kawan-kawan lain, saya sempat curi pandang ketika Eli Trisnawati berganti pakaian. Seorang kawan lain, dipahanya ada pacat. Ketahuannya setelah di mobil. Dia pucat, kawan lain tertawa. Di rumah, saya laki-laki yang sudah bisa disuruh-suruh oleh abang saya. Adik-adik masih kecil. Adik bawahan saya, di kampung. Bawahannya lagi ya masih kecil. Suatu hari saya disuruh beli cacing untuk ikan cupang dan ikan emas peliharaan abang saya. Karena menolak, karena terlalu jauh saya disepak dan dipukuli abang. Saya cuma bisa menangis.
Ketika kelas IV ibunda saya meninggal. Ketika itu saya masih dirumah teman, Ikhwan Chaidir. Saya biasa bertandang ke rumahnya. Tiap hari. Ayahnya sudah lama meninggal. Pernah saya diajaknya tidur ke rumahnya. Saya tidak menyangka ternyata tidurnya  bareng sama ibunya. Maklum, dia anak bungsu. Karena keakraban kami, ibuku dan ibu Ikhwan Chaidir jadi berteman. Ibu Ikhwan Chaidir berjualan di Pajak jalan Halat. Sesekali ibu saya singgah ke kedai ibunya. Ketika ibu meninggal habis melahirkan adik bungsu kembar Fatimah dan Fatmah yang juga meninggal, saya sedang main alip sambar elang sama Ikhwan Chaidir dkk. Tetangga sebelah rumah datang, menyuruh saya pulang. "Ngapain pulang, lha sedang asyik-asyiknya main alip sambar elang. "Dek, pulang, ibu kau meninggal !". Kata teman tetangga sebelah rumah saya di gang Setia menyampaikan berita duka. Saya kaget. Saya berlari masuk ke rumah Ikhwan Chaidir, ambil tas lari sekencang-kencangnya, pulang. Pertanyaan ibunda Ikhwan Chaidir di depan pintu masuk rumahnya, tidak saya acuhkan. Sampai di rumah, tetangga sudah beres-beres mempersiapkan segala sesuatunya untuk menanti kedatangan jenazah. Ketika jenazah akan dikebumikan keesokan harinya, sebelum pengkafanan masing-masing kami menciumi wajah ibu. Saya cuma jongkok, mendekatkan kepala ke wajahnya, tapi tidak menciumnya. Penyesalan seumur hidup. Yang teringat waktu itu, kenapa ibu Ikhwan Chaidir tahu ibu saya meninggal ?. Dari mana dia tahu. Padahal ketika kemarin dia bertanya, tidak saya perdulikan.
Pertemuan terakhir dengan ibunda terjadi ketika saya bersama abang nomor dua menghantarkan makanan untuk ibu. Boncengan naik sepeda. Di depan Thamrin Plaza saat melintasi rel kereta api, tutup rantangnya jatuh. Dilindas mobil. Jadilah makanan itu sampai ke rumah sakit tanpa tutup. Dialog yang tidak terlupakan dengan ibunda disaat almarhumah berkata pada dokter.
"Dok, coba perhatikan hidung anak saya ini, dok" Kata ibu menunjuk ke hidung saya.
"Ya bu, kenapa ?"
"Bagus ya dok, mancung"
"Ya bu"
"Saya mau hidung saya tukaran dengan dia, dok"
Itulah suara ibunda Sa'adah, ibu yang melahirkanku. Kukenang terus.
Di Medan dulu ada siaran radio Prapanca. Alamatnya jalan Brigjen Katamso. Sekali seminggu ada acara pembacaan puiti oleh penyiarnya, mas Jamal Pribadi (?). Dalam beberapa kali pengudaraan, dipilihlah puisi terbaik. Puisi saya berjudul "Khabar Sendu Buat Nisan 74" (?) keluar sebagai puisi terbaik. Saya memperoleh piagam penghargaan. Saya jemput langsung ke studio Prapanca jalan Brigjen Katamso.
Karena tidak ada teman di rumah, beberapa kali saya bawa si bungsu ke sekolah. Pernah sekali, teman saya terima jula-jula uangnya diberikan kesibungsu. Kalau tidak salah namanya Faridah. Karena saya yang sekolah masuk siang, situasi membuat saya bisa memasak. Pernah suatu kali, masak rebusan daun ubi. Kuali di atas kompor Ketika mau berangkat, mau makan. Ambil daun ubi. Daun ubinya bergumpal. Sayurnya tumpah. Saya menangis. Sambil menangis sayur yang tumpah saya masukkan ke kuali, saya tinggal ke sekolah, tidak jadi makan.
Pada kesempatan lain, saya mengkoordinir kawan-kawan bolos. Tujuan kami mandi di sungai mati. D belakang istana plaza sekarang. Melewati perkuburan muslim untuk sampai ke sungai. Ketika mandi-mandi, celana saya buka dilemparkan ke depan diambil. Suatu kali, celana tidak terambil. Celana tenggelam. Jadilah saya pulang hanya berbalut baju. Di perkampungan anak muda sedang berolah raga pada heran kenapa saya pulang berbalut baju.
"Mana celanamu" kata mereka.
"Hilang bang"
"Hilang, jangan macam-macam kau"
"Hilang tenggelam bang"
Hahahaha....hahahaha mereka tertawa meriah. Di jalan Mahkamah, di belakang rumah penduduk dekat rel kereta api. Ada 1 kain jemuran yang tidak layak pakai Itulah yang saya gantikan ke baju yang menutup tadi. Baju dipakai normal, bawahnya kain jemuran yang dijumpai di jemuran di belakang sebuah rumah. Teman teman SD saya, Edy Syahputra, Nizamuddin, Ikhwan Khaidir, Zainal Abidin, Iwan beradik kakak dengan Buhari, Edy Sucipto, Ainal Mardiah, Titik Puspa, Ely Trisnawati, Khairul, Faridah, Edy Faisal dan lain-lain.
Siang hari saya sekolah mengaji di madrasah gang quba. Pernah suatu kali, pulang mengaji saya digodain sama Syahirman Ali. Dia mengejek. Dia jodohkan saya dengan Deliana. Fuad-Deliana. Fuad-Deliana. Padahal Deliana ada di situ bareng kawannya. Gengsi. Saya kejar Syahirman Ali. Yang dikejar lari. Tiba-tiba Syahirman Ali masuk gang. Dari gang keluar nenek-nenek mengiring sepedanya. Tabrakan tidak bisa dihindari. Supaya tidak lebih fatal, apa yang bisa saya gapai, saya gapai, Saya masuk parit. Nenek-nenek itu nyaris masuk parit. Al quran saya basah oleh parit. Syahirman Ali terbahak. Deliana dan kawannya tertawa. Nenek nenek itu merepet. Saya terbirit-terbirit menghindari amuk kemarahan nenek nenek itu.
Suatu malam, sedang enakan sender bareng ibunda, tiba tiba di depan pintu rumah muncul sosok pocong. Saya terkejut. Si pocong lari ke seberang gang, di tempat yang agak rimbun. Melompati parit. Muncul di depan seoorang ibu yang sedang menjahit diterangi lampu stromkeng. Si ibu menjerit, suaminya menghampiri. Si Pocong bersembunyi di semak-semak. Tetangga sebelah rumah memang usil. Saya juga pernah dijahili kakak. Saat malam, tiba-tiba dia duduk di  depan saya memakai mukenanya. Saya menjerit.
Suatu malam saya dibawa papa jalan-jalan. Di depan gang Sadi Papa cerita bahwa besok saya akan mendapat ibu baru. Karena kesibukan beliau mengajar di SPG Negeri I Medan dengan anak-anak yang banyak, Beliau memerlukan pendamping. Pilihannya wanita sebelah rumah. Sederhana. Wanita yang siap mengasuh anak-anaknya. Ada yang suka ada yang tidak adalah wajar. Sebagai seorang isteri dari Papa saya, wanita sederhana dengan plus minusnya berhasil mendampingi papa dan memberikan putera-puteri kehidupan yang cukup berhasil.
Masa SMP
SMP Negeri 11 Medan
Tiga tahun setengah SMP, tiga sekolah saya lalui. Pertama di SMP Negeri 11 Medan. Ketika melihat pengunguman daftar siswa yang diterima, nama saya tidak keluar. Sementara nama famili satu kampung,Amril, keluar. Saya sedih. Sampai di rumah saya ceritakan keadaan saya dengan papa. Papa cuma tersenyum. Pada hari pertama disekolah, saya diantarnya ke SMP Negeri 11. Memulai masa SMP bersama siswa siswa lain. Alhamdulillah. Kalau tidak salah, Nizamuddin teman satu SD juga sekolah di sini. Pernah suatu kali saat upacara pengibaran bendera, saya guit telinga teman di depan saya. Olehnya ditegur teman yang lain. Saya happy. Merasa tidak pernah berbuat, tentu saja yang dituduh tersinggung. Mereka ribut. Mereka dipanggil ke depan sampai upacara selesai. Usai upacara, begitu masuk ke kelas tendangan guru olah raga mendarat di perut saya. Telak. Itulah buah kejahilan saya ketika upacara bendera di lapangan tadi. Saya cuma bisa meringis.
SMP Negeri 1 Padang
SMP ke dua yang saya lalui di SMP Negeri 1 Padang. Lokasinya persis di depan gedung DPRD Tk II Padang. Tidak jauh dari Pasar Raya Padang. Sesekali saya main ke pasar raya ini. Sebagian teman yang membawa sendiri kenderaan, kadang memarkirkan kenderaannya di parkiran pasar raya ini. Papa dulu pernah menjadi guru di sini. Saya dengan kakak tinggal di sini. Di rumah adik ibu. Jl Raden Saleh Gang Sakato. Safinah Oedin. Beliau anggota DPRD Provinsi, dari PPP. Kepindahan saya ke Padang, yang saya dengar karena adik ibu saya, ingin membantu membesarkan anak-anak kakaknya yang sudah meninggal. Setiap hari ke sekolah naik bemo. Sampai di sekolah selalu diusilin sepupu saya, Yuniarti Palar. Saya cuma cengengesan. Duduk paling belakang. Di bangku deretan bahagian putri ada Zahirma (?). Body nya bagus. Suka pakai rok kembang di atas lutut. Pahanya selalu dibanggakannya.
Suatu hari saya diantar oleh adik ibu saya menggunakan mobil sedan FIAT nya. Turun persis di depan sekolah. Rupanya ada yang memperhatikan. Febrian Harminal. Anaknya putih bersih. Berkaca mata. Tipelogi anak pejabat. Ayahnya H. Harminal Harun. Seorang pejabat di lingkungan Pemprov Sumbar. Febrian menghampiri saya,
"Bukankah itu bu Fin ?. Anggota DPRD ?
"Benar, kenapa rupanya?"
"Apa hubunganmu dengan dia ?"
"Itu ibu saya". Beliau adik ibu saya !"
Sejak saat itu Febrian jadi akrab bersama saya. Saya sempat beberapa kali main di rumahnya.
Di rumah, beberapa waktu saya menjadi raja. Makan, tidur, makan, tidur. Pernah suatu kali saya ngompol. Ya ngompol. Karena kebiasaan ngompol ini pula saya gagal mengikuti jamnas pramuka tahun 1976 di Sibolangit. Padahal saya aktif di kepramukaan. Latihan Minggu sore di jalan Ismailiyah. Persis di depan sekolah alwashliyah. Saya lupa Gudepnya. Yang saya ingat, ketika jambore ini, saya nimbrung sama rombongan pramuka dari SPG.
Tapi tidak sempat berkemah. Tidak lama saya mendapat tugas rumah tangga. Banyak hikmah yang dapat saya petik. Tugas saya melantai. Pernah suatu kali, selesai melantai Savidriany Idris, Evi ngajak teman temannya bermain. Mulanya di grasi, sesekali mereka masuk ke rumah.  Mana hari hujan. Lantai yang dipel belum kering. Saya hanya bisa menangis dalam hati.
Karena terjadi miskomunikasi, saya bersama kakak harus kembali ke Medan. Karena di Kurai taji ada Buya, ada One kami pamitan. Akhirnya Buya dan One menahan kami.
SMP 3 Pariaman
Karena lokasi rumah dan sekolah tidak jauh, saya berjalan kaki. Setiap hari Buya kasih uang jajan Rp 15. Sudah tersedia di meja kecil dekat kamar Beliau. Rumah itu cukup besar. Rumah itu memanjang. Yang tinggal hanya One dan Buya. One di kamar tengah, Buya di kamar belakang. Saya sendiri di kamar depan.Sebelah kiri. Terhubung langsung dengan ruang tamu. Masuk ke dalam, ruang terbuka kemudian ruang keluarga sebelah kanan, sebelah kiri kamar One,sebelahnya kamar kosong. Kemudian dapur. . Dapurnya sangat luas. Di sebelah kanan, kamar kosong dan di sebelahnya kamar Buya. Sebelah kiri, kamar mandi dan WC. Di dinding kamar kosong ada papan nama yang terbuat dari timah (?). Sa'adah.
Kebiasaan setiap malam selesai magrib, makan malam di atas tikar yang digelar. Kadang di meja makan. Menjelang dan selesai isya, Buya bercerita kisah hidupnya. Pertemanannya dengan Pangsar Sudirman. Presiden Soekarno pernah menjadi sekretarisnya dan lain sebagainya. Kadang Beliau berpantun. Kalau mau sholat shubuh, Buya selalu menggedor pintu kamar saya. Buya tidak akan pergi sebelum pintu kamar dibuka.
"Dek...Dek, Bangun !. Shubuh....Shubuh"
"Iyo Buya"
"Kalau iyo, buka pintu"
"Iyo Buya"
Itulah ujaran setiap pagi untuk membangunkan saya supaya bisa sholat shubuh berjemaah dengan Buya di ruang keluarga. Setiap pagi saya selalu ditunggu. Supaya bisa pergi sekolah bareng. Tuti Sri Rahayu. Dia tinggal bersama tantenya, Bidan Zaitun. Kadang menunggu saya sambil menggendong adik kecil.

1 komentar:

Lady Mia mengatakan...

KABAR BAIK!!!

Nama saya Aris Mia, saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati, karena ada penipuan di mana-mana, mereka akan mengirim dokumen perjanjian palsu untuk Anda dan mereka akan mengatakan tidak ada pembayaran dimuka, tetapi mereka adalah orang-orang iseng, karena mereka kemudian akan meminta untuk pembayaran biaya lisensi dan biaya transfer, sehingga hati-hati dari mereka penipuan Perusahaan Pinjaman.

Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial dan putus asa, saya telah tertipu oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai Tuhan digunakan teman saya yang merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Ibu Cynthia, yang meminjamkan pinjaman tanpa jaminan dari Rp800,000,000 (800 juta) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dan tingkat bunga hanya 2%.

Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya diterapkan, telah dikirim langsung ke rekening bank saya tanpa penundaan.

Karena saya berjanji bahwa saya akan membagikan kabar baik, sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman apapun, silahkan menghubungi dia melalui email nyata: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dan oleh kasih karunia Allah ia tidak akan pernah mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman jika Anda menuruti perintahnya.

Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: ladymia383@gmail.com dan Sety yang memperkenalkan dan bercerita tentang Ibu Cynthia, dia juga mendapat pinjaman baru dari Ibu Cynthia, Anda juga dapat menghubungi dia melalui email-nya: arissetymin@gmail.com sekarang, semua akan saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran pinjaman saya bahwa saya kirim langsung ke rekening mereka bulanan.

Sebuah kata yang cukup untuk bijaksana.

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktops