Lencana Facebook

Senin, 09 Mei 2011

Pemimpin Ideal

Al-Mawardi rahimahullah dalam kitab al-Ahkâm ash-Shulthaniyah menyebutkan syarat-syarat seorang pemimpin, di antaranya:

Adil dengan ketentuan-ketentuannya.
Ilmu yang bisa mengantar kepada ijtihad dalam menetapkan permasalahan kontemporer dan hukum-hukum.
Sehat jasmani, berupa pendengaran, penglihatan dan lisan, agar ia dapat langsung menangani tugas kepemimpinan.
Normal (tidak cacat), yang tidak menghalanginya untuk bergerak dan bereaksi.
Bijak, yang bisa digunakan untuk mengurus rakyat dan mengatur kepentingan negara.
Keberanian, yang bisa digunakan untuk melindungi wilayah dan memerangi musuh.

Nilai lebih dalam hal kebijakan, kesabaran, keberanian, sehat jasmani dan rohani serta kecerdikan merupakan kriteria yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tanpa memiliki kriteria itu, seorang pemimpin akan kesulitan dalam mengatur dan mengurus negara dan rakyatnya.

Muhammad al-Amin asy-Syinqithi menjelaskan, “Pemimpin haruslah seseorang yang mampu menjadi Qadhi (hakim) bagi rakyatnya (kaum muslimin). Haruslah seorang alim mujtahid yang tidak perlu lagi meminta fatwa kepada orang lain dalam memecahkan kasus-kasus yang berkembang di tengah masyarakatnya!” (Adhwâ’ul-Bayân, I/67)

Ibnul-Muqaffa’ dalam kitab al-Adabul-Kabir wa Adabush-Shaghir menyebutkan pilar-pilar penting yang harus diketahui seorang pemimpin: “Tanggung jawab kepemimpinan merupakan sebuah bala` yang besar. Seorang pemimpin harus memiliki empat kriteria yang merupakan pilar dan rukun kepemimpinan. Di atas keempat kriteria inilah sebuah kepemimpinan akan tegak, (yaitu): tepat dalam memilih, keberanian dalam bertindak, pengawasan yang ketat, dan keberanian dalam menjalankan hukum”.

Lebih lanjut ia mengatakan: “Pemimpin tidak akan bisa berjalan tanpa menteri dan para pembantu. Dan para menteri tidak akan bermanfaat tanpa kasih sayang dan nasihat. Dan tidak ada kasih sayang tanpa akal yang bijaksana dan kehormatan diri”.

Dia menambahkan: “Para pemimipin hendaklah selalu mengawasi para bawahannya dan menanyakan keadaan mereka. Sehingga keadaan bawahan tidak ada yang tersamar baginya, yang baik maupun yang buruk. Setelah itu, janganlah ia membiarkan pegawai yang baik tanpa memberikan balasan, dan janganlah membiarkan pegawai yang nakal dan yang lemah tanpa memberikan hukuman ataupun tindakan atas kenakalan dan kelemahannya itu. Jika dibiarkan, maka pegawai yang baik akan bermalas-malasan dan pegawai yang nakal akan semakin berani. Jika demikian, kacaulah urusan dan rusaklah pekerjaan”.

Ath-Thurthusyi dalam Sirâjul-Mulûk mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ…

…Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Qs Al-Bakharah [2:251]

Yakni, seandainya Allah tidak menegakkan pemimpin di muka bumi untuk menolak kesemena-menaan yang kuat terhadap yang lemah dan membela orang yang dizhalimi atas yang menzhalimi, niscaya hancurlah orang-orang yang lemah. Manusia akan saling memangsa. Segala urusan menjadi tidak akan teratur, dan hiduppun tidak akan tenang. Rusaklah kehidupan di atas muka bumi. Kemudian Allah menurunkan karunia kepada umat manusia dengan menegakkan kepemimpinan. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. -Qs. al-Baqarah/2 ayat 251- yaitu dengan mengadakan pemerintahan di muka bumi, sehingga kehidupan manusia menjadi aman.

Karunia Allah Azza wa Jalla atas orang yang zhalim, ialah dengan menahan tangannya dari perbuatan zhaliman. Sedangkan karunia-Nya atas orang yang dizhalimi, ialah dengan memberikan keamanan dan tertahannya tangan orang yang zhalim terhadapnya.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ العَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يَفْطُرَ وَدَعْوَةُ المَظْلُوْمِ.
“Tiga doa yang tidak tertolak: Doa pemimpin yang adil, orang yang puasa hingga berbuka, dan doa orang yang dizhalimi” HR. at Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 1432

Diriwayatkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ حُسْنٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Tujuh orang yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya:

Seorang imam yang adil
Seorang pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan beribadah kepada Allah.
Seorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid.
Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah.
Lelaki yang diajak seorang wanita yang cantik dan terpandang untuk berzina lantas ia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.
Seorang yang menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.
Seorang yang berdzikir kepada Allah seorang diri hingga menetes air matanya.”

HR. Bukhari dan Muslim

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Amal seorang imam yang adil terhadap rakyatnya sehari, lebih utama daripada ibadah seorang ahli ibadah di tengah keluarganya selama seratus atau lima puluh tahun.”

Qeis bin Sa’ad berkata, “Sehari bagi imam yang adil, lebih baik daripada ibadah seseorang di rumahnya selama enam puluh tahun.”

Masruq berkata, “Andaikata aku memutuskan hukum dengan hak sehari. maka itu lebih aku sukai daripada aku berperang setahun fi sabilillah.”

Diriwayatkan bahwa Sa’ad bin Ibrâhîm, Abu Salamah bin Abdurrahmân, Muhammad bin Mush’ab bin Syurahabil dan Muhammad bin Shafwan berkata kepada Sa’id bin Sulaiman bin Zaid bin Tsabit: “Menetapkan hukum secara hak satu hari, lebih utama di sisi Allah, daripada shalatmu sepanjang umur”.

Kebenaran perkataan ini akan nampak jelas, jika melihat kebaikan yang didapatkan rakyat karena kebaikan pemimpinnya.

Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata, “Apabila seorang pemimpin berkeinginan melakukan kecurangan atau telah melakukannya, maka Allah akan menimpakan kekurangan pada rakyatnya di pasar, di sawah, pada hewan ternak dan pada segala sesuatu. Dan apabila seorang pemimpin berkeinginan melakukan kebaikan dan keadilan atau telah melakukannya niscaya Allah akan menurunkan berkah pada penduduknya.”

Umar bin ‘Abdul-Aziz rahimahullah berkata, “Masyarakat umum bisa binasa karena ulah orang-orang (kalangan) khusus (para pemimpin). Sementara kalangan khusus tidaklah binasa karena ulah masyarakat. Kalangan khusus itu adalah para pemimpin.”

Berkaitan dengan makna inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ٨:٢٥
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. Qs Al-Anfaal [8:25]

Al-Walid bin Hisyam berkata,“Sesungguhnya rakyat akan rusak karena rusaknya pemimpin, dan akan menjadi baik karena baiknya pemimpin.”

Sufyan ats-Tsauri berkata kepada Abu Ja’far al-Manshur: “Aku tahu, ada seorang lelaki yang bila ia baik, maka umat akan baik; dan jika ia rusak, maka rusaklah umat.” Abu Ja’far al-Manshur (ia adalah pemimpin) bertanya: “Siapa dia?” Sufyan menjawab: “Engkau!”

Pemimpin yang paling baik ialah pemimpin yang ikut berbagi bersama rakyatnya. Rakyat mendapat bagian keadilan yang sama, tidak ada yang diistimewakan. Sehingga pihak yang merasa kuat tidak memiliki keinginan melakukan kezhalimannya. Adapun pihak yang lemah tidak merasa putus asa mendapatkan keadilan. Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan: Pemimpin yang baik, ialah pemimpin yang orang-orang tak bersalah merasa aman dan orang-orang yang bersalah merasa takut. Pemimpin yang buruk, ialah pemimpin yang orang-orang tak bersalah merasa takut dan orang-orang yang bersalah merasa aman.”

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada al-Mughirah ketika mengangkatnya menjadi gubernur Kufah: “Hai Mughirah, hendaklah orang-orang baik merasa aman denganmu dan orang-orang jahat merasa takut terhadapmu”.

Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan: Seburuk-buruk harta, ialah yang tidak diinfakkan. Seburuk-buruk teman, ialah yang lari ketika dibutuhkan. Seburuk-buruk pemimpin, ialah pemimpin yang membuat orang-orang baik takut. Seburuk-buruk negeri, ialah negeri yang tidak ada kemakmuran dan keamanan. Sebaik-baik pemimpin, ialah pemimpin yang seperti burung elang yang dikelilingi bangkai, bukan pemimpin yang seperti bangkai yang dikelilingi oleh burung elang.

Oleh karena itu dikatakan, pemimpin yang ditakuti oleh rakyat lebih baik daripada pemimpin yang takut kepada rakyat.

Seorang pemimpin, hendaklah juga memiliki sifat pemaaf. Maaf dari orang yang kuat adalah fadhilah. Sifat pemaaf yang dimiliki pemimpin, ibarat mahkota bagi seorang raja. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ٧:١٩٩
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Qs Al-A’raaf [7:199]

Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menganjurkan memberi maaf:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ٣:١٣٤
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Qs Ali-Imraan [3:134]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ ٤٢:٣٧
Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. Qs Ash-Syura [42:37]

Kecuali bila yang dilanggar itu adalah hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas dendam terhadap kezhaliman yang dilakukan terhadap beliau. Hanya saja, bila sesuatu dari hukum Allah dilanggar, maka tidak ada satupun yang dapat menghadang kemarahan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Ketika Uyainah bin Hishn masuk menemui Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Hai Ibnul-Khaththab, demi Allah, engkau tidak memberi kami secara cukup dan engkau tidak menghukum di antara kami secara adil!” Marahlah Umar dan beliau ingin memukulnya. Salah seorang saudaranya berkata: “Hai Amirul- Mukminin, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, (yang artinya): Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. -al-A’râf/7 ayat 199 dan sesungguhnya dia ini termasuk orang bodoh”.

Demi Allah, ketika ia mendengar ayat itu dibacakan, Umar tidak jadi memukulnya. Karena Umar seorang yang sangat komitmen mengikuti Kitabullah.

Seorang pemimpin hendaklah memiliki sifat kasih sayang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Sayangilah orang-orang di bumi, niscaya Allah yang ada di langit akan menyayangimu”. [HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani t dalam Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 1924]

Orang yang paling berhak menjadi pemimpin ialah yang paling kasih lagi paling penyayang. Sebaik-baik pemimpin ialah yang bisa menjadi teladan dan pemberi hidayah bagi rakyatnya, dan seburuk-buruk pemimpin ialah pemimpin yang menyesatkan. Dahulu dikatakan, bahwa rakyat berada di bawah agama pemimpinnya. Jika bagus agama pemimpinnya, maka bagus pulalah agama rakyatnya. Jika kacau agama pemimpinnya, maka kacau pulalah agama rakyatnya.

Dalam hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ
“Sesungguhnya, yang paling aku khawatirkan atas dirimu ialah imam-imam yang menyesatkan”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits ini hasan shahîh]

Di dalam kitab ash-Shahîh disebutkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya, Allah tidak mengangkat ilmu sekaligus dari umat manusia, namun Allah mengangkatnya dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak lagi tersisa seorang pun ulama, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin. Ketika ditanya, mereka mengeluarkan fatwa tanpa dasar ilmu. Akhirnya mereka sesat lagi menyesatkan”. HR. Bukhari

Imam ath-Thurthûsyi rahimahullah berkata, “Resapilah hadits ini baik-baik. Sesungguhnya, musibah menimpa manusia bukan karena ulama, bila para ulama telah wafat lalu orang-orang jahil mengeluarkan fatwa atas dasar kejahilannya, saat itulah musibah menimpa manusia.”

Ia melanjutkan perkataannya: “Umar Ibnul-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu telah menerangkan maksud tersebut. Dia berkata,’Seorang yang amanat tidak akan berkhianat. Hanya saja pengkhianat diberi amanat, lantas wajar saja kalau ia berkhianat’.”

Wallahu a’lam bish-Shawab.

Sumur Zam dari zaman ke zaman

Setelah tiba di suatu lembah sunyi, kering, dan tak berpenghuni, Ibrahim ‘Alaihissalam meninggalkan Hajar beserta sang putra beliau, Ismail yang saat itu masih menyusu. Ditinggalkan pula sebuah periuk berisi korma dan tempat minum yang berisi air.

Ketika Ibrahim beranjak pergi, Hajar mengikutinya dan mengatakan, ”Wahai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi, engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni.” Berkali-kali Hajar mengulangi kata-kata itu, Ibrahim tetap tidak menoleh ke arahnya.

Akhirnya Hajar bertanya, ”Apakah Allah memerintahkanmu melakukan hal ini?” Ibrahim menjawab, ”Iya.” Hajar lega dengan jawaban itu, hingga mengatakan, ”Jika demikian, Allah tidak akan membiarkan kami.” Lantas, sang istri kembali ke tempat semula saat ia ditinggalkan.

Hajar tinggal di tempat itu hingga perbekalan habis. Beserta putranya, beliau mulai merasakan kehausan. Beliau berlari-lari menuju bukit Shafa untuk melihat, apakah ada orang di sekitarnya. Ternyata, setelah tiba di tempat itu, tidak ada siapa pun yang terlihat.

Akhirnya Hajar mencoba menuju Marwah untuk tujuan yang sama, namun apa yang diharapkan tidak diperoleh, hingga beliau berlari-lari kecil bolak-balik antara Shafa-Marwa hingga tujuh kali, dengan hasil yang sama. Saat itulah malaikat turun di tempat Ismail ditinggalkan. Di tempat itulah akhirnya air mamancar. Hingga malaikat itu mengatakan kepada Hajar, ”Janganlah khawatir disia-siakan. Sesungguhnya di tempat inilah Baitullah akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya.” (Shahih Al Bukhari)

Dalam Shahih Al-Bukhari juga dijelaskan bahwa setelah itu sebuah kafilah menyaksikan ada beberapa burung berputar-putar, hingga mereka berkesimpulan bahwa burung-burung tersebut melihat air. Diutuslah dua budak kafilah untuk melihat. Mereka kembali dengan membawa berita gembira, bahwa memang di tempat itu ada air. Mereka akhirnya meminta izin kepada Hajar untuk tinggal. Kafilah dari Syam ini memperoleh izin, namun tidak berhak menguasai air Zamzam. Mereka ini yang disebut Al Azraqi sebagai kabilah Jurhum. Kabilah ini akhirnya hidup berdampingan dengan keluarga Hajar.

Al Azraqi menyebutkan, setelah Ismail ‘Alaihisallam wafat, penguasaan terhadap Kabah, dengan Zamzam merupakan bagiannya, turun kepada keturunan beliau, Bani Ismail bin Ibrahim. Namun, setelah Bani Ismail melemah, Bani Jurhum menggantikan posisi mereka.

Saat Bani Jurhum berkuasa di Makkah, datanglah Kabilah Khaza’ah yang berasal dari Yaman. Mereka berbondong-bondong pergi ke Makkah, karena tertarik dengan sumber air Zamzam yang melimpah itu. Akhirnya mereka memutuskan tinggal di tempat itu. Perselisihan dengan Jurhum sering terjadi, hingga pecahlah pertempuran antara kedua kabilah tersebut. Jurhum kalah dalam pertempuran, mereka terusir.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa saat kabilah Jurhum keluar Makkah itulah, mereka sengaja menimbun mata air Zamzam, hingga tidak diketahui bekasnya. (Lihat Sirah Ibnu Hisyam, 1/116)

Mata air Zamzam kemudian digali kembali oleh Abdul Muthallib (kakeknya Nabi), setelah ia bermimpi mendapat perintah untuk menggalinya. Dalam mimpi, Abdul Muthallib juga mendapat petunjuk posisi mata air tersebut. Salah satu ciri yang disebutkan adalah adanya sarang semut dan tempat burung gagak biasa mengais. Dengan putra satu-satunya, Harits. Abdul Muthallib melakukan penggalian. Setelah itu, dirinyalah yang bertanggung jawab menjaga mata air Zamzam dan memberi minum jamaah haji. (Lihat Sirah Ibnu Hisyam, 1/150)

Upaya Menjauhkan Umat Islam dari Zamzam

Pasca Abdul Muthallib, pengelolaan air Zamzam diwariskan turun-temurun, dari generasi ke generasi selanjutnya. Dan Zamzam tetap menjadi air yang diminati oleh seluruh Muslim di seluruh penjuru dunia. Hingga akhirnya ada pihak yang iri, dan mencoba membuat sumur di luar Makkah, agar para jamaah meninggalkan sumur Zamzam yang penuh berkah itu.

Perbuatan tersebut dilakukan oleh Khalid bin Abdullah Al Qasri, penguasa Makkah pada tahun 89 H. Namun upaya yang dilakukan seorang yang suka mencela Ali bin Abi Thalib ini gagal, karena umat Islam tetap berbondong-bondong menuju sumber Zamzam. Dan tak menghiraukan seruan Khalid. Hingga akhirnya, sumur tersebut ditimbun dan tak berbekas (lihat Raudhah Al Anf,1/170)

Hal yang menghebohkan juga terjadi pada tahun 1304 H, saat Konsulat Inggris yang berkedudukan di Jeddah mengeluarkan penyataan bahwa air Zamzam banyak dicemari kuman-kuman berbahaya dan mengandung kolera. Kabar itu pun akhirnya sampai di telinga Khalifah ‘Utsmaniyah, Abdul Hamid II. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengirim beberapa dokter Muslim ke Makkah untuk membuktikan pernyataan miring tersebut. Hasilnya, setelah diteliti, air Zamzam tetap air yang terbaik. Setelah itu, pihak ‘Utsmani mengeluarkan pernyataan untuk menyanggah klaim pihak penjajah itu. (Fadha`il Ma` Zamzam, hal. 161-163)

Tradisi penjagaan Zamzam terus berlanjut, hingga akhirnya klan Zamazimah bertanggung jawab memelihara Zamzam. Dengan terbentuknya Kerajaan Saudi, Zamazimah tetap berkhidmat kepada jamaah haji dalam membagikan air Zamzam atas dasar keputusan pemerintahan lokal.

Di masa pemerintahan Raja Faishal, pada tahun 1384 H (1963 M), dibuka kesempatan bagi berbagai kabilah untuk berkompetisi dalam pengelolahan Zamzam, hingga siapa saja memiliki kesempatan yang sama untuk berkhidmat kepada jamaah haji.

Pengelohahan air Zamzam pada tahun 1403 H (1982 M) benar-benar sudah lepas dari dominasi kabilah tertentu, setelah dibentuknya Maktab Az Zamazimah Al Muwahhad. Berbentuk yayasan, Maktab bertugas secara khusus mengelolah air Zamzam. Dan hal itu berlangsung hingga saat ini.

Kini, para jamaah haji dari berbagai negeri yang baru tiba di Arab Saudi, sudah bisa mereguk segarnya air Zamzam sebelum masuk ke Makkah atas jasa yayasan ini. Demikian pula untuk para jamaah yang hendak meninggalkan Kota Suci setelah mereka menunaikan ibadah haji, mereka akan membawa pulang Zamzam dalam botol kemasan yang berlogo Kabah dengan dua gerabah air yang diproduksi oleh yayasan tersebut.*

Rabu, 20 April 2011

Wal Ashri

Wal Ashri, Inilah bodohnya aku
Waktuku hanya melihat indahnya ketika di belakang
Sementara mereka memandang jauh ke depan
Wal Ashri, Inilah gobloknya Aku
“Dia beranggapan, “He is the Best””
Tapi……… begitu dia tahu saat komunikasi dengan mereka
Dia meleleh…….leh……….leh………leh
Wal Ashri, Awalnya dia coba gagah
Akhirnya dia tersenyum kecut
Mereka sudah bersiap masuk finish
Dasar Goblok !!!,
Dia masih saja terpukau dengan mimpi
Cintanya yang sudah ditelan birahi bumi
Wal Ashri,
Celakalah Aku jika terus begini
Oh My God !!!!.

Binjai, April 2011
Kir. Drs. Fuad Afsar

Dongeng Cintaku

30-an tahun lalu, hatiku terjatuh di Simpangkuraitaji
Seorang ceweq memungutnya dengan lembut
Aku bahagia sekali, hatiku jatuh tapi ada yang memungutnya
Saat hatiku sebelah lagi kosong, kutemukan ada hati berlebih
Di Simpangkuraitaji juga.
Jadilah hatiku dan hati yang kutemui mengisi hidupku
Suatu hari, hatiku yang penuh itu jatuh berserakan
Seperti kaca, pecah. Berserakan !,
Aku kaget,
Aku tertegun,
Aku tersenyum,
Ahhhh, bisa apa anak SMP ?
Luka tersayat itu malah semakin parah
Saat pemungut hatiku, yang hatinya berlebih
Kuambil dan kusimpan sebagai pengenap hatiku
Dihantam prahara nafsu syahwat syetan tidak bertanggung jawab
Luka hatiku mulanya luka karena tidak mampu menerawang masa depan
Aku masih SMP !.

Luka itu semakin bernanah dan menyayat hatiku
Saat hati yang kutemui menderita !.
Ya, dia menderita
Sangat menderita !.
Hati yang kutemui bukanlah hati yang kutemui mengisi hatiku yang jatuh
Melainkan hati yang porak poranda sehancur-hancurnya
Jahanam itu telah mengotori pemilik hati yang kutemui
Dengan keserakahn nafsu yang bersangatan
Jahanam itu bukan manusia
Jahanam itu adalah setan yang sangat-sangat bernafsu
Memperkosa hati, hati yang sangat kucintai
Segala cara jahanam itu lakukan, agar hati
Hati yang kutemui , tunduk di bawah nafsu setan jahanam
Sungguh !
Hatiku bernanah,
Sakit,
Perih,
Perih sekali !.
Air mataku jatuh di dalam cinta,
Cintaku basah
Cintaku menjadi busuk, terendam air mata darah
Hati yang kutemui itu, seperti malaikat kebingungan
Dia kelimpungan,
Dia sangat lemah,
Dia tidak bertenaga,
Ya, malaikatku itu kalah saat bertarung melawan kemauan nafsu setan
Malaikatku yang lunglai bersinergi dengan hatiku yang busuk
Akibat terendam air mata darah
Disebabkan perengutan secara biadab
Hati malaikatku yang dulu kupungut di Simpang kuraitaji
Oleh pemilik nafsu biadab jahanam itu
Waktu menggilas segala-galanya
Busuk hatiku semerbak dipelukan ibu pertiwi
Hati yang pernah kudapat di simpang kuraitaji
Lenyap di belantara cinta
Kadang aku kehilangan
Kadang aku kebingungan
Hati yang pernah kupungut
Ternyata tidak hancur semua
Ada serpihan sebesar zarah tertinggal di lubuk hati terdalam
Tertimbun cinta-cinta yang nyata yang ada dalam duniaku
Subhanallaah,
Serpihan sebesar zarah itu hidup.
Aneh,
Benih yang tertimbun berpuluh tahun itu
Perlahan hidup lagi
Aku coba membunuhnya,
Aku coba membuangnya
Oh my God,
Aku tidak sanggup, Aku mau jadi pembunuh
Aku tidak bisa
Semakin kusayat semakin dia hidup
Aku lunglai dalam kebingungan
Aku tidak berdaya
Hati yang kupungut dulu itu, yang sudah tertimbun jutaan detik
Berangsur menggeliat, menolak apa yang ada di atasnya
Yang membenamkannnya
Hatiku yang pernah jatuh dipungut anak simpang kuraitaji
Yang pernah busuk terendam air mata darah, terlihat dibersihkannya
Dengan kelembutannya
Karena hatiku yang dipungutnya adalah hati yang pertama ditemukannya
Seperti juga aku !.
Hati yang berlebih yang kupungut itu, juga pertama kali
Sekarang menjadi madu, sekaligus menjadi tuba
Sekarang……………?











Hati yang pernah kupungut dulu
Jauuuuuh sekali
Dekaaaat sekali
Aduhhhhhh.
Zaman tidak salah,
Waktu tidak salah,
Semua tertulis di kitab Nya
Bab tersendiri tentang aku
Bab tersendiri tentang hati yang kupungut
Biarlah…………


(Ilham ini hadir saat sholat maqribdi mesjid taqwa Muhammadiyah kelurahan Pahlawan Kb. Lada di saat rakaat ke dua, 19 April 2011)
Binjai, Drs. Fuad

Minggu, 17 April 2011

Bandara Cinta

Ketika kota Padang memasrahkan dirinya
dalam dekapan senja yang penuh kasih
ada sepenggal cintaku yang pernah tercecer menjemput masa depan putranya
dengan kerinduan seorang ibu
Berbekal niat yang ikhlas
Sepenggal cintaku yang pernah ada meninggalkan asanya di Bandara Tabing.
Saat mentari sore masih bernafsu mendekap jakarta
makhluk mungil separuh dewa
sudah menanti dengan kerinduan yang bersangatan
sudah 20-an tahun lebih kebersamaan itu diterlan birahi bumi
selama itu pula cinta-cinta mencari cintanya
Ada sedih, ada bahagia, ada duka, ada lara
Ntahlah..................
Makhluk setengah dewa terpukau
saat sepenggal cintaku
hadir dihadapannya
sepenggal cintaku kaget,seolah tak percaya.
Dicobanya tafakkur
Kucoba bayangkan detik detik saat
sepenggal cintaku terpaku dan terpukau dalam dekapan birahi rindu
makhluk setengah dewa
http://www.youtube.com/watch?v=lVfRl7PivT8
Badara suta dalam keadaan pasrah ketika selimut malam mendekapnya
dengan penuh nafsu
Mempertontonkan kepada semua orang
"Persaksikan oleh Kalian bahwa malam ini dengan kekuasaanKu
Kusatukan kembali pertemanan mereka yang pernah ditelan birahi bumi !"
Lihatlah !
Lihatlah !
Pertemenan itu hanya sesaat
Sesaat yang sudah memporak porandakan kerinduan dalam angan menjadi satu kenyataan
Dari sudut birahi bumi yang lain
Makhluk ajaib bersorak
Sungguh !, makhluk ajaib itu bersorak
Ya dia bersorak "Berpelukan !"
Aku merinding
Aku menggigil
Aku seperti bermimpi
20-an tahun yang lalu
Cintaku terjatuh
Sekarang sepenggal cintaku yang jatuh itu
dalam pelukan penuh rindu makhluk setengah dewa
Salahkah aku jika bertafakkur ??
Salahkan aku jika aku berbahagia ??
Salahkah ?????


"Sepenggal Cintaku yang pernah ada" adalah "My first love"

"Makhluk ajaib" dari belahan bumi "Sofya Yenti Siregar, She said "Berpelukan"

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktops