Lencana Facebook

Minggu, 13 Maret 2011

Ya Raabb

Ya Raabb,
Hari ini aku kembali berbuat dosa
Ketika telinga yang Engkau anugerahi ini mendengar undanganMu
Aku malah dengan sengaja memekakkannya.
Rabb, Ampunilah kesalahanku ini.
Anakku yang bungsu sudah mengingatkan aku
Apakah aku sudah memenuhi panggilanMu ?????????
Aku cuma tersenyum kecut.
Maafkan aku ya Rabb
Ampunilah dosaku yang dengan sengaja aku bangun.
Rabb,
Janganlah Engkau tinggalkan aku dalam kesengsaraan menanggung beban dosa ini
Rabb,
Janganlah Engkau sia-siakan kesungguhan asaku ini
Ya Rabb,
Astaqhfirullah mina lkhataya-Ashtaghfirullah mina lkhataya

Binjai, sudah lewat 1 jam waktu Ashar
13 Maret 2011

Sabtu, 12 Maret 2011

Sejarah Muhamadiyah Kota Binjai*)

Pada tahun 1929 menurut utusan kongres di Solo. Dimulai adanya Muhammadiyah daerah yang sebelumnya disebut Persatuan Muhammadiyah, kemudian diganti dengan kongres kecil daerah kemudian berganti dengan Confrentie Daerah, Tahun 1930 baru ada sebutan Muhammadiyah Daerah Pesisir Timur yang telah terdaftar cabang atau group sebanyak 12 cabang/group. Satu diantaranya adalah Binjai. Bangunnya Muhammadiyah di Binjai adalah atas usaha sdr. Abbas Hasan dengan 11 orang temannya, yang pada mulanya terpaksa menggabungkan diri sebagai anggota Muhammadiyah Cabang Medan. Telah dua kali dicoba untuk membangunkan Muhammadiyah tetapi gagal, barulah tatkala konsul sendiri Hr. M. Said datang ke Binjai yaitu pada tanggal 20 November 1930 resmilah berdirinya ranting Muhammadiyah dengan susunan pengurusnya : Ketua : Abbas Abisin, Penulis : M. Sabirin, Bendahari : Saidi Ibrahim. Pembantu St. Rajo Ameh , Ahmad Adam, Daridin st. Batuah, Muhammad Isa, Malin Kayo Jamil (Kakek Fauzi Arief), A. Manan Gadang , A. Manan Uban, Rabaini, Usman Jamil. Menurut penuturan beberapa tokoh yang sempat direkam pengajian tentang Muhammadiyah sudah ada sejak tahun 1929.
Pada tanggal 9 Mei 1931, menurut pak Kalimin Sunar dalam tulisannya ketika pelaksanaan Sarasehan sehari Sejarah Muhammadiyah Sumatera Utara 22 Juli 1990/29 Zulhijjah 1410H peristiwa ini terjadi tanggal 9 Maret 1931 dimana Jaksa Kerapatan beserta seorang oppas memerintahkan kepada pengurus supaya sekolah Wustha Muhammadiyah ditutup.
Gerak yang dilancarkan terus yaitu membangun sebuah sekolah yang bernama Wusthaschool yang dipimpin saudara Abbas Abisin dan Usman Kamun. Pada tahun 1933 dibuka pula HIS Met De Quran yang dipimpin saudara Sunedi. Dan pada tahun itu juga Binjai menerima kehormatan sebagai tempat konfrensi Muhammadiyah Daerah S. Timur ke VI. Setelah konfrensi itu terasahlah gerak majunya Muhammadiyah dengan beraninya anggota berterang-terang mengakui dirinya anggota Muhammadiyah, tetapi rintangan dan cobaanpun semakin besar, sehingga peristiwa yang tidak dapat dilupakan ialah terbunuhnya seorang pencinta Muhammadiyah oleh seorang yang suka membusuk-busukan Muhammadiyah. Tetapi itupun diterima dengan rasa sabar dan tabah. Pada tahun 1936 atas inisiatip sdr.Sumowidigdo (Asisten Collecteur dan R. Admodipuro Hoofmantri O. R serta jl, dapatlah dibeli sebidang tanah, dan dibentuklah panitia yang diketuai oleh sdr. Admodipuro dan A. Yusuf dan selesai tahun 1937, dan pada tahun 1940 dibuka pula sekolah Tsanawiyah. Gerakan ‘Aisyiyah digerakkan pula atas pimpinan ibu Jamilah, Nursila dan Rasinah dimana telah berhasil mengadakan sekolah menyesal, begitu juga gerakan NA oleh sdr. Ali Amah (alm) dan HW oleh sdr. Harun st. Pamuncak. Zaman pendudukan Jepang Muhammadiyah dipimpin oleh sdr. Rustam Thaib, Izuddin Qadir (orang tua Riswan Rika), A. Manan Sir, A. Gani Arsyad, Baharuddin Ali, Syahbuddin SS dan Alauddin Samah.
Ketika terjadi kegemparan di kalangan umat beragama, khususnya di Binjai disaat mana umat Islam dan umat lainnya, ketika balatentara Jepang mengeluarkan MAKLUMAT memerintahkan sekalian penduduk pada 29 April 1942 berkumpul ke tanah lapang Binjai dan sembahyang menundukkan kepala menghadap ke Timur Laut matahari terbit di mana tempat Istana Kaisar Tenno Heika berada dan bertahta. Peristiwa ini tentu menjadi pembicaraan kaum pergerakan, politisi, cendikiawan dan terutama sekali para pemuka agama, menjadi masalah dan beban mental yang sangat berat khususnya ummat Islam dan umat beragama umumnya.
Dengan peristiwa tersebut menjadi daya pendorong menyadarkan pada semua kalangan masyarakat ,apakah kalangan pergerakan, apakah kalangan politisi, apakah kalangan cendikiawan, terutama sekali para ulama, dan kalanganpara pemuka agama bersatu padu untuk menghadapi tindakan Jepang, untuk saling membantu dan memberikan perlindungan sesamanya, bersama-sama dan bersendal bahu untuk menentang segala bentuk kezaliman walaupun ujung bayonet balatentara Jepang mengancamnya.
Situasi sangat mencekam, ujung bayonet balatentara Jepang terhunus dan mengancam, timbullah peristiwa yang sangat mengharukan pada umat Kristen di Binjai.
Pada saat-saat yang krtitis dan mencekam, umat Kristen yang tergabung dalam HKBP Binjai mendapat kesukaran untuk beribadah menurut agamanya, karena pada waktu itu belum mempunyai tempat peribadatannya (Gereja) sendiri. Semua gedung-gedung sekolah Pemerintah dipergunakan oleh Jepang untuk asrama prajurit balatentara Jepang.
Pendeta Kores Harahap tugas sehari-hari sebagai pendidik dan Guru, di dalam HKBP Binjai sebagai sintuanya, sebagai anggota gerakan di bawah tanah, kesulitan dan kesukaran yang sedang dialamai oleh umat Kristen disampaikan kepada teman teman sejawatnya.
Kesukaran yang sedang dialami oleh umat Kristen Binjai dikarenakan tidak adanya sarana peribadatan, menjadi perhatian tokoh tokoh ulama umat islam dan organisasi Muhammadiyah Cabang Binjai. Muhammadiyah cabang Binjai satu satunya organisasi pada tahun 30-an yang telah mampu membangun dan mendirikan sebuah gedung sekolah dengan swadaya para anggotanya yang terletak di jalan KHA Dahlan Binja. Sesuai dengan pimpinan islam, dengan tulus ikhlas Tahun 1954, Muhammadiyah cabang Binjai membenarkan sekolahnya dipakai untuk peribadatan bagi umat HKBP tiap-tiap Minggu. Peristiwa ini sejalan dengan Pidato Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam malam ta’aruf Muktamar Muhammadiyah di Palembang pada bulan Juli 1956.”….terhadap pemeluk agama lain, terutama Kristen Katholik dan Protestan, dengan kesaksian Al Quran Dan Sabda Nabi Muhammad saw, kami menyebut mereka “AHLI KITAB” orang keturunan Kitab. Jika cita-cita kami menjadi kenyataan yakni tercapai masyarakat islam, kami sebagai Muslim terhitung umat yang fasiq dan zalim kalau kami tidak memberikan perlindungan bagi mereka di dalam keyakinan agamanya……..”.
Ucapan ini menjelaskan kewajiban yang dipikulkan Tuhan atas umat Islam terhadap mereka yang menganut agama Kristen, dan karena itu menjadi kewajiban Muhammadiyah pula. Pada zaman pendudukan Jepang, cita-cita mewujudkan masyarakt islam sebenar benarnya belum ditegaskan, akan tetapi hukum islam yang dijunjung tinggi oleh Muhammadiyah tetap berlaku., demikian juga dalam hal supaya bersikap toleran terhadap penganut agama Kristen.
Peristiwa yang mengharukan ini dijelaskan juga oleh pimpinan HKBP (Huria Kristen Batak Protestan Binjai WC Sutarduga dalam pidatonya diwaktu peresmian Gereja HKBP Binjai pada tahun 1954, yang dihadiri oleh para undangan serta instansi sipil dan militer.
Dengan adanya peristiwa tersebut di atas, tentu saja ada pelakunya. Muhammadiyah cabang Binjai telah meletakkan kerangka landasan terukir di batu prasasti sejarah yang gemilang, bahwa toleransi antar (umat) beragama telah terbina dan terwujud, pada awal tentara Jepang menguasai Nusantara pada tahun 1942
1. Pada tahun 1943 didirikanlah Madrasah Muallimin/Muallimat dipimpin oleh al ustadz A. Halim Hasan, Zainal Arifin Abbas, HM Salim Fachry,T. Usman Husin, A. Rahim Haitamy (alm), Rustam Thaib dan M. Ridwan dengan murid lebih kurang 200 orang. Sekolah tersebut berjalan selama 3 tahun. Pada tahun 1944 anak-anak yatim yang dipelihara PKU diserahkan kepada Al Washliyah.
2. Zaman revolusi kemerdekaan maka sdr. Baharuddin Ali dan Syahbuddin SS mempelopori pembentukan Lasykar Hizbullah dan ustadz A. Halim Hasan dan A. Rahim Haitamy mempelopori Masyumi.
3. Zaman pendudukan sekutu, seluruh harta benda Muhammadiyah dijalan Besar no. 130 dirusakan oleh Poh An Tui (tentera bentukan sekutu), sedangkan pemimpin Muhammadiyah ada yang ditawan (A.Yusuf Husein), ada yang meninggal dalam pengungsian yaitu sdr. A. Rahim Haitamy.
4. Sesudah penyerahan kedaulatan maka gerak Muhammadiyah yang telah kutar-katir itu dipulihkan kembali, di bawah pimpinan saudara Abd. Rahman Yakub, sdr.Baharuddin Syarif/Baharuddin Lebay,pernah sekolah di Mesir dan berperang melawan musuh Mesir saat itu. Terakhit jabatan Brliau adalah rektor IAIN Sumatera Barat dan meninggal ketika mengalami kecelakaan pesawat. Panitia pendirian sekolah dibangunkan, dan tanah untuk perumahannya dapat disediakan dengan sokongan penuh sdr. Patih AR Hajad dan Walikota Ibnu (alm) sedangkan Aisyiyah membangun pula satu panitia konsultatie beurau. Perluasan ranting digerakan terus sehingga pada saat ini cabang Binjai telah mempunyai 4 ranting yaitu 1. Ranting Bahorok 2. Ranting Kb. Lada, 3. Ranting Tanjung Selamat 4. Ranting Selayang
Muhammadiyah dan Kemerdekaan RI
Setelah proklamai kemerdekaan yang diumumkan Soekarno Hatta pada tanggal 17.8.45 hari jumat, jam 10,00 pagi di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, dikota Binjai baru menerima berita proklamasi itu pada tanggal 1syawal 1365 H/6 September 1945 setelah menerima 2 telegram dari Bukit Tinggi yang bersamaan datangnya,
Telegram I dari Jamaluddin Adi Negoro ditujukan kepada al ustadz Abdul Halim Hasan.
Telegram II dari Buya AR Sutan Mansur pimpinan Muhammadiyah Sumatera yang berkedudukan di B. Tinggi ditujukan kepada PCM Binjai, yang diterima oleh Abd. Rahin Haetamy, Malin Kayo dan Yahya Nata.
Pimpinan Muhammadiyah Cabang Binjai terdiri dari al ustadz Abd Rahim Haetamy, Malin Kayo Jamil dan Yahya Nata menerima telegram dari AR Sutan Mansur PP Muhammadiyah Sumatera berkedudukan di Bk. Tinggi pada tangal 6 September 1945 pukul 13.00 wib bertepatan waktunya setelah selesainya umat islam melaksanakan sholat idul fitri 1 syawal 1365 H. Isi kedua buah telegram tersebut bunyinya sama, yang memberitahukan bahwa Indonesia sudah merdeka diumumkan oleh Soekarno Hatta atas nama bangsa Indonesia pada tangal 17 Agustus 1945 di Jakarta dan pemerintahan RI sudah terbentuk. Ir. Sorkarno sebagai Presiden dan Dr. M. Hatta sebagai Wapresnya, di Sumatera Mr. T. M. Hassan telah diangkat dan ditetapkan oleh Presiden sebagai Gubernur Propinsi Sumatera dan Dr. M Amir sebagai wakil gubernurnya, diharapkan agar di kota Binjai dan Langkat untuk menyambut proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 dikibarkan bendera merah putih dan mempersiapkan pembentukan pemerintah RI di kota Binjai dan Langkat.
Persiapan pengibaran bendera merah putih petama di Binjai ; oleh al ustadz H.Abd. Halim Hasan sebagai pimpinan politik ketua majelis islam tinggi (MIT) Binjai, memanggil anggota MIT di binjai yang terdiri;
1. Al ustadz abd. Rahim haitamy
2. Al ustadz Sainal Arifin Abbas
3. H. Abd. Wahab Lubis
4. Malin Kayo M. Jamil
5. A. Yusuf Husin
6. M. yahya Nata
7. M. Husni Marzuki
8. Baharuedin Ali
Setelah diadakan diskusi secara mendalam, mengambil keputusan bahwa pada hari itu juga tanggal 6 September 1945 Bendera Merah Putih harus dikibarkan secara rasmi, lokasi atau tempat pengibaran bendera harus disiapkan. Yang melaksanakan pengibaran bendera merah putih, diinstruksikan kepada muhammadiyah ranting kb. Lada Binjai, yang dapat dituturkan sbb :
a. Menginstruksikan kepada Muhammadiyah ranting kb. Lada Binjai untuk mempersiapkan dan melaksanakan pengibaran bendera merah putih pada hari ini juga tanggal 6 september 1945 pukul 14.30 wib,
b. Lokasi tempat pengibaran bendera merah putih tersebut pertama di Binjai di jalan kebun lada simpang empat sebelah kiri. (sekarang jalan P. Kemerdekaan).
Pengibaran Bendera Merah Putih :
Muhammadiyah ranting kebun lada yang menerima instruksi untuk mempersiapkan pelaksanaan pengibaran bendera merah putih,Sulaiman Saleh sebagai ketua rantingnya beserta teman temannya anggota Muhammadiyah bergerak dengan secepatnya menghimpun para pemuda dan masyarakat di kampung Kb. Lada dan sekitarnya yang terdiri dari :
1. M. Yahya Nata
2. Suleiman Saleh
3. M.Saad Amin
4. M. Thaib Jamil
5. H. Ibrahim
6. Abd. Jalil
7. H. Ibrahim
8. M. Salim
9. M. Mabil Lubis
10. M. Adam Lubis
11. Abdul Muthalib
12. M. Abbas
13. M. Husin
14. M. Husin Aceh
15. Abd. Latief
16. M. Sani
17. Udin S
18. Ahmad Sayuti
19. Hasan Usman
20. Samiun Idris
21. Abd. Malik
22. Imong
23. Bachtiar
24. Abd. Rahman
25. Abd. Manan Malik
26. Paino
27. Khairuddin
28. Radiman
29. Sukirno
30. M. Idris



Pimpinan upacara pengibaran bendera merah putih pertama di Binjai dipimpin langsung oleh Abd. Rahim Haetamy Pimpinan Muhammadiyah Cabang Binjai.
Berkibarlah bendera merah putih pertama kali di Kebun Lada, karena sulitnya kain pada waktu itu diambillah kain sarung bantal kepunyaan Sulaiman Saleh dan dijahitkan oleh ibu Ugik kebetulan berwarna merah putuh meskipun kurang sempurna warnanya, berkibarlah bendera merah putih di Simpang Empat Kebun Lada. 30 0rang di atas, kemudian mengarak bendera merah putih ini ke kota Binjai dan ditegakkanlah di tiang gol lapangan kota Binjai.
Berita pengibaran bendera merah putih yang pertama di kota Binjai, akhrinya tersebar luas ke tengah tengah masyrakat kota Binjai,disambut dengan rasa sangat gembira sehingga membakar semangat masyarakatnya. Masyarakat kota binjai dan sekitarnya yang dipelopori dan dikordinir oleh M Husin Nasution seorang politikus dan guru HIS, Joko Sungkono guru Tamsis dan raja Anwar Johan pegawai gun sei bu yang mempersiapkan pengibaran bendera merah putih pada esok harinya 7 september 1945 di tanah lapang Binjai.. Dan esok harinya 7.9.1945 atas dorongan sdr. M. Nasib nst bersama sama dengan guru taman siswa dan tokoh tokoh masyarakat Binjai dikibarkan pula bendera merah putih di tanah lapang Binjai Lokasi atau tempat pengibarannya di sudut tanah lapang Binjai yaitu sekarang di samping sudut kiri markas kantor dandim 0203 Langkat Binjai, dan di atas mercu air di atas pusat kota Binjai.
Setelah penyerahan kedaulatan negara RI maka gerak Muhammadiyah yang telah mandeg itu dipulihkan kembali dibawah pimpinan A, Rahman Yakub dan Baharuddin Syarif (Baharuddin Labay). Perluasan ranting digerakan sehingga ranting Muhammadiyah menjadi cabang karena telah mempunyai ranting 4 buah yaitu : ranting bahorok, ranting kb. Lada, ranting tanjung selamat dan ranting selayang dan akhirnya Muhammaiyah berkembang mulai dari Bahorok sampai ke Besitang dan Pangkalan Susu dan Pimpinan Muhammadiyah kab. Langkat dan kota Binjai mempunyai 8 cabang dan 50 ranting.
Sejak tahun 1967 , di jajaran PWM SU sudah ada 12 PDM termasuk satu diantaranya adalah Langkat/Binjai yang diketuai oleh Bachtiar Hasan. Periode ini 1968-1971. Darul arqam I tingkat wilayah diadakan 15-29 Agustus 1970 di kompleks Muhammadiyah cabang Kp. Dadap dari PDM Binjai/Langkat utusannya adalah Baharuddin Sukemi dan Taufiq Rahman Ya’cub.
Usai Muktamar Muhammadiyah ke 38 tahun 1971 di Ujung Pandang, maka Muhammadiyah Sumatera Utara melaksanakan Musyawarah ke-4 tanggal 25-27 Desember 1971 bertempat dikompleks Muhammadiyah Cabang Binjai jalan KHA Dahlan Binjai.
Musyawarah Muhammadiyah ke-4 ini dinilai lebih semarak dibandingkan dengan Musyawarah Wilayah I (Medan), II (Belawan) dan III (Padang Sidempuan). Pembukaannya diadakan di gedung bioskop RIA Binjai yang dihadiri oleh para pejabat tingkat I Sumatera Utara dan tingkat II Binjai/Langkat. Dari PP Muhammadiyah hadir Drs. M. Djasman.
Periode 1971-1974 Bachtiar Hasan masih dipercaya menjabat ketua PDM Langkat/Binjai,
PMD Langkat Binjai periode 75-78
Ketua : Arief Jamil
: Bachtiar Hasan
: M. Zein
: Abd. Razak
PMD Langkat Binjai peride 78-85
Ketua : Harmaini
Wakil : M. Zein
Wakil : M. Zeis Parinduri
Wakil : Taufiq Rahman
Sekretaris : Dasril Suar
Wakil : Yunis Anwar
Bendahara : Nurdin Harun
Anggota : Ismail Haryono
Tua Pohan
PDM Langkat Binjai 1985-1990 Berdasarkan SK PP M No. A-2/SKD/472/8590 yang ditanda tangani M. Djindar Tamimy dan M. Asriani Asdinardju tanggal 18.02.1990/22 .7.1410..
Ketua : Bachtiar Hasan
: Taufiq Rahman
: Dr. H. Zulkarnaen Tala
Drs. Ali Afsar
Nurdin Harun
As Adinata
Dasril Suar
Supriadi Hs. Basri
Drs. H. Abd. Kholik
A. Mukhtar Nst
M.Z Parinduri BA
Dari SK di atas terpilih susunan selengkapnya :
Ketua : Bachtiar Hasan
Wakil Ketua I : Nurdin Harun
Wak Ketua II : Mukhtar Nst BA
W. Ketua III : dr. Zulkarnaen Tala
Sekretarus : As Adinata
Wk Sekr I : Muchtar BS
Wk Sekr II : Drs. Ali Afsar
Bendahara : Drs. A. Kholiq
Wk. Bend/ : Supriady Hs Basri
Anggota : Taufiq Rahman,
MZ Parinduri
Dasril Suar,
Ismail Haryomo
dan T, Syukri Muli
SK ini berdasarkan hasil Musyda II Muhammadiyah K. Binjai 10-11 Maret 1990 di P.Brandan ditanda tangani oleh Bachtiar Hasan dan As Adinata
Sejak bulan Pebruari 1990 atas kesepakatan dalam Musyda Muhammadiyah pada januari 1990 di Pangkalan Berandan terjadilah pemekaran daerah Langkat dan Binjai dengan keluarnya SK PP Muhammadiyah no : A-2/SKD/471/8590 tanggal 27 Rajab 1410 H/18Pebruari 1990.
1. Pimpinan Daerah Muhammadiyah kab, langkat berkedudukan di Stabat
2. Pimpinan Daerah Binjai berkedudukan di Bimjai
PDM Binjai 1995-2000 berdasarkan SK PP M No. A-2/SKD/090/9500 tanggal 11.05.1996/23.12.1416 H hasil musyda yang berlangsung 25-27.10.1416/14-17.03.1996
Ketua : Anwar Haetamy
Anggota : T. Syukry Muly
Drs. Yunizar Noor, MPd
Zainal Abidin
Drs. A, Khaliq Ar Raya
As Adinata
Drs. Fuad Afsar
H. Nurdin Harun
Sufriady Hs Basri
Abdur Rahman Ayun
Ilham Khairi BA
Drs. ThamrinAriadhie
Ishaq Sutrisno
Serah terima dengan pengurus sebelumnya dilaksanakan 26.02.1417 H/12.07.1996 di Pendopo Umar Baki disaksikan Bachtiar Ibrahim dari Wilayah, Bachtiar Hasan PDM Lama dan As Adinata PDM Baru.
PDM Binjai 1991-1995 berdasarkan SK PP No. A-2/SKD/106/9195 yang ditanda tangani oleh HA Azhar Basyir MA dan Dr. HA Watik Pratiknya tanggal 23-10-1991/15.04.1412
Ketua : Taufiq Rahman
WakilKetua I : Drs. Ali Afsar
Wakil Ket II : Supriady Hs Basri
Wakil Ket III : As Adinata
Sekretaris : Ilham Khairi
Wak. Sek : Drs. Yundiser
Wak. Sek : Abd. Qodir
Bendahara : Drs. Abd. Kholiq
Anggota : Bachtiar Hasan
Nurdin Harun
A.Mukhtar Nst BA
Drs. Ismail Haryomo
Drs. A. Khaliq Ar Raya
PDM Binjai 2000-2005
Ketua ; As Adinata
Wakil : Nurdin Harun
Wakil : Supriady Hs Basri
Sekretaris : Dasril Suar
Wakil : Fuad
Wakil : Sujarno
Bendahara : Baharuddin AR/Sujarno
Anggota : Ilham Khairi
Khaliq Ar Raya
Demikianlah sejarah singkat perkembangan Muhammadiyah ini.

+) Disampaikan dalam Seminar Sejarah Muhammadiyah Kota Binjai, Minggu 27-02-2011

Sabtu, 15 Januari 2011

Agama, Bahasa Perdamaian

Begitu banyak kekerasan yang terjadi di antara umat beragama. Misalnya, ratusan orang menyerang jemaat Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pondok Indah Timur di Bekasi, beberapa waktu lalu. Mereka menyerbu dan memukul jemaat hingga jatuh korban [baca: Ketua FPI Bekasi Raya Jadi Terdakwa].

Perdamaian dalam pluralisme beragama seakan hanya berada di dalam angan-angan. Kekerasan umat beragama yang marak terjadi belakangan ini boleh jadi ada lantaran minimnya toleransi antar umat beragama. Sejatinya, agama hadir di tengah masyarakat sebagai bentuk lain dari bahasa perdamaian atau bahasa kasih. Persoalan inilah yang coba diangkat dalam Barometer bertajuk Agama, Bahasa Damai.

Dalam kesempatan ini, SCTV berkesempatan berdialog khusus dengan Ketua PP Muhamadiyah Din Syamsudin, perwakilan Dewan Nasional Gereja Amerika Serikat Michael Livingston, dan tokoh Yahudi SID Schwarz, di Washington, AS. Dialog tersebut membahas kekerasan serta toleransi dalam umat beragama.

Menurut Schwarz, kekerasan dalam agama samawi bermula dari Perang Dingin yang berlangsung selama abad ke-20. Setelah itu, kekuatan etnis dan agama yang menyesatkan dari belahan dunia mulai bermunculan dalam skala besar. Intinya, kekerasan timbul ketika ada pelecehan arti Tuhan.

Din tak sependapat denngan Schwarz. "Kekerasan menurut saya adalah penyalahgunaan. Bukan pelecehan terhadap suatu agama. Banyak agama, terutama Islam, tidak mengajarkan kekerasan. Dan, kekerasan tidak memiliki akar dalam agama. Jadi, kekerasan timbul dari salah interpretasi atas agama," kata Din.

Dalam agama, tak dapat dipungkiri ada ajaran yang memungkinkan terjadinya konflik. Tapi, agama bukan didesain untuk perang. Karena pesan mendasar dari sebuah agama adalah damai dan pengampunan. Perbedaan bukanlah hal yang buruk, yang penting menghargai ketidaksamaan itu.

Agama berangkat dari perbedaan. Lantas, bagaimana menyebarkan pesan agama adalah bahasa perdamaian? "Jika kita bisa melampaui permukaan agama-agama, kita akan tahu arti sebenarnya sebagai misi perdamaian. Sekali lagi, ajaran semua agama pada dasarnya sama. Kasih terhadap sesama," ujar Schwarz.

Bagi tokoh Yahudi ini, jika kaumnya bersama Islam dan Kristen berbicara dalam bahasa yang sama, hal itulah yang bisa disebut melewati perbedaan di permukaan yang ada. Ia pun tak menyukai dunia yang homogen. Karena yang terpenting adalah menghargai fakta yang berbeda tapi kita dapat saling berinteraksi.

Din teringat dengan ajaran Nabi Ibrahim tentang pengorbanan dan kurban yang mengirimkan pesan berdimensi vertikal. Jika komunikasi antara manusia berjalan baik, ia dapat menjamin interaksi seseorang dengan Tuhannya pun bisa dibilang mulus. "Sebagai orang beriman, seharusnya kita tidak punya masalah dengan umat lain. Masalah kita jelas ada pada hal-hal berbau kemanusiaan, kemiskinan, buta huruf, dan ketidakadilan," ujar Din

Sabtu, 08 Januari 2011

Puisi Negri Bedebah

Puisi Negeri Para Bedebah
Karya:Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Selasa, 04 Januari 2011

Oedin dan Muhammadiyah














ketr. Gambar: Buya menghadiri Muktamar Muhammadiyah di Jakarta. Sumber foto Majalah Suara Muhammadiyah no. 22 tahun 2011.
Tidak ada seorangpun diantara keluarga yang mempunyai firasat bahwa kelak Buya Udin yang lahir dibulan Agustus 1907 kelak menjadi salah seorang perintis dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia sesuai surat keputusan yang ditantangani oleh Menteri Sosial melalui surat No. Pol. 003/07.P.K.Djakarta 15 Agustus 1967 ditetapkan sebagai Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan yang dapat disebut sejajar dengan HR Rasuna Said, Chatib Suleiman, HAMKA dan pejuang lainnya dari daerah Minangkabau. Ibunya Raalin hanya pengurus Aisyiyah. Demikian juga mertua perempuannya Ramalat, juga hanya pengurus Aisyiyah. Bahkan Ramalat pernah sampai ke Aceh Utara berkeliling dalam rangka menghimpun dana pembangunan gedung sekolah “Meisyes Volkschool Aisyiyah (Sekolah rakyat untuk gadis-gadis”. Bahkan buya HAMKA sendiri mengakui secara jantan bahwa dibanding Beliau, Buya Oedin lebih unggul. Pernyataan jujur ini beliau kemukakan dalam sepucuk surat Beliau kepada Asdie Oedin, putra ke lima buya Udin yang pernah menjadi orang nomor dua di UPPINDO (Usaha Pembiayaan Pembangunan Indonesia) atau IDFC yang belakangan menjadi Bank UPPINDO. Berikut adalah surat lengkap buya HAMKA yang ditujukan kepada putra ke lima buya Udin, Asdie Oedin.
Buya HAMKA Kebayoran Baru, 8 Shafar 1382 H/11 Juli 1962
Ananda sayang Asdi Udin
SMA Negeri Pariaman,
Sudah agak lama surat ananda Buya terima, baru sekarang dapat membalasnya. Ingin segera Buya membalas, tetapi maafkanlah Buya, Buya sibuk benar, mana mengarang, mana membaca, mentelaah, manapula mengaji dan mengaji. Besar hati Buya mendengar kemajuan anada dalam belajar agar nasib kalian anak-anak kami jauh lebih baik dari pada kami,Buya-Buya kalian.
Buyamu itu, Angku Udin menurut istilah orang Pariaman ialah “Sikanduang Buya”, sesakit sesenang, sehina semalu, seperasaan sepemandangan, satu pandangan hidup (way of life). Meskipun hubungan surat menyurat diantara kami amat jarang, namun hubungan bathin tidak pernah putus. Belum lahir kalian ke dunia kami sudah berdunsanak dengan dia ialah tahun 1929. Ketika Buya datang melantik Muhammadiyah Kuraitaji bertempat di pasar Pariaman. Modal kamipun sama yaitu :
“Tarahok tali alang-alang/Cabiak karate tantang bingkai/Hiduik nan jangan mangapalng/Tak kayo barani pakai…………
Khabaraja konon sakatik. Buya si Adie itu masuk hutan, kalau dia bacakap,mahota dengan kawan-kawan yang lain, seumpama dengan sdr. Syarif Usman, selalu Buya ini menjadi buah mulut mereka. Kami kalau sudah duduk bertiga tiga, yaitu Buya Udin, Buya ZAS, Buya HAMKA, kami selalu bernyanyi, berlagu Pariaman, berlagu baruh (Serantih), dan pernah kami menangis tersedu-sedu di pengaruhi keindahan alam di Padang Panjang, karena kami melihat panas pagi pukul 09 dari halaman sekolah Muhammadiyah Guguk Malintang, menengadah ke arah Bukit Tui.
Buyamu itu dahulu agak pereman, Buya ZAS tidak manantu pelajarannya di Thawalib, dan Buya Hamka sendiripun sekolah tidak tammat. Tetapi kami mendapat didikan dari guru kami, Buya AR St, Mansur. Beliaulah yang menimbulkan dan membuntangkan naik kepribadian kami, sehingga kami layak menjadi pemimpin kemajuan ummat di Minang dengn perantaraan Muhammadiyah. Niscaya kalian sekarang mendapati hal yang lebih baik dari pada kami. Sebab kalian sudah sekolah, sekolahmu sendiri di SMA kalau di zaman dahulu sama dengan HBS atau AMS. Maka hendaklah kalian lebih berbahagia dari kami dan lebih maju dari kami. Sedangkan kami yang hanya dengan modal keberanian lagi sanggup, apatah lagi kalian dengan modal ilmu pengetahuan yang cukup.
Dan kalau ditimbang-timbang lagi diantara kami, Buya Udin jauh lebih HEBAT dari Buya HAMKA. Ini bukan ambia muko, tetapi penilaian secara jujur, Sebab Buya HAMKA buliah juo lai. Buya HAMKA anak Dr dan ipar konsul (AR St. Mansur), jadi masih ada dasar, padahal Buya Udin modalnya hanyalah dirinya sendiri, akhirnya dapat dicapainya pangkat Bupati klas I dan bersahabat dengan orang besar-besar, didengar orang bicaranya,diminta orang pertimbangannya, dan suatu hal yang kusut, betapapun kusutnya, kalau Buya Udin campur tangan, sebentar saja beres.
Di tahun 1957 (sebelum bergolak) beliau ada datang ke Jakarta, berbuka puasa di rumah Buya di Kebayoran, ketika itu rambutnya sudah banyak yang putih. Bagaimana sekarang, Buya belum tahu. Tetapi sudah terang sebagai buya HAMKA juga, sudah sama-sama mulai patut disebut tua, walaupun kami belum mau menyerah.
Bagaimana ummi kalian, bagaimana adik adik asdi, bagamana keadaan kampong. Berilah Buya khabar. Sudah bolehlah pemuda-pemuda aktif bergerak seumpama dalam PII atau Pemuda Muhammadiyah ?.
Pertanyaan yang ananda kemukakan untuk Gema Islam, ada diperlihatkan kepada Redaksi kepada Buya, ah, terlalu tinggi, mengenai jiwa ke jiwa saja. Payah orang menjawabnya barangkali.
Salam Buya buat Buya Udin itu. Tentu beliau tetap di Kuraitaj, di kampung. Barangkali Asdi pulang sekolah, terus kembali ke Kuraitaji, bukan ?
Salam Buya ;
HAMKA
Dalam buku Muhammadiyah di di Minangkabau tulisan buya HAMKA, beliau menulis antara lain “……………Udin salah seorang anak Kuraitaji yang tidak pernah mengecap bangku pendidikan akhirnya dapat menjadi Bupati……”. Kenapa buya Udin diunggulkan oleh buya HAMKA, hal ini dapat disimpulkan dari surat buya HAMKA keputra kelima buya Udin seperti “……………..dan kalau ditimbang-timbang lagi diantara kami, Buya Udin jauh lebih HEBAT dari Buya HAMKA. Ini bukan ambia muko, tetapi penilaian secara jujur, Sebab Buya HAMKA buliah juo lai. Buya HAMKA anak Dr dan ipar konsul (AR St. Mansur), jadi masih ada dasar, padahal Buya Udin modalnya hanyalah dirinya sendiri, akhirnya dapat dicapainya pangkat Bupati klas I dan bersahabat dengan orang besar-besar, didengar orang bicaranya,diminta orang pertimbangannya, dan suatu hal yang kusut, betapapun kusutnya, kalau Buya Udin campur tangan, sebentar saja beres”.
Masa remaja buya Udin dihabiskan di Kuraitaji, suatu daerah di sebelah Selatan kota administrative Pariaman. Sebagaimana remaja-remaja umunya, Buya Udin termasuk remaja yang bagak dan agak nakal. Kenakalan beliau, seperti sering mengadu ayam dan tertawa puas setelah melihat ayam yang diadu kelelahan dan ngos-ngosan. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, berkat didikan dan arahan orang-orang tua termasuk didikan buya AR S. Mansur, kebiasaan buruk itu dapat beliau tinggalkan sama sekali. Dalam didikan buya AR S. Mansur, kepribadian buya Udin terasah dan terarah. Bakat kepemimpinan beliau semakin nyata karena kakek buya Udin sendiri bekas seorang Upalo Uban, setingkat kepala kampung sekarang.
Dalam hal ini buya Udin mengatakan “………..baik rasanya saya terangkan, bahwa saya tidak seorang ulama, saya hanya anak pimpinan dari orangtua saya AR S. Mansur selama 9 tahun di P. Panjang”’. Jelas bahwa melalui didikan dan arahan buya AR. S. Mansur, buya Udin mampu menjadi orang yang kalau ngomong, omongannya senantiasa diperhatikan. Bagi beliau, tidak ada kusut yang tidak bisa diperbaiki, artinya semua masalah dapat diselesaikan secara baik dan dengan berharap Redha-Nya, insya allah, semua akan berjalan baik dan benar.
Dari uraian di atas, tak pelak bahwa buya Udin memang telah ditaqdirkan buat berpijak dan berjuang dibawah panji Muhammadiyah. Karena beliau menyadari sekali bahwa peranan Muhammadiyah sangat besar dalam hidup beliau. Muhammadiyahlah yang mengarahkan Beliau ke jalan yang baik, mengarahkan dan mengajarkan kepada Beliau bahwa perbuatan mengadu ayam dan lain sebagainya adalah perbuatan buruk, perbuatan sia-sia dan melahirkan dosa, dibenci Allah swt. Beliau menyadari betul hal tersebut, sampai-sampai Beliau sendiri memintakan kepada isterinya, One Rafiah Jaafar untuk senantiasa turut mendoakan kesalahan dan kealpaan Beliau semasa muda yang bagak dan tidak bakatantuan.
Buya Udin yang menikah untuk pertama kalinya dengan Mayang Sani, dikaruniai seorang puteri bernama Nur’ani. Perkawinan ini tidak berumur panjang dan keduanya berpisah secara baik-baik. Buya Udin yang mengenyam bangku pendidilan cuma sampai SR kelas 2 disebabkan kesulitan perekonomian turun tangan membantu orangtuanya berjualan nasi di Jambi. Tidak itu, Beliaupun pernah bekerja pada orang menggali atau India dalam kapal dagang antar pulau. Dengan kapal itu pula, Beliau pernah menjejakan kakinya di Singapura.
Sewaktu berada di Jambi, Persatuan Muhammadiyah Daerah Minangkabau melamar ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Yogya, agar kongres Muhammadiyah XIX tahun 1930 diadakan di Minangkabau. Lamaran Persatuan Daerah Minangkabau dapat sambutan hangat dari Pengurus Besar Muhammadiyah di Yogya. Karena Minangkabau akan mengadakan perhelatan besar dengan ditunjuknya jadi tuan rumah Kongres atau setingkat Muktamar sekarang, maka buya Udin yang sudah kental kemuhammadiyahannya, dihimbau pulang oleh buya Engku Haroun L Maaniy. Buya Udin yang saat itu sudah duda, berperan aktif dalam kongres ke-19 Muhammadiyah di Bukittinggi. Hal ini terbukti dari realisasi dari hasil kongres tersebut, diadakannya konprensi Muhammadiyah ke-5 di Payakumbuh, pada tanggal 13-16 juni 1930. Hasil dari konprensi Muhammadiyah ke-5 tersebut adalah dibubarkannya persatuan Muhammadiyah Daerah Minangkabau dan menetapkan pengurus baru Muhammadiyah Sumatera Tengah dengan struktur kepemimpinan sebagai berikut : Konsul : Buya AR ST Mansur. Sekretaris Abdullah Kamil, wakil sekertaris merangkap Bendahara adalah RT Dt.Sinaro panjang dengan anggota SY Sutan Mangkuto, Oedin, Ya’coeb Rasyid dan Marzuki Yatim. Setahun sebelum itu, Oedin bersama-sama dengan H. Sd. M.Ilyas, HM.Noer, H.Haroun L Ma’any, M.Luthan dan lain-lain, mempelopori berdirinya Muhammadiyah di kurai taji yang resmi berdiri pada 25-10-1929. Muhammadiyah Kuraitaji adalah Muhammadiyah ke tiga setelah Bukittinngi dan Padangpanjang. Masuknya Muhammadiyah ke Kuraitaji dibawa langsung oleh putera daerah Kuraitaji sendiri yang sebelumnya sengaja pergi ke Yogyakarta untuk mempelajari Muhammadiyah itu. Beliau adalah H. Sd. M. Ilyas adik ipar Buya Udin. H. Sd. M. Ilyas sendiri adalah bapak mertua Dr. H. Tarmizi Taher yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama. Setelah konprensi Muhammadiyah, kesibukan Buya Oedin bertambah-tambah, yaitu dengan ‘turbanya’ beliau ke daerah-daerah yang akan mendirikan Muhammadiyah. Antara lain bersama dengan M.Luth Hasan beliau memberikan petunjuk kepada Syarah Jamil dkk, untuk mendirikan Muhammadiyah sampai diresmikannya, yaitu di Koto tinggi daerah Pakandangan.
Di daerah Sei. Sarik Malay berdirinya Muhammadiyah agak unik. Beginilah ceritanya. Pada suatu hari dalam tahun 1935 telah ada kata sepakat antara para anggota Muhammadiyah yang berasal dari negeri Sei. Sarik Malai untuk mendirikan ranting Muhammadiyah di situ, maka diambil kata persetujuan, bahwa dari pimpinan cabang Muhammadiyah Kuraitaji yang akan datang ke situ ialah Engku Oedin dan Muhammad Luth Hasan. Demikianlah, pada hari yang ditentukan diberangkatkan dari Kuraitaji dengan naik kuda bendi kepunyaan almarhum Ajo Kundang. Menjelang waktu maqrib, mereka sampai di Sei.Sarik Malai dan kuda diberhentikan dimuka rumah alm. Bang Bisu, salah seorang propaganda/sponsor di situ.
Rupanya kedatangan bendi yang membawa Engku Oedin dan temannya Luth Hasan ini sudah dinanti-nanti oleh beberapa orang ninik mamak negari Malai V Suku di Sei. Sarik Malai itu. Tak lama setelah kuda dibuka dari pasangannya, terjadilah dialoq antara ninik mamak itu dengan engku Oedin, sekitar kedatangan Beliau kesitu untuk sengaja mendirikan Muhammadiyah atas permintaan kawan-kawan yang sudah menjadi anggota di situ. Secara tegas dari pihak ninik mamak dijelaskan kepada Engku Oedin bahwa Muhammadiyah tidak boleh didirikan di negari Sei. Sarik Malai itu. Terhadap pendirian ini, mula-mula engku Oedin menerimanya secara tenang saja, dengan ucapannya :”Kalaulah engku ninik mamak di sini yang telah menentukan bahwa Muhammadiyah tak boleh didirikan di sini, ya apa boleh buat”. “Kami tentunya menghargai pendirian ninik mamak itu”.Kata Engku Oedin.
Tapi, rupanya ninik mamak itu meningkatkan pembicaraan kepada masalah bermalam di rumah bang Bisu, yang juga dilarang oleh ninik mamak itu. Mendengar larangan itu dan ditambah lagi dengan katanya kuda bendi harus dipasang kembali dan rombongan harus kembali sekarang juga, maka engku Oedin menyambut sikap ninik mamak itu dengan berkata : “Kalau itu yang engku-engku ninik mamak perintahkan kepada kami, iya mungkin tidak dapat kami penuhi, cobalah pikirkan, baru sebentar ini kami sampai di sini dalam perjalanan yang tidak kurang 30 km jaraknya, baru saja kuda kami dibuka dari pasangan bendi, belum ini kering keringatnya yang tadi, sekarang akan harus kami pasang kembali, iko rasonyo barek bagi kami”. “Adapun kalau kami tidak dibenarkan menumpang semalam di rumah engku abang Bisu ini, bawalah kami oleh ninik mamak kemana saja yang disenangi untuk tempat tidur semalam ini. Turut bermalam di rumah engku ninik mamakpun kami setuju asal kami tidak disuruh kembali sekarang juga ke kurai taji”. Dengan perkataan engku Oedin itu, menurunlah ketegangan ninik mamak kemudian keluarlah keputusan dari beliau-beliau itu dengan katanya, “Nah, kalau begitu baiklah, engku engku yang datang dari kurai taji ini kami benarkan juga bermalam di sini, di rumah bang Bisu ini, namun untuk mengadakan acara mendirikan Muhammadiyah dalam pertemuan orang ramai tidak dapat kami benarkan. Nanti malam setelah selesai makan minum dan sholat isya semua harus tidur dan lampu dipadamkan.
Setelah berakhir pembicaraaan itu maka ninik mamak itu sama duduk di serambi muka dan kawan kawan dari Muhammadiyah bersama engku Oedin dan M. Luth Hasan masuk ke rumah untuk beristirahat. Selanjutnya setelah selesai minum makan dan sholat Isya, sesuai dengan pembicaraan sore tadi Oedin memerlukan menemui ninik mamak itu yang masih menanti di ruang muka. Engku Oedin memulai pembicaraan, “Angku angku ninik mamak kami sesuai pembicaraan tadi sore, kami telah selesai sholat isya, minum dan makan. Kini kami akan tidur dan mematikan lampu, tapi kami lihat ninik mamak kami masih duduk dimuka, tentu tidak berani kami mematikan lampu”, Mendengar sindiran halus itu, spomtan beliau beliau itu menjawab “Yo, baiklah matikan lampu dan kami segera berangkat”. Setelah beliau beliau itu berangkart dan semua kawan kawan di dalam rumah mengambil posisi masing masing untuk tidur maka lampupun dimatikan. Namun apa yang terjadi setelah lampu dimatikan. Dengan suara agak berbisik engu Oedin menyampaikan kepada semua yang hadir yang jumlahnya sekitar 18 orang. “Nah saudarara saudarakan sudah sama mendengarkan pembicaraan dengan ninik mamak tadi bahwa Muhammadiyah tidak boleh didirikan di negari kito, Sei. Sarik Malai ini, kan ?” Salanjuiknya, baa jo kita ?, Iyo indak akan jadi mandirikan Muhamadiyah di negari kito ko ?. Spontan kawan-kawan yang hadir dalam tidur itu menyatakan : “Oooooo indak engku Oedin !, nan Muhammadiyah di negari kito ko, kito dirikan juo”. Kudian diituang parakaro !”. Engku Oedin menyahuti : “Iyo, kini bulek kato kito tu ?” Kok kabukik samo mandaki, kok ka lurah sama manuruni ?”. “Iyo….!, Jawab mereka serentak.
Engku Oedin mengetuk lantai rumah yang terbuat dari papan itu sampai tiga kali, persis dalam rapat resmi Muhammadiyah, menetapkan satu keputusan. Kemudian beliau menyambung, “esok pagi, kami akan kembali ke kuraitaji, sepeninggal kami naikkan plank merk Muhammadiyah Sei. Sarik Malai di muka rumah ini.”Siapa nanti yang menurunkan, itulah lawan kita. Bagaimana perkara selanjutnya, akan kita urus……..”. Demikianlah, kembali dari Sei. Sarik Malai di pagi itu bendi dikelokkan ke pekarangan rumah tuan kontler di Pariaman yang saat itu tuan kontlernya tuan Kator, seorang pejabat pemerintah Belanda yang cukup ramah dan kenal baik dengan Engku Oedin.
Melihat ada bendi di pagi itu masuk ke pekarangan rumahnya, tuan Kator sengaja keluar untuk memperhatikan siapa tamu yang datang, setelah tampak olehnya di atas bendi itu Engku Oedin dan M Luth Hasan dari pimpinan cabang Muhammadiyah Kurai taji yang telah beliau kenal. Beliau duluan menegur : “Hai, Engku Oedin !, kok masih pagi, sudah datang ke mari, ada apa gerangan ?”. Engku Oedin menjawab, ;”Iyo tuan, iko kabar baik saja, ada satu peristiwa tadi malam di sei. Sarik malai-wilayah asisten demang Sei. Limau yang perlu segera saya sampaikan kepada tuan”.”Baiklah” kata beliau, “mari kita duduk di serambi rumah, hari masih pagi, tak usah di kantor”.

Setelah mereka sama duduk di serambi rumah tuan kontler itu, maka engku Oedin menceritakan sebuah peristiwa yang terjadi kemaren itu dan akhirnya juga menceritakan bahwa Muhammadiyah sei. Sarik Malai sudah berdiri, tadi malam juga dalam kami tertidur tanpa cahaya lampu, sudah ditokokan palu tanda sahnya keputusan berdirinya Muhammadiyah itu sepeninggal saya. Sekarang terserah tuan. Mendengar cerita engku Oedin itu, tuan kontler berkata, “Ninik mamak Sei. Sarik Malai melarang berdirinya Muhammadiyah ?”, “Sedangkan untuk Muhammadiyah itu bagi wilayah Hindia seluruhnya telah diberi izin oleh Gubernur Jenderal, Wakil Kerajaan Belanda di sini”. “Tapi, biarlah engku Oedin, saya akan menyelesaikan masalah ini dengan beliau ninik mamak Sei.Sarik Malai itu, engku Oedin terima selasainya”.”Dalam mnggu ini juga, akan saya panggil semua ninik mamak Sei. Sarik Malai itu menghadap saya”
Keesokan harinya, tuan kontler Kator itu menelepon ke kantor Asisten Demang di Sei. Limau dan memerintahkan agar Asisten demang memanggil semua ninik mamak Sei. Sarik Malai agar hadir di kantor asisten Demang Sei. Limau pada hari Minggu di pekan itu juga, (dijelaskan, dalam masa pemerintahan Belanda untuk wilayah ke-Asistenan Demang Sei. Limau (asisten distrik) kantor keresidenan itu tetap dibuka di hari Minggu, ialah untuk memudahkan pegawai-pegawai negeri dari negari-negari yang berada di I sekitarnya berurusan ke kantor demang, sebab hari minggu itu adalah hari pekan pasar Sei. Limau dan ada kenderaan bendi yang dapat ditumpangi untuk hari itu.
Pada hari Minggu yang ditentukan, pagi hari Ninik mamak sei, sarik malai sudah hadir di kantor asisten demang Sei. Limau untuk menanti kedatangan kontler dari Pariaman. Kira kira sekitar jam 09.00 pagi, tuan kontler datang dan langsung masuk ke serambi muka kantor asisten demang dan melihat ada ninik mamak sei.sarik malai telah siap menanti di serambi muka kantor itu. Sambil berjalan naik dan masuk ke kantor di mana asisten demang menantinya, tuan kontler itu berucap sambil menoleh kepada ninik mamak yang sedang duduk :”He, ninik mamak Sei. Sarik Malai yang Melarang berdirinya Muhamadiyah itu sudah datang semua ya ?”. Beliau terus masuk ke dalam kantor Asisten Demang. Kira-kira 15 menit kemudian keluar dan duduk menghadap ninik mamak sei. Sarik Malai yang sudah gelisah. Setelah beliau duduk maka menunjuklah Kepala negari Sei. Sarik Malai yang sekaligus sebagai pimpinan rombongan, sebagai isyarat minta izin untuk berbicara. Melihat itu, tuan kontler mengangguk mempersilahkan kepala negari untuk berbicara. “Tuan, saya minta bicara lebih dulu kepada tuan dan saya mohon maaf jika bicara saya ini salah. Tuan tadi sambil naik dan masuk ke kantor ini mengatakan, Kami ninik mamak sei. Sarik malai melarang berdirinya Muhammadiyah” Itu salah tuan. Muhammadiyah telah berdiri di sei. Sarik malai. Lihatlsah oleh tuan ke situ, plank merknya telah pula di naikkan”. “jadi kemungkinan orang beri laporan salah pada tuan”. “Heh, benarkah begitu ?” Tuan Kontler, bertanya pura-pura terkejut. “Kalau begitu benarlah salah laporan yang saya terima. Dan inilah, kedatangan saya hari ini untuk memberi tahu ninik mamak sei.sarik malai bahwa di mana-mana Muhammadiyah diberi izin oleh Gubernur Jenderal, wakil kerajaan Belanda untuk Hindia Belanda ini. Kok ninik mamak sei sarik malai sampai berani melarangnya. Kalau benar sudah berdiri, tentu artinya sudah tidak ada masalah dengan ninik mamak lagi, dan sekarang pertemuan ini saya tutup dan ninik mamak boleh bubar dan pulang kembali”.
Pada tahun itu pulalah, Buya Oedin yang saat itu memimpin panti asuhan Muhammadiyah Kuraitaji diselidiki Ramalat, ibu dari One Rafiah Jaafar yang menjadi anggota ‘Aisyiyah bersama dengan orangtua Buya, Raalin. Dari hasil rembuk kedua belah pihak, Buya Oedin yang memang sudah kecantol kian dengan One Rafiah Jaafar sering menggoda ibu One dengan mengatakan kenapa menantu andeh tidak dibawa serta. Akhirnya, resmilah duda Udin dengan janda Rafiah Jaafar menjadi pasutri. Dari pernikahan mereka. lahirlah putri dan putra Beliau yakni Saadah Oedin, Safinah Oedin. Fakhrudin Oedin, Asdie Oedin, Hizbullah Oedin, Hasnah Oedin dan Sumarman Oedin. Awal kehidupan yang sulit dilalui dengan ketegaran dan kekuatan iman berhasil dilalui. Pagi makan pisang bakar dan air putih yang kadang tidak dimasak. Setahun lebih uasana prihatin dilalui karena saat itu Buya memang tidak bekerja. Maklum sekolah cuma sampai kelas 2 SR. Tahun berikutnya, mengerjakan sawah anggota Muhammadiyah dengan beberapa rekan lainnya. Dari hasil menerima upah inilah kehidupan agak lumayan. One sendiri turun tangan meringankan beban suami tercinta dengan ikut membantu dengan turun ke sawah. Pelajaran turun ke sawah inipun tidak lama, setelah kepergian putra pertama Beliau, Mansoerdin yang berumur tak sampai 24 jam plus kehilangan tajak, sebagai tulang punggung yang sangat bermanfaat ketika itu. Kehidupan selanjutnya adalah hasil ringan tangan pimpinan-pimpinan Muhammadiyah. Buya fokus hanya mengurus Muhammadiyah sementara putra-putri kehidupan terus hadir. Kehidupan yang sulit, tidak menghalangi Buya untuk mengikuti kebiasaan orang Piaman, kawin batambuah. Dua orang isteri setelah One, berakhir dengan perceraian secara baik-baik dan mengembalikan Buya kedalam pelukan One. Kehidupan pahit tapi ditopang rasa percaya dan keyakinan bahwa Allah swt yang Maha Pengasih, Maha Penyayang akan membantu hambaNya yang menolong agamaNya telah mendarah daging di hati Buya. Disamping kegiatan Beliau tersebut, yang di Muhammadiyahpun keaktifan beliau tetap. Dengan surat No.18/m-37 Cabang Muhammadiyah Padang Panjang, Daerah Minangkabau, tertanggal 12 Zulkaedah 1356H bertepatan dengan 26 Januari 1937, hasil keputusan konsprensi wilayah ke-4 di Solok, Oedin ditunjuk sebagai ketua dua. Lengkapnya surat tersebut :
Tjabang Moehammadijah Padang Pandjang, 12 Zulkaedah 1356 26 Januari 1937
Padang Panjang
Daerah Minangkabau
No ; 18/m-7
Lampiran Dari hal keanggotaan menjadi Anggota pengoeroes Moehammadijah tjabang P. Pandjang
Assalamu’ alaikum wr wb
Moedah2anlah kiranya Toehan swt akan tetap memberikan rahmanijat dan rahimiyatnya kepada engkoe sampai pada hari pembalasan nanti
Dengan segala hormat,
Mendjoenjoeng tinggi janji boenji kepoetoesan Algemenever Gadering Persjerikatan Moehammadijah dalam wilajah Padang Panjang pada Conferentie wilayahnya ke 4 di Solok pada 31 Dec. 36 djalan 1 Djanwari 37, vergadering mana telah mengambil kepoetorsan menetapkan (……………………….) diri mendjadi anggota pengoeroes tjabang Moehammadijah Padangpandjang boeat tahoen 1937 sampai tahoen 1939 dengan 232 suara.
Dan menoeroet poetoesan tjabang vergedering pada petang Ahad malam senen/isnen ddo 24 djalan 25 djanwari 1937, kami telah tetapkan djabatan engkoe dalam badan pengoeroes tjabang, ialah menjadi :
Ketoea Doea
Maka kami selakoe pengoeroes tjabang Moehammadijah Padangpandjang mentanfidhkan kepoetoesan ini kapada engkoe, tidak lain hanyalah mengharap dengan sepenoehnya, moedah2an djabatan dan keanggotaan ini dapat engkoe terima dengan amat baek sekali dan engkoe dapat memegang djabatan terseboet dengan mengingat boenji Statuten dan Reglement kita ( Moehammadijah )
Kemoedian kami atoerkan selamat bekerja dan selamatlah kita serta kaoem moeslimin sekalian adanya. Salam dan hormat pengoeroes tjabang Moehammadijah Padang Pandjang
De Voorzitter Seketaris

Kehadapat jht.
Engkoe Oedin dengan selamat
Di Padang Panjang

Surat pengangkatan tersebut, tidak mempunyai nama di bawah De Voorzitter dan Sekretaris, hanya tandatangan dan stempel. Dari catatan – catatan/dokumen resmi yang ada pada penulis, kelihatan bahwa bagi pengurus Muhammadiyah yang tidak mempunyai penghasilan tetap, biaya rumah tangga ditanggung oleh persyarikatan. Hal ini penulis ketahui dari lembaran yang berbunyi seperti di bawah ini
Keterangn Penerimaan Biaya Consul dalam Conferentie ke – 12 di Padang
Masoek :
1. Dari biaya consul f 183,50
2. Potongan dari Madjlis Sjoera f 97,50
Totaal f 281,-
(doea ratoes delapan poeloeh satoe roepiah)
Keloear
1. Bajar Biaja M.Sjoera jg terpakai tahoen 1936 f 46,50
2. Bidoek boeat e. S. Soetan Mansoer 12,-
3. Boeat H. Aboe Samah 2,50
4. Anwar Rasjid katja mata 3,00
5. Rasjidah Rasjid ongkos kembali ke P.P dari Padang 1,50
6. Ja’coeb Rasjid 5,-
7. Gadji pegawai mengerdjakan penerimaan biaja 3,-
8. Roemah tangga Oedin 25,-
9. Roemah tangga Soetan Mangkoeto 25,-
10. Roemah tangga A. Kamil 20,-
11. Roemah tangga Rasyid Idris 15,-
12. Bajar sewa Consulaat Oct t/m Dec 36 dan makan
Consul di Int. 50,-
13. Bajar oetang sama Nasjiroeddin 5,25
14. Bajar soesoe Fathamah Kariem 4,-
15. Toekar anak gadai barang isteri Consul 5,-
16. Beli djawi perahan boeat Consul 40,-
Totaal f 262,75
Saldo di kas 18,25
Totaal f 281
Padang den 28 April 1937
Distorkan oleh Oedin (t.t)
Diterimakan oleh S.St, Mangkoeto wd. Consul (t.t)

Dengan demikian, semua pengurus mempunyai banyak kesempatan untuk mengurus jalannya roda persyarikatan. Dalam hal rapat/ congres, bagaimanapun keadaan dan kondisi badan, kalau menyangkut Muhammadiyah plus kelangsungan hidup umat, tetap diupayakan untuk menghadirinya.
Sudah menjadi satu program khusus dalam Muhammadiyah, selama pendudukan tentera Jepang di Indonesia, karena terputusnya hubungan Jawa-Sumatera, di sumatera khususnya Sumatera Barat dibawah pimpinan Ar. St. Mansur yang ditetapkan oleh HB Muhammadiyah Yogyakarta memikul tanggung jawab untuk seluruh Sumatera, konsul Muhammadiyah untuk Sumatera di Padang Panjang, setiap tahunnya dibulan Ramadhan diadakan Algemene Kennis Muhammadiyah (Semacam pengkaderan kepemimpinan, termasuk AMM) yang lamanya tak kurang dari 15 hari, siang-malam.
Kelak lewat pengkaderan dan perjuangannya di Muhammadiyah, Buya disegani lawan maupun kawan. Dalam satu kesempatan memberikan kata sambutan Kasim Munafy yang saat itu berusia 14 tahun dalam suatu pidato tanpa konsep di acara konfrensi Muhammadiyah se cabang Pariaman disuruh kepala sekolahnya mewakili sekolahnya (Schakel Muhammadiyah Pariaman) untuk memperkenalkan dunia pendidikan Muhammadiyah kepada peserta dan yang hadir, karena begitu semangatnya membuat Kepala PID (Dinas mata-mata) Pemerintah Belanda yang hadir pada acara itu bersama Buya Udin sebagai peangngung jawab konfrensi berkata “…….coba kalau bukan anak didik Muhammadiyah yang diasuh oleh engku Udin , saya akan seret anak ini ke muka Pengadilan.
Orang Jepang di Pariaman, khususnya di Kuraitaji menggelari Buya dengan orang besar Piaman. Buya pernah bercerita kepada penulis, bahwa Buya pernah menerima satu surat berbahasa kanji. Tak lama setelah Buya menerima surat wasiat yang berbahasa kanji yang dimengerti buya cuma teraan nama Beliau, Udin. Surat itu diterima Buya di Padang Panjang melalui prosesi ala Jepang. Terima surat kemudian tunduk tiga kali membungkukan badan kemudian mundur. Dengan surat sakti itu, Buya mengalami beberapa kali peristiwa yang akhirnya membantu banyak orang.
Di mesjid Muhammadiyah Kuraitaji , para serdadu Jepang disamping mandi ala cowboy texas juga mengeringkan badan/berhanduk di mesjid. Rakyat kecil yang terjajah tidak dapat berbuat banyak. Beberapa dari mereka melaporkan perilaku orang / serdadu itu ke Buya yang ketika itu di Padang Panjang. Sesaat setelah mendengarkan laporan itu, Buya menemui komandan Jepang yang ada di Kuraitaji, memperotes prilaku orang Jepang yang tidak menghormati rumah ibadah umat Islam itu. Mendapat protes dari masyarakat terjajah, komandan Jepang tidak menerima. Komandan Jepang mengeluarkan samurai dari sarungnya, sebagai ancaman jika Buya masih memprotes maka nyawa taruhannya. Buya bergeming, Buya tetap protes dengan mengeluarkan surat berhurup kanji yang selalu dibawa-bawa Buya dalam sakunya. Surat berhurup kanji itu diletakan di atas ujung samurai. Komandan Jepang terkejut. Keringat dingin meleleh di dahinya, hormat membungkukan badan tiga kali, persis ketika Buya menerima surat itu. Hari itu juga, serdadu Jepang mandi dengan sopan dan tidak lagi mengeringkan badan di mesjid.
Tidak semua orang Jepang mengetahui perihal Buya mendapat surat berhuruf kanji itu. Dilain peristiwa, dengan beberapa anak negeri Buya berbaur dalam satu truk. Disamping supir, komandannya tertidur pulas. Rombongan Buya, anak negeri rebut, berisik. Ricuh. Buya sudah mengingatkan, bahwa dengan sikap anak negeri itu berarti menganggu tidur komandan yang pulas di samping supir. Peringatan Buya tidak digubris. Benar saja, komandan yang merasa terganggu tidurnya karena berisiknya para penumpang truk, menyuruh supir memberhentikan truk. Setiap penumpang disuruh turun satu persatu dan menerima tendangan telak dari kaki komandan Jepang. Ketika giliran Buya, Buya mengeluarkan surat itu dari sakunya. Sebelum turun, Buya memperlihatkan surat sakti itu. Komandan terkejut, hormat tiga kali dan mempersilahkan Buya menggantikannya duduk disamping supir.
Stasiun kereta api Lubuk Alung Pariaman. Surat sakti ini kembali menyelesaikan masalah. Seorang anak negeri yang karena mabuk tidak menyadari sedang berhadapan dengan seorang serdadu Jepang. Serdadu yang merasa tuan yang perlu dilayani, dihormati, akhirnya menjadi emosi melihat sianak negeri yang mabuk ini. Sebelum terjadi peristiwa lebih lanjut yang tidak diinginkan, Buya yang kebetulan berada di sana mencoba melerai perselisihan. Si Jepang tidak menerima. Kemudian Buya mengeluarkan surat sakti itu. Hasilnya sama seperti dengan dua peristiwa di atas. Tentera Jepang hormat tiga kali seraya ngeluyur pergi meninggalkan Buya.
Ramli seorang tukang jahit yang merasa bagak mengajak berkelahi seorang tentera Jepang. Perbuatan diluar pertimbangan akal sehat itu berbuntut dengan dianiayanya Ramli dengan beberapa tentera Jepang. Ramli diikat di batang pohon dadak. Di pohon itu kebetulan sarang semut merah. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya Ramli yang merasa bagak tadi, dengan menghiba orangtua Ramli datang ke Buya. Syukur, penderitaan Ramli tidak berkelanjutan lebih lama.. Surat yang membawa Buya ke dalam kejadian-kejadian luar biasa itu, dibakar ketika dalam satu perjalanan Belanda melakukan razia disaat untuk kedua kalinya Belanda masuk ke Indonesia. Belanda mencari pribumi yang terlibat langsung dengan pemerintahan Jepang-Indonesia. Begitulah cerita Buya
“Dalam referensi asli yang ditandatangani Buya, saya mencoba menganalisa bahwa surat itu adalah surat pengangkatan Buya sebagai penasehat pemerintah Jepang. Pemerintahan Indonesia merasa terbantu karena Penjajah Belanda berhasil angkat kaki dengan kedatangan Jepang di awal-awal. Kedatangnya Jepang dianggap sebagai saudara. Jepang perlu pribumi yang berpengaruh dan Pemerintah merasa tidak terjajah, serta Buya dengan kawan-kawan yang menerima surat pengangkatan sebagai orang pemerintahan Jepang-Indonesia yang memang sudah punya basic atau dasar karena aktivitas Beliau di Muhammadiyah, menyebabkan Buya dan kawan-kawan tidak lagi perlu menjalani seleksi”. (Wallahu a’lam).
Surat yang telah menyeret buya ke hal hal yang unik, sementara Beliau sendiri tidak paham maksud surat tersebut. Surat itu di bakar ketika Belanda masuk kembali ke Republik ini.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktops