Lencana Facebook

Senin, 09 Mei 2011

Dampak Paranoid kepada Islam

Inilah akibatnya jika sikap kebencian dan paranoid terhadap Muslim. Seorang biarawati Katolik diusir dari pesawat karena disangka seoerang Muslimah yang menggunakan jilbab.

Adalah Suster Cora-Ann, biarawati Katolik dari Biara Our Lady of Grace di Dayton, Ohio mendapat kejutan dalam hidupnya, ketika ia diminta untuk meninggalkan pesawat yang barusaja dia tumpangi di Bandara Internasional Omaha.

“Aku baru saja duduk di kursiku dan mulai berterima kasih pada Tuhan dan tengah membaca doa dalam bahasa Latin,” dia ingat, ketika salah seorang penumpang yang duduk di sampingnya memanggil seorang pramugari. Penumpang itu bernama Elizabeth Bennet, dan kemudian mengatakan, “Bukannya kami berprasangka buruk, tapi dia memang tampak mencurigakan. Dia berpakaian dalam jubah Muslim dan tepat sebelum pesawat lepas landas, dia mulai menggumamkan sesuatu dalam bahasa yang terdengar seperti bahasa Arab atau bahasa Taliban. Apa yang harus aku lakukan?”

Damien Thorn adalah penumpang yang diduk dikursi berdampingan mengatakan; “Saya tahu ada sesuatu menyeramkan mengenainya, saat dia masuk ke pesawat, dia memakai pakaian burqa sebagaimana Anda melihat wanita Iran, dia hanya hanya membawa sebuat tas kecil.” Pramugari akhirnya menanggapi panggilan dan menanyakan pada Suster Cora namanya, boarding pass, foto identitasnya.

Blanche Dubois seorang penumpang lain yang tengah duduk di dekat Suster Cora-Ann ikut menjelaskan, “Setelah aku mendengar namanya terdengar seperti al-Qur’an, aku menjadi merasa khawatir. Itu bukan berarti ada yang salah denganku kan? Aku hanya tidak mau mati. Aku sangat takut sehingga langsung meneriakkan namanya ke semua penumpang.”

Baggins, seorang sering bepergian, mengatakan, dia pernah mendengar bahwa kaum Muslim tidak makan daging. “Aku tidak mengira bahwa dia adalah Muslim dan untuk membantunya, aku menyodorkan beberapa dendeng milikku dan meminta wanita itu memakannya untuk membuktikan bahwa dia bukan Muslim.”

Namun Suster Cora-Ann menolak dengan sopan dendeng tersebut dan mengingatkan penumpang lain bahwa itu adalah pra-paskah, di mana umat Katolik sering berpantang makan daging. Kerusuhan di pesawat terus berkembang, karena sebagian besar penumpang sekarang yakin bahwa Suster Cora-Ann adalah seorang Muslim mereka akhirnya menuntut Suster Cora-Ann segera meninggalkan pesawat.

“Saya tidak ingin menimbulkan penderitaan terhadap sesama manusia apapun, jadi aku meninggalkan pesawat,” katanya.

“Kami sangat senang bisa melanjutkan perjalanan,” ujar Baggins. “Setelah dia turun dari pesawat, beban besar rasanya seperti terangkat dari pundak kami,” tambahnya.
Rupanya, di dalam pesawat memang ada seorang penumpang Muslim dengan nama Abdullah Abdullah, yang duduk di deret belakang no 23.

“Tentu saja aku tahu bahwa dia adalah seorang suster Katolik dan bukan Muslim, karena aku pernah pergi ke sekolah Katolik dan guru kesayangan saya adalah beberapa biarawati Katolik.”

Abdullah melanjutkan, “Tapi jujur, jika kau seorang Muslim di dalam pesawat dan seseorang diminta untuk turun, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah tetap diam dan nikmati pertunjukan!”. Nah, beginilah akibatnya jika sikap kebencian terhadap kaum Muslim berlebih-lebihan.

Aneh, Seorang DPO Masuk ke Mapolsek

Bom bunuh diri yang mengguncang masjid yang berada di Kompleks Mapolresta Cirebon pada saat menjelang dilakukannya sholat Jumat 15/04 sangat mengejutkan banyak pihak.Bom diledakkan oleh seorang pria berjaket hitam ketika imam sholat sedang melafadzkan takbiratul ihram.

Pelaku pengeboman sendiri diduga bernama M.Syarif setelah diidentifikasi gambar wajahnya yang masih utuh. Berdasarkan informasi diterima sejumlah wartawan di Cirebon, Syarif nekat melakukan bom bunuh diri karena dirinya sakit hati atau dendam pribadi kepada polisi. Sebelumnya sempat beredar kabar motif teror itu adalah dendam pribadi. Dimana polres setempat telah menetapkan Syarif sebagai tersangka pengerusakan mini market dalam sebuah aksi sweeping minuman keras di Cirebon, 2010 lalu. Ia juga diduga terkait pembunuhan seorang prajurit TNI di kota yang sama.[jpnn.com]

Titik kritisnya, jika benar Syarif melakukannya atas dasar balas dendam, dan ingin sekali menghabisi polisi, maka sikap seperti inilah rentan untuk di manfaatkan, kecil kemungkinan operasi peledakan ini dilakukan sendirian, siapa yang merancang bom? kalaupun toh dia sampai bisa buat bom maka siapa yang mengajari? Sebab sepertinya perancang bom menginginkan adanya jejak pada pelaku, sehingga wajahnya masih utuh.

Akibat kejadian ini, 1 orang dikabarkan tewas yang merupakan pelaku bom, 6 orang luka berat dan 24 orang luka ringan.Tanggapan beragam muncul dari berbagai pihak.

Sebuah keanehan dan dianggap Kecerobohan

Wakabareskrim Irjen Mathius Salempang, beberapa waktu lalu mengungkapkan, M Syarif termasuk salah seorang tersangka kasus penyerangan mini market Alfamart di Cirebon, Jawa Barat.

“Beberapa saat lalu Polresta menangani kasus penyerangan Alfamart, ada 11 tersangka pada saat itu. Enam tersangka dan lima orang DPO, salah satu di antaranya tersangka yang bunuh diri,” terangnya.

Dengan diketahuinya bahwa tersangka yang melakukan bunuh diri tersebut merupakan salah satu borunan justru menjadi sebuah keanehan seorang Borunan bisa masuk ke kawasan Polres dan bawa Bom.

Karena keanehan tersebut maka oleh Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane yang dilangsir Okezone.com (Kamis (21/4/2011). Sebagai sebuah kecerobohan sebagaimana kecerobohan yang pernah terjadi pada kasus Bom buku di UTAN KAYU
“Bom Cirebon itu tragis, lagi-lagi polisi ceroboh seperti saat di Utan Kayu,

Neta menjelaskan, ledakan bom di Mapolresta Cirebon yang mengakibatkan satu orang tewas dan lebih dari 30 orang luka-luka sejatinya tak perlu terjadi apabila polisi jeli.

“M Syarif (pelaku bom bunuh diri) kan statusnya DPO, masa seorang DPO bisa masuk ke kantor polisi, dan polisi tak tahu dia DPO, bawa bom lagi. Itu menunjukkan cerobohnya polisi,” bebernya.

M.Syarif anggota Jamaah Anshorut Tauhid ?

Sebelumnya beredar kabar Sebagaimana pesan singkat yang beredar di kalangan wartawan Cirebon, Syarif saat ini tercatat sebagai kader Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) di Cirebon.

“Pelaku adalah termasuk anggota JAT Kota Cirebon. Sedangkan orangtua Muhammad Syarif a/n Srimulat telah dibawa ke Jakarta untuk dilakukan test DNA,” demikian psan tersebut, Sabtu (okezone.com 16/4/2011)

Direktur Jamaah Anshaarut Tauhid Media center (JAT-MC) Son Hadi, menegaskan bahwa pelaku bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon bernama Muhammad Syarif, bukan anggota JAT dan sama sekali tidak pernah terdaftar di dalam keanggotan JAT.

“Saya tegaskan, pelaku bom Cirebon itu bukan anggota dan tak ada kaitannya sama sekali dengan JAT,” kata Son Hadi dalam acara jumpa pers ormas ormas Islam di Jakarta, Senin.

Son Hadi menegaskan pula, apa yang dilakukan oleh pelaku dalam askinya di tengah rombongan orang yang sedang shalat berjama’ah adalah tindakan haram yang tidak berdasar dan tak bisa dibenarkan oleh siapapun.

“Itu jelas haram. Melakukan bom bunuh diri dalam kondisi seperti itu tidak ada dalam fikih jihad. Yang melakukan ini pasti tidak mengerti perkara jihad, ” imbuh Son Hadi.

Son Hadi yakin, aksi bom bunuh diri yang dilakukan di kompleks masjid yang tidak bisa dikelompokkan sebagai masjid dhiror (masjid yang boleh dirusak karena alasan syar’i) tersebut ditunggangi pihak pihak tertentu yang ingin membuat negeri ini kacau.

“Pasti ada penunggang yang sedang bermain,” ujar dia.

Tanggapan beragam muncul dari berbagai pihak

Akibat kejadian ini, 1 orang dikabarkan tewas yang merupakan pelaku bom, 6 orang luka berat dan 24 orang luka ringan.Tanggapan beragam muncul dari berbagai pihak.

ditengarai hanya bertujuan untuk mengadu-domba antara kelompok-kelompok Islam dengan pihak kepolisian.

Bisa jadi hal itu juga untuk mematangkan situasi dan kondisi masyarakat menjelang pengesahan RUU Intelijen, bahwa RUU itu memang diperlukan untuk memberikan kewenangan lebih kepada lembaga intelijen guna mengantisipasi peristiwa semacam itu terulang di masa mendatang.

Demikian dikatakan Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto saat menggelar konferensi pers ormas dan tokoh tokoh Islam di Kantor Pusat HTI di Jakarta, kemarin.

Ismail menegaskan, siapapun pelaku dan apa motivasinya, peristiwa ini harus dinyatakan tidak ada hubungannya dengan Islam atau perjuangan Islam, karena tindakan keji itu bertentangan sama sekali dengan ajaran Islam itu sendiri.

“Sangat jelas, ajaran Islam sangat melarang melukai atau membunuh siapapun tanpa alasan yang dibenarkan secara syar’i, terlebih bila itu dilakukan di saat orang sedang melaksanakan sholat Jum’at,” kata Ismail.

Pihaknya pun mengutuk keras pelaku bom bunuh diri itu sebagai tindakan biadab dan bertentangan sama sekali dengan ajaran Islam. Pihaknya pun menyerukan kepada pihak berwenang untuk segera mengusut tuntas siapa pelaku dan apa motivasinya, termasuk siapa otak intelektual di balik aksi.

Di samping itu, lanjut Ismail, pihaknya menolak keras jika peristiwa dikaitkan dengan kepentingan untuk segera melakukan pengesahan RUU Intelijen. Sebab, kata dia, keperluan untuk hadirnya badan intelijen yang baik tidak boleh dijadikan dasar lahirnya sebuah UU yang justru akan menimbulkan kemudharatan bagi rakyat, khusunya umat Islam.

Ia khawatir, hadirnya UU Intelijen yang terburu-buru hanya akan merugikan banyak pihak, khususnya umat Islam yang banyak menjadi korban di era Orde Baru.

Sementara itu menurut menurut Munarman, mantan ketua YLBHI, sebagaimana yang dilangsir oleh eramuslim.com: “Kasus ini aneh menurut saya. Kalau orang mendalami fiqh jihad, tidak mungkin membom Mesjid. Semilitan-militannya mujahidin, merusak mesjid dilarang. Termasuk tempat ibadah umat lain. Bisa dipastikan, ini bukan mujahidin”. Munarman juga menambahkan bahwa motif-motif seperti ini seperti motif intelijen.

Sedangkan FUI menduga peristiwa Bom ini adalah upaya mengadu domba umat Islam dengan polisi. Sekjen FUI, Muhammad Al-Khatath, mengatakan: “Pelaku dan aktor intelektual yang ada di belakangnya adalah orang yg tidak paham fiqh jihad, sebab dalam fiqhul jihad sama sekali tidak dibenarkan melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah, apalagi masjid.” (detik.com 16/04).
Berbicara pada kesempatan yang sama Kepala Biro Humas PP Hidayatullah Mahladi, mengatakan aksi tersebut kata Mahladi, mencerminkan bahwa pelaku tidak menghormati masjid sebagai tempat ibadah.

Mahladi juga menyayangkan sikap media mainstream yang kerap mengeluarkan opini sumir seputar aksi itu dengan berusaha mengaitkan dengan kelompok kelompok Islam.

“Kami berharap media tidak buru-buru menyampaikan pernyataan dan penilian yang tidak akurat,” katanya.

Pihaknya menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk tetap sabar dan istiqomah serta tetap waspada mengantisipasi munculnya fitnah yang dilakukan pihak yang tidak suka kepada umat Islam.

Jenazah M.Syarif ditolak warga

Hingga kini, keluarga masih mencari lahan untuk memakamkan pelaku peledakan bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon, M Syarif. Pasalnya, warga bersikukuh menolak jenazah sang teroris.

“Kita masih mencari lahan. Sampai saat ini warga belum ada yang mau menerima jenazah,” kata ayah kandung Syarif, Abdul Gofur, saat dihubungi okezone, Kamis (21/4/2011).

Menurut dia, saat ini dirinya masih menunggu jenazah Syarif. Berdasarkan pengakuan Gofur, pada Rabu kemarin jenazah Syarif sudah diterbangkan menuju Cirebon dengan menggunakan helikopter. Namun, entah mengapa jenazah tidak jadi mendarat di Cirebon.

“Kemarin jenazah sudah sampai Jatibarang dengan menggunakan helikopter. Saya tak tahu jenazah Syarif dibawa kemana,” tukasnya.

Bahkan, kepada salah satu wartawan Gofur mengaku terpaksa akan membakar jenazah Syarif jika terus menerus ditolak warga. “Kalau ditolak terus, susah dikubur, ya bakar saja,” ujarnya, pasrah.

Tindakan semacam itu yang dirugikan Adalah Islam

Dari waktu waktu setiap ada kejadian BOM teror di negeri ini,para penghujat islam bersuka cita. Mereka manfaatkan betul kejadian tersebut untuk menyerang Islam, menghujat Allah dan Rasulnya. Maka menyikapi persoalan tersebut maka segenap umat Islam harus bersatu padu untuk mengecam tindakan mereka tersebut sebelum pelaku dan orang orang yang berperan serta dalam peristiwa tersebut belum terungkap hingga terungkap, Siapapun dia darimanapun kelompoknya. Dan sikap ini harus konsisten dilakukan dan juga perlu diingatkan kepada semua lapisan umat Islam jangan terprovokasi atau terjebak apalagi membenarkan tindakannya dan mengikuti tindakan tindakan mereka,karena sekali lagi itu sangat merugikan islam.

Karena fakta yang terjadi peristiwa peristiwa tersebut banyak membuahkan Ejekan dan penghinaan kepada Islam, penghujatan kepada Allah dan Rasulnya dan juga pelecehan kepada Syariat islam

Apakah Sufi Mengajarkan Pantheism

Banyak orang mengatakan bahwa sufi mengajarkan patheism karena sufi adalah tingkatan dimana manusia sudah merasakan kedekatan bahkan peleburan “diri” dengan Allah. Ini didasarkan pada ayat Al-Qur’an surat Qaaf ayat 16:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ٥٠:١٦
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya QS ِQaaf [50:13]

atau ayat Al-Baqoroh ayat 186;

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ ٢:١٨٦
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.QS Al-Baqoroh [2:186]

Karena dari ayat tersebut menyatakan kedekatan Allah dengan umatnya maka bisa dikatakan bahwa Allah ada dimanapun umatnya berada, dan itu berarti Allah ada dimana-mana. Ini disebut banyak orang dengan pantheism yaitu faham yang menyatakan bahwa seluruh alam semesta ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah alam semesta ini. Namun apakah benar begitu adanya? Mari kita fahami dulu apa dasar dari faham pantheism itu.

Pantheism lahir dari pemikiran para penyembah berhala dimana ketika berbicara tentang keMahaBesaran Tuhan, maka mereka memikirkannya secara materi (Tubuh Tuhan). “Tubuh” Tuhan Yang Maha Besar harus meliputi seluruh alam semesta ini, karena bila ada ruang kosong diluar “Tubuh” Tuhan maka berarti ruang itu lebih besar dari “Tubuh” Tuhan. Karena tidak ada ruang kosong diluar “Tubuh” Tuhan maka berarti alam semesta ini berada didalam “Tubuh” Tuhan, dan itu berarti alam semesta itu adalah Tuhan. Pantheism ini faham yg dianut oleh ajaran Hindu dengan konsep avataranya, namun apakah pantheism juga dianut oleh Sufi?

Dalam Hadist, Nabi Muhammad Saw bersabda

“Berfikilah kamu semua perihal makhluk Allah (apa-apa yang diciptakan oleh Allah) dan janganlah kamu sekalian berfikir mengenai Dzat Allah, sebab sesungguhnya kamu semua sudah tentu tidak dapat mencapai keadaan hakikatnya”

Dari hadist ini jelas dikatakan bahwa memikirkan bentuk materi Allah jelas terlarang, jadi ketika para Sufi menyatakan kedekatan dan peleburan “diri” dengan Allah, sufi tidak pernah menyatakannya secara fisik/materi. Atau ketika berbicara tentang kebesaran Allah, maka para sufi juga tidak pernah memahaminya secara materi. Para sufi hanya mengajarkan “kezuhudan” dimana tujuan utama hidup mereka hanya untuk Allah semata. Sufi adalah tingkatan dimana manusia sudah tidak lagi memikirkan tujuan dunia melainkan tujuan hanya kepada Allah, inilah bentuk kedekatan dan peleburan “diri” dengan Allah.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ٦:١٦٢
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. QS Al An-aam[6:162]

Inilah tingkatan tertinggi dari ibadah manusia dan semoga kita semua mampu mencapainya. Amin . . .

Pemimpin Ideal

Al-Mawardi rahimahullah dalam kitab al-Ahkâm ash-Shulthaniyah menyebutkan syarat-syarat seorang pemimpin, di antaranya:

Adil dengan ketentuan-ketentuannya.
Ilmu yang bisa mengantar kepada ijtihad dalam menetapkan permasalahan kontemporer dan hukum-hukum.
Sehat jasmani, berupa pendengaran, penglihatan dan lisan, agar ia dapat langsung menangani tugas kepemimpinan.
Normal (tidak cacat), yang tidak menghalanginya untuk bergerak dan bereaksi.
Bijak, yang bisa digunakan untuk mengurus rakyat dan mengatur kepentingan negara.
Keberanian, yang bisa digunakan untuk melindungi wilayah dan memerangi musuh.

Nilai lebih dalam hal kebijakan, kesabaran, keberanian, sehat jasmani dan rohani serta kecerdikan merupakan kriteria yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tanpa memiliki kriteria itu, seorang pemimpin akan kesulitan dalam mengatur dan mengurus negara dan rakyatnya.

Muhammad al-Amin asy-Syinqithi menjelaskan, “Pemimpin haruslah seseorang yang mampu menjadi Qadhi (hakim) bagi rakyatnya (kaum muslimin). Haruslah seorang alim mujtahid yang tidak perlu lagi meminta fatwa kepada orang lain dalam memecahkan kasus-kasus yang berkembang di tengah masyarakatnya!” (Adhwâ’ul-Bayân, I/67)

Ibnul-Muqaffa’ dalam kitab al-Adabul-Kabir wa Adabush-Shaghir menyebutkan pilar-pilar penting yang harus diketahui seorang pemimpin: “Tanggung jawab kepemimpinan merupakan sebuah bala` yang besar. Seorang pemimpin harus memiliki empat kriteria yang merupakan pilar dan rukun kepemimpinan. Di atas keempat kriteria inilah sebuah kepemimpinan akan tegak, (yaitu): tepat dalam memilih, keberanian dalam bertindak, pengawasan yang ketat, dan keberanian dalam menjalankan hukum”.

Lebih lanjut ia mengatakan: “Pemimpin tidak akan bisa berjalan tanpa menteri dan para pembantu. Dan para menteri tidak akan bermanfaat tanpa kasih sayang dan nasihat. Dan tidak ada kasih sayang tanpa akal yang bijaksana dan kehormatan diri”.

Dia menambahkan: “Para pemimipin hendaklah selalu mengawasi para bawahannya dan menanyakan keadaan mereka. Sehingga keadaan bawahan tidak ada yang tersamar baginya, yang baik maupun yang buruk. Setelah itu, janganlah ia membiarkan pegawai yang baik tanpa memberikan balasan, dan janganlah membiarkan pegawai yang nakal dan yang lemah tanpa memberikan hukuman ataupun tindakan atas kenakalan dan kelemahannya itu. Jika dibiarkan, maka pegawai yang baik akan bermalas-malasan dan pegawai yang nakal akan semakin berani. Jika demikian, kacaulah urusan dan rusaklah pekerjaan”.

Ath-Thurthusyi dalam Sirâjul-Mulûk mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ…

…Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Qs Al-Bakharah [2:251]

Yakni, seandainya Allah tidak menegakkan pemimpin di muka bumi untuk menolak kesemena-menaan yang kuat terhadap yang lemah dan membela orang yang dizhalimi atas yang menzhalimi, niscaya hancurlah orang-orang yang lemah. Manusia akan saling memangsa. Segala urusan menjadi tidak akan teratur, dan hiduppun tidak akan tenang. Rusaklah kehidupan di atas muka bumi. Kemudian Allah menurunkan karunia kepada umat manusia dengan menegakkan kepemimpinan. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. -Qs. al-Baqarah/2 ayat 251- yaitu dengan mengadakan pemerintahan di muka bumi, sehingga kehidupan manusia menjadi aman.

Karunia Allah Azza wa Jalla atas orang yang zhalim, ialah dengan menahan tangannya dari perbuatan zhaliman. Sedangkan karunia-Nya atas orang yang dizhalimi, ialah dengan memberikan keamanan dan tertahannya tangan orang yang zhalim terhadapnya.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ العَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يَفْطُرَ وَدَعْوَةُ المَظْلُوْمِ.
“Tiga doa yang tidak tertolak: Doa pemimpin yang adil, orang yang puasa hingga berbuka, dan doa orang yang dizhalimi” HR. at Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 1432

Diriwayatkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ حُسْنٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Tujuh orang yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya:

Seorang imam yang adil
Seorang pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan beribadah kepada Allah.
Seorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid.
Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah.
Lelaki yang diajak seorang wanita yang cantik dan terpandang untuk berzina lantas ia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.
Seorang yang menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.
Seorang yang berdzikir kepada Allah seorang diri hingga menetes air matanya.”

HR. Bukhari dan Muslim

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Amal seorang imam yang adil terhadap rakyatnya sehari, lebih utama daripada ibadah seorang ahli ibadah di tengah keluarganya selama seratus atau lima puluh tahun.”

Qeis bin Sa’ad berkata, “Sehari bagi imam yang adil, lebih baik daripada ibadah seseorang di rumahnya selama enam puluh tahun.”

Masruq berkata, “Andaikata aku memutuskan hukum dengan hak sehari. maka itu lebih aku sukai daripada aku berperang setahun fi sabilillah.”

Diriwayatkan bahwa Sa’ad bin Ibrâhîm, Abu Salamah bin Abdurrahmân, Muhammad bin Mush’ab bin Syurahabil dan Muhammad bin Shafwan berkata kepada Sa’id bin Sulaiman bin Zaid bin Tsabit: “Menetapkan hukum secara hak satu hari, lebih utama di sisi Allah, daripada shalatmu sepanjang umur”.

Kebenaran perkataan ini akan nampak jelas, jika melihat kebaikan yang didapatkan rakyat karena kebaikan pemimpinnya.

Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata, “Apabila seorang pemimpin berkeinginan melakukan kecurangan atau telah melakukannya, maka Allah akan menimpakan kekurangan pada rakyatnya di pasar, di sawah, pada hewan ternak dan pada segala sesuatu. Dan apabila seorang pemimpin berkeinginan melakukan kebaikan dan keadilan atau telah melakukannya niscaya Allah akan menurunkan berkah pada penduduknya.”

Umar bin ‘Abdul-Aziz rahimahullah berkata, “Masyarakat umum bisa binasa karena ulah orang-orang (kalangan) khusus (para pemimpin). Sementara kalangan khusus tidaklah binasa karena ulah masyarakat. Kalangan khusus itu adalah para pemimpin.”

Berkaitan dengan makna inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ٨:٢٥
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. Qs Al-Anfaal [8:25]

Al-Walid bin Hisyam berkata,“Sesungguhnya rakyat akan rusak karena rusaknya pemimpin, dan akan menjadi baik karena baiknya pemimpin.”

Sufyan ats-Tsauri berkata kepada Abu Ja’far al-Manshur: “Aku tahu, ada seorang lelaki yang bila ia baik, maka umat akan baik; dan jika ia rusak, maka rusaklah umat.” Abu Ja’far al-Manshur (ia adalah pemimpin) bertanya: “Siapa dia?” Sufyan menjawab: “Engkau!”

Pemimpin yang paling baik ialah pemimpin yang ikut berbagi bersama rakyatnya. Rakyat mendapat bagian keadilan yang sama, tidak ada yang diistimewakan. Sehingga pihak yang merasa kuat tidak memiliki keinginan melakukan kezhalimannya. Adapun pihak yang lemah tidak merasa putus asa mendapatkan keadilan. Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan: Pemimpin yang baik, ialah pemimpin yang orang-orang tak bersalah merasa aman dan orang-orang yang bersalah merasa takut. Pemimpin yang buruk, ialah pemimpin yang orang-orang tak bersalah merasa takut dan orang-orang yang bersalah merasa aman.”

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada al-Mughirah ketika mengangkatnya menjadi gubernur Kufah: “Hai Mughirah, hendaklah orang-orang baik merasa aman denganmu dan orang-orang jahat merasa takut terhadapmu”.

Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan: Seburuk-buruk harta, ialah yang tidak diinfakkan. Seburuk-buruk teman, ialah yang lari ketika dibutuhkan. Seburuk-buruk pemimpin, ialah pemimpin yang membuat orang-orang baik takut. Seburuk-buruk negeri, ialah negeri yang tidak ada kemakmuran dan keamanan. Sebaik-baik pemimpin, ialah pemimpin yang seperti burung elang yang dikelilingi bangkai, bukan pemimpin yang seperti bangkai yang dikelilingi oleh burung elang.

Oleh karena itu dikatakan, pemimpin yang ditakuti oleh rakyat lebih baik daripada pemimpin yang takut kepada rakyat.

Seorang pemimpin, hendaklah juga memiliki sifat pemaaf. Maaf dari orang yang kuat adalah fadhilah. Sifat pemaaf yang dimiliki pemimpin, ibarat mahkota bagi seorang raja. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ٧:١٩٩
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Qs Al-A’raaf [7:199]

Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menganjurkan memberi maaf:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ٣:١٣٤
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Qs Ali-Imraan [3:134]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ ٤٢:٣٧
Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. Qs Ash-Syura [42:37]

Kecuali bila yang dilanggar itu adalah hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas dendam terhadap kezhaliman yang dilakukan terhadap beliau. Hanya saja, bila sesuatu dari hukum Allah dilanggar, maka tidak ada satupun yang dapat menghadang kemarahan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Ketika Uyainah bin Hishn masuk menemui Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Hai Ibnul-Khaththab, demi Allah, engkau tidak memberi kami secara cukup dan engkau tidak menghukum di antara kami secara adil!” Marahlah Umar dan beliau ingin memukulnya. Salah seorang saudaranya berkata: “Hai Amirul- Mukminin, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, (yang artinya): Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. -al-A’râf/7 ayat 199 dan sesungguhnya dia ini termasuk orang bodoh”.

Demi Allah, ketika ia mendengar ayat itu dibacakan, Umar tidak jadi memukulnya. Karena Umar seorang yang sangat komitmen mengikuti Kitabullah.

Seorang pemimpin hendaklah memiliki sifat kasih sayang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Sayangilah orang-orang di bumi, niscaya Allah yang ada di langit akan menyayangimu”. [HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani t dalam Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 1924]

Orang yang paling berhak menjadi pemimpin ialah yang paling kasih lagi paling penyayang. Sebaik-baik pemimpin ialah yang bisa menjadi teladan dan pemberi hidayah bagi rakyatnya, dan seburuk-buruk pemimpin ialah pemimpin yang menyesatkan. Dahulu dikatakan, bahwa rakyat berada di bawah agama pemimpinnya. Jika bagus agama pemimpinnya, maka bagus pulalah agama rakyatnya. Jika kacau agama pemimpinnya, maka kacau pulalah agama rakyatnya.

Dalam hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ
“Sesungguhnya, yang paling aku khawatirkan atas dirimu ialah imam-imam yang menyesatkan”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits ini hasan shahîh]

Di dalam kitab ash-Shahîh disebutkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya, Allah tidak mengangkat ilmu sekaligus dari umat manusia, namun Allah mengangkatnya dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak lagi tersisa seorang pun ulama, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin. Ketika ditanya, mereka mengeluarkan fatwa tanpa dasar ilmu. Akhirnya mereka sesat lagi menyesatkan”. HR. Bukhari

Imam ath-Thurthûsyi rahimahullah berkata, “Resapilah hadits ini baik-baik. Sesungguhnya, musibah menimpa manusia bukan karena ulama, bila para ulama telah wafat lalu orang-orang jahil mengeluarkan fatwa atas dasar kejahilannya, saat itulah musibah menimpa manusia.”

Ia melanjutkan perkataannya: “Umar Ibnul-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu telah menerangkan maksud tersebut. Dia berkata,’Seorang yang amanat tidak akan berkhianat. Hanya saja pengkhianat diberi amanat, lantas wajar saja kalau ia berkhianat’.”

Wallahu a’lam bish-Shawab.

Sumur Zam dari zaman ke zaman

Setelah tiba di suatu lembah sunyi, kering, dan tak berpenghuni, Ibrahim ‘Alaihissalam meninggalkan Hajar beserta sang putra beliau, Ismail yang saat itu masih menyusu. Ditinggalkan pula sebuah periuk berisi korma dan tempat minum yang berisi air.

Ketika Ibrahim beranjak pergi, Hajar mengikutinya dan mengatakan, ”Wahai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi, engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni.” Berkali-kali Hajar mengulangi kata-kata itu, Ibrahim tetap tidak menoleh ke arahnya.

Akhirnya Hajar bertanya, ”Apakah Allah memerintahkanmu melakukan hal ini?” Ibrahim menjawab, ”Iya.” Hajar lega dengan jawaban itu, hingga mengatakan, ”Jika demikian, Allah tidak akan membiarkan kami.” Lantas, sang istri kembali ke tempat semula saat ia ditinggalkan.

Hajar tinggal di tempat itu hingga perbekalan habis. Beserta putranya, beliau mulai merasakan kehausan. Beliau berlari-lari menuju bukit Shafa untuk melihat, apakah ada orang di sekitarnya. Ternyata, setelah tiba di tempat itu, tidak ada siapa pun yang terlihat.

Akhirnya Hajar mencoba menuju Marwah untuk tujuan yang sama, namun apa yang diharapkan tidak diperoleh, hingga beliau berlari-lari kecil bolak-balik antara Shafa-Marwa hingga tujuh kali, dengan hasil yang sama. Saat itulah malaikat turun di tempat Ismail ditinggalkan. Di tempat itulah akhirnya air mamancar. Hingga malaikat itu mengatakan kepada Hajar, ”Janganlah khawatir disia-siakan. Sesungguhnya di tempat inilah Baitullah akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya.” (Shahih Al Bukhari)

Dalam Shahih Al-Bukhari juga dijelaskan bahwa setelah itu sebuah kafilah menyaksikan ada beberapa burung berputar-putar, hingga mereka berkesimpulan bahwa burung-burung tersebut melihat air. Diutuslah dua budak kafilah untuk melihat. Mereka kembali dengan membawa berita gembira, bahwa memang di tempat itu ada air. Mereka akhirnya meminta izin kepada Hajar untuk tinggal. Kafilah dari Syam ini memperoleh izin, namun tidak berhak menguasai air Zamzam. Mereka ini yang disebut Al Azraqi sebagai kabilah Jurhum. Kabilah ini akhirnya hidup berdampingan dengan keluarga Hajar.

Al Azraqi menyebutkan, setelah Ismail ‘Alaihisallam wafat, penguasaan terhadap Kabah, dengan Zamzam merupakan bagiannya, turun kepada keturunan beliau, Bani Ismail bin Ibrahim. Namun, setelah Bani Ismail melemah, Bani Jurhum menggantikan posisi mereka.

Saat Bani Jurhum berkuasa di Makkah, datanglah Kabilah Khaza’ah yang berasal dari Yaman. Mereka berbondong-bondong pergi ke Makkah, karena tertarik dengan sumber air Zamzam yang melimpah itu. Akhirnya mereka memutuskan tinggal di tempat itu. Perselisihan dengan Jurhum sering terjadi, hingga pecahlah pertempuran antara kedua kabilah tersebut. Jurhum kalah dalam pertempuran, mereka terusir.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa saat kabilah Jurhum keluar Makkah itulah, mereka sengaja menimbun mata air Zamzam, hingga tidak diketahui bekasnya. (Lihat Sirah Ibnu Hisyam, 1/116)

Mata air Zamzam kemudian digali kembali oleh Abdul Muthallib (kakeknya Nabi), setelah ia bermimpi mendapat perintah untuk menggalinya. Dalam mimpi, Abdul Muthallib juga mendapat petunjuk posisi mata air tersebut. Salah satu ciri yang disebutkan adalah adanya sarang semut dan tempat burung gagak biasa mengais. Dengan putra satu-satunya, Harits. Abdul Muthallib melakukan penggalian. Setelah itu, dirinyalah yang bertanggung jawab menjaga mata air Zamzam dan memberi minum jamaah haji. (Lihat Sirah Ibnu Hisyam, 1/150)

Upaya Menjauhkan Umat Islam dari Zamzam

Pasca Abdul Muthallib, pengelolaan air Zamzam diwariskan turun-temurun, dari generasi ke generasi selanjutnya. Dan Zamzam tetap menjadi air yang diminati oleh seluruh Muslim di seluruh penjuru dunia. Hingga akhirnya ada pihak yang iri, dan mencoba membuat sumur di luar Makkah, agar para jamaah meninggalkan sumur Zamzam yang penuh berkah itu.

Perbuatan tersebut dilakukan oleh Khalid bin Abdullah Al Qasri, penguasa Makkah pada tahun 89 H. Namun upaya yang dilakukan seorang yang suka mencela Ali bin Abi Thalib ini gagal, karena umat Islam tetap berbondong-bondong menuju sumber Zamzam. Dan tak menghiraukan seruan Khalid. Hingga akhirnya, sumur tersebut ditimbun dan tak berbekas (lihat Raudhah Al Anf,1/170)

Hal yang menghebohkan juga terjadi pada tahun 1304 H, saat Konsulat Inggris yang berkedudukan di Jeddah mengeluarkan penyataan bahwa air Zamzam banyak dicemari kuman-kuman berbahaya dan mengandung kolera. Kabar itu pun akhirnya sampai di telinga Khalifah ‘Utsmaniyah, Abdul Hamid II. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengirim beberapa dokter Muslim ke Makkah untuk membuktikan pernyataan miring tersebut. Hasilnya, setelah diteliti, air Zamzam tetap air yang terbaik. Setelah itu, pihak ‘Utsmani mengeluarkan pernyataan untuk menyanggah klaim pihak penjajah itu. (Fadha`il Ma` Zamzam, hal. 161-163)

Tradisi penjagaan Zamzam terus berlanjut, hingga akhirnya klan Zamazimah bertanggung jawab memelihara Zamzam. Dengan terbentuknya Kerajaan Saudi, Zamazimah tetap berkhidmat kepada jamaah haji dalam membagikan air Zamzam atas dasar keputusan pemerintahan lokal.

Di masa pemerintahan Raja Faishal, pada tahun 1384 H (1963 M), dibuka kesempatan bagi berbagai kabilah untuk berkompetisi dalam pengelolahan Zamzam, hingga siapa saja memiliki kesempatan yang sama untuk berkhidmat kepada jamaah haji.

Pengelohahan air Zamzam pada tahun 1403 H (1982 M) benar-benar sudah lepas dari dominasi kabilah tertentu, setelah dibentuknya Maktab Az Zamazimah Al Muwahhad. Berbentuk yayasan, Maktab bertugas secara khusus mengelolah air Zamzam. Dan hal itu berlangsung hingga saat ini.

Kini, para jamaah haji dari berbagai negeri yang baru tiba di Arab Saudi, sudah bisa mereguk segarnya air Zamzam sebelum masuk ke Makkah atas jasa yayasan ini. Demikian pula untuk para jamaah yang hendak meninggalkan Kota Suci setelah mereka menunaikan ibadah haji, mereka akan membawa pulang Zamzam dalam botol kemasan yang berlogo Kabah dengan dua gerabah air yang diproduksi oleh yayasan tersebut.*

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktops