Lencana Facebook

Jumat, 12 Agustus 2011


Yaaaaaaaaaaaaaaaa, pertama kali hatiku terjatuh di simpangkuraitaji.
Syukurlah, ada yang menyimpannya, kalau tidak tentu aku kehilangan hati.
Padahal hati itu sangat penting bagiku.
Hatiku hilang sepersekian ruang,
Syukurlah, aku juga menemukan hati untuk pelengkap hatiku yang jatuh.
Ntah dia setuju atau tidak, hatinya kusimpan dihatiku.
jadilah, untuk pertama kali hatiku dan hatinya sama-sama jatuh.
Itu 30 an tahun lalu..............................

Sungguh, waktu telah menggilas semuanya.
Waktu juga telah mempertemukan dua hati yang dulu pernah hilang ditelan waktu
Waktu juga telah menjadi saksi,
Waktu itu memang luar biasa,
Waktu itu memang dahsyaaaaat,
Sekarang waktu juga bakal jadi saksi
bahwa sepenggal hatiku telah kembali utuh ????
karena hati yang kutemui bakal dimiliki oleh hati yang lain
Dahsyaaaaaat, sangat dahsyaaaat dan luaaarrrr biasa
Syukurlah aq tanpa sengaja menemukan hatiku dulu
Waktu.............

Minggu, 24 Juli 2011

Buya Oedin: Teman Jenderal Sudirman dari Kuraitaji

Mungkin tak banyak orang yang tahu bahwa seorang putra Pariaman pernah bersahabat dengan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Dialah Oedin, seorang akitivis Muhammadiyah dan pernah mengemban berbagai jabatan politik di Sumatra Tengah ketika Republik ini masih muda remaja.

Buya Oedin (atau Udiang menurut pelafalan orang kampugnya) – begitu beliau biasa dipanggil di masa tuanya – lahir tahun 1906 (informasi lain menyebutkan bulan Agustus 1907) dari rahim Raalin, seorang pengurus Aisyiah yang tangguh di Kuraitaji. Masa remaja Oedin kecil dihabiskan di kampungnya. Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 2 Sekolah Rakyat. Selanjutnya, pemuda yang sedikit ‘preman’ ini –berdasarkan cerita Buya Hamka dalam sepucuk suratnya kepada anak kelima beliau, Asdi Oedin tertanggal 11 Juli 1962 – terpilih menjadi kader Muhammadiyah selama 9 tahun di bawah gemblengan Buya A.R. Sutan Mansur, dedengkot Muhammadiyah yang kemudian terpilih menjadi ketua organisasi itu dalam kongresnya di Purwokerto tahun 1953. Berkat gemblengan A.R. Sutan Mansur, kepremanan Oedin berubah menjadi kepemimpinan.

Bersama beberapa orang rekannya, Oedin mempelopori berdirinya Cabang Muhammadiyah di Kuraitaji (yang ketiga setelah Bukittinggi dan Padang Panjang) pada 10 Oktober 1929. Muhammadiyah dibawa ke Kuraitaji oleh putra daerah ini sendiri dari Yogyakarta, yaitu H. Sd. M. Ilyas, adik ipar Buya Oedin sendiri, yang kelak menjadi mertua Dr. H.M. Tarmizi Taher, mantan Menteri Agama RI di Zaman Orde Baru. Pada tahun 1937 Oedin diangkat menjadi ketua Muhammadiyah cabang Padang Panjang.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Sukarno-Hatta, Oedin aktif menggalang semangat pemuda di daerahnya. Beliau, yang pada waktu itu menjadi Wakil Majelis Pemuda Muhamadiyah Minangkabau, giat memberi pengertian kepada masyarakat Pariaman tentang arti dan cara mengisi kemerdekaan. Pada bulan November 1945 Oedin dan rekan-rekannya menghadiri Kongres Pemuda Indonesia I di Yogyakarta. Tujuan kongres itu adalah untuk menyatukan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka mendapat banyak rintangan di jalan karena gempuran oleh pasukan Belanda. Ketika itulah Oedin berhubungan dengan Soedirman yang waktu itu mewakili pemuda Muhammadiyah Purwakarta (Banyumas).

Balik ke Sumatra Barat, Oedin dan kawan-kawan aktif menyampaikan hasil kongres itu. Pada bulan Mei 1946 beliau dilantik oleh Residen Sumatra Barat, Dr. Jamil, menjadi Ketua Dewan Polisi Sumatra Barat. Awal Januari 1947 beliau diangkat menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili Padang Pariaman. Beliau ikut dalam persidangan KNIP di Malang (1947). Ketika singgah di Yogyakarta Oedin bertemu lagi dengan Soedirman yang sudah menjadi Panglima Besar TNI. Sebagai anggota KNIP, beliau ditugaskan oleh Panglima Soedirman untuk mendapingin Mayjen Soeharjo dalam tugas-tugas kemasyarakatan. Kelak di suatu hari di Jakarta, Oedin bertemu secara tak sengaja di jalan dengan Jenderal Soedirman, yang kemudian mengajak sahabat lamanya itu mampir ke rumahnya.

Sampai tahun 1949 Oedin terlibat dalam berbagai kegiatan politik untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Sumatra Barat dari rongrongan Belanda yang ingin menguasai Indonesia kembali. Pasca Aksi Polisionil Belanda yang gagal itu, aktifitas Oedin dalam kancah pemerintahan Sumatra Tengah cukup beragam. Beliau diangkat menjadi pegawai tinggi tingkat 2 dan kemudian patih yang diperbantukan pada Bupati Padang Pariaman (Januari 1950); patih Kabupaten Tanah Datar (Oktober 1950); Walikota Sawahlunto (Mei 1950); Bupati Kabupaten Inderagiri (Oktober 1952; Pjs Bupati Tanah Datar (Desember 1953); Bupati Kabupaten Pesisir Selatan Kerinci (Oktober 1954) (sebelumnya direncanakan menjadi Bupati Kab. Tanah Datar, tapi tidak jadi).

Demikianlah kisah hidup Buya Oedein yang pernah menikah empat kali dan dikaruniai beberapa orang anak. Sewaktu bersekolah di SMP 3 Kuraitaji, saya akrab dengan salah seorang cucu beliau, Fadilah Afsar. Sering kami belajar bersama di rumah beliau di Rambai, Kurai Taji. Saya paling suka melihat-lihat koleksi buku beliau yang tersusun rapi di rak-rak di perpustakaan peribadi beliau.

Foto ini mungkin dibuat sekitar tahun 1970-an atau sebelumnya. Foto ini, beserta bahan-bahan lain untuk penulisan artikel ini bersumber dari dua keturunan beliau: Marindo Palar dan Fuad Afsar.

Buya Oedin meninggal di Jakarta pada 17 Juni 1984 dan dimakamkan di Perkuburan Tanah Kusir. Demikianlah riwayat singkat kehidupan seorang ‘pahlawan kecil’ yang telah ikut berjasa dalam mengisi kemerdekaan negeri ini. (Sumber foto: Marindo Palar, Jakarta). Suryadi – Leiden, Belanda.

Jumat, 15 Juli 2011

This is a happy family


Aku dengan ibu anak-anakku dengan kegembiraan yang lepas saat berekreasi di Hairos, Permainan Air di Medan. Mudah-mudahan keluarga ini senantiasa dalam BimbinganNya.

Inilah ibu anak-anakku, setelah aku melanglang buana dari hati ke hati, dari sayang ke sayang akhirnya Tuhan memberiku wanita yang sangat luar biasa. Sungguh suatu nikmat yang sangat sangat dan sangat patut disyukuri.


Inilah putra-putra generasi kami masa datang. Mudah-mudahan Allah swt senantiasa membimbing keluarga ini ke jalanNya dan Dia berkenan menjaga terus dan membimbing kami. Aaamieen.

Dengan ketangguhan dan kesabarannya serta kecintaannya dan kasih sayang diantara kami, mudah-mudahan Allah swt senantiasa membimbing dalam mengharungi hidup dan kehidupan yang sedang kami jalani ini.

3 women in my life



It's my mother, through me He comes on earth. Final memories with him was when he was hospitalized Pringadi Medan-North Sumatra. He "forced" Doctor to Doctor will operate upon my nose and replace it with his nose. I was a grade 4 elementary school, when he was summoned to Allah swt, owner. He is such a great woman dimataku. I love her very much.





When I was junior class II, I experienced what is called the "Falling in love". Though the story's end when the junior high, I decided. Just feeling happy, others are not. Strange, after 32 years feeling came back slowly, but surely. Not fair indeed. But here's the reality. I want to discard the feeling that this is not fair, but could not. She was a beautiful woman and very special in my view. The story of his life, into separate point for me. He is indeed remarkable.

Life is a mystery. Having friends and friends with a lot of female friends, I finally found my life partner, beloved wife. A woman who is extraordinary and very understanding. Through him, we gave birth to sons lives of our future generations. Patience in life with me, make me love her more. All my past could have been present, but being with my wife, my children, hopefully not disturbed. I love these three women with a feeling of affection which is of course different. It is not reasonable or ???????????

Jumat, 24 Juni 2011

SK/Urutan tahun pekerjaan buya Oedin

1. SK dari Bupati/Militer Padang Pariaman, 15 maret 1949 No. 2/BN/P.Pr/1949 sebagai nggota KNIP bertugas sebagai koordinator penerangan kabupaten pd.pariaman, penasehat politik pada bupati pd. pariaman
2. SK dari Gubernur Militer Sumatera Barat, 9 April 1949 No. 92/GM/Ist menguatkan SK Bupati di atas.
3. SK dari Gubernur Militer Sumatera Tengah, 12 Janyar 1950 No. UP.14/gast/K. diangkat menjadi pegawai tinggi tingkat II diperbantukan pada Bupati Pd. Pariaman
4. SK dari Gubernur Sumatera Tengah di Bukit tingi, tanggal 1 Pebruari 1950 no. UP-54/G/50 diangkat menjadi Patih yang diperbantukan pada bupati Padang Pariaman
5. SK dari Gubernur Sumatera Tengah 23 Oktober 1950 No. UP.1221/G/1950 dipindahkan jadi Patih ke kabupaten Tanah Datar.
6. SK dari Gubernur Sumatera Tengah 2 Mei 1950 diangkat menjadi walikota Sawahlunto
7. SK dari Gubernur Suatera Tengah 20 Mei 1950 No. UP332/G/PCp ????????
8. SK dari Menteri Dalam Negeri 23 Desember 1953 No. UP.23/27/26. Mewakili Bupati/Kepala Daerah Kabuoaten Tanah Datar Batu Sangkar.
9. SK dari Menteri Dalam Negeri 28 oktober 1952 No. UP. 7/13/5. diangkat menjadi Bupati/Kepala Daerah Kabupaten Inderagiri.
10. SK dari Menteri Dalam Negeri 6 oktober 1954 no. UP.7/14/34. dipindahkan menjadi Bupati/Kepala Daerah Kabupaten Tanah Datar di Batusangkar
11. SK dari Menteri Dalam Negeri 29 oktober 1954 no. UP.7/16/34. Kepindahan ke Kabupaten Tanah Datar dibatalkan, diganti ke Kabupaten Pesisir Selatan Kerinci, Kawat Menteri Dalam Negeri tanggal 31 oktober 1954.

Catatan tambahan berdasarkan catatan Buya. Ditempat tugas akhir Beliau di PSK penderitaan Beliau cukup maksimal. Lebih banyak pahitnya ketimbang manisnya. Berkat pendidikan outodidak lewat tangan buya AR Sutan Mansyur Beliau tetap dapat bertahan. Persyarikatan Muhammadiyah telah menempa Beliau menjadi orang tahan banting. Di PSK pula pesta perkawinan AKBAR puteri sulung Beliau SAADAH OEDIN dengan ALI AFSAR. Disebut AKBAr karena semua masyarakat terlibat dari kelas pinggiran di kampung sampai pejabat ke pusat dan dari luar daerah turut berpartisipasi.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktops