Lencana Facebook

Sabtu, 08 Mei 2010

Kemalangan Menuju Malang (2)


Dalam keadaan setengah menggigil karena dingin akibat basah oleh air hujan dan mobil yang ber a-ce, seorang ibu rombonganku menawarkan kain sarung untuk menggantikan celanaku yang memang kuyup oleh hujan. Aku mengambil posisi di ruang yang disediakan untuk merokok karena di situ tidak ber a ce. Perasaanku beragam. Serba salah. Serba susah. Tak tahu mau berbuat apa. Teman yang lainpun tak dapat berbuat banyak. Mereka semua pasrah tentang apa yang akan terjadi. Semua berharap sama, anak gadis yang tinggal, dapat bertemu dengan bu Ning dengan selamat. Hampir pukul 23.00, hapeku berdering, “Ya assalamu’alaikum” sahutku membuka percakapan dengan salam.”Wa’alaikum salam, Pak Fuad ini kak Naning, saya cuma mau menyampaikan bahwa si A sudah ada sama saya sekarang” sahut suara diseberang telepon. “Alhamdulillah bu. Hati-hati ya buk. Mudah-mudahan kita bisa barengan di Malang. ”. Terus terang, bulu kudukku merinding. Subhanallah. Allahu akbar, puja dan puji syukur ke hadiratMu ya Allah. Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengabulkan permohonan kami. Mempersatukan si A dengan kak Naning, orang yang memang diberi tanggung jawab untuk menjaganya Tak putus-putus aku mengucapkan puji syukur atas keajaiban yang diberikan Allah swt kepada kami. Segera berita gembira ini kusampaikan kepada rombonganku. Semua mengucapkan puji syukur. Alhamdulillah. Penumpang lain malah ada juga yang bersimpati, turut menyampaikan kegembiraannya. Mereka bersimpati padaku. Masalahnya, aku telah mampu (paling tidak demikian penilaian mereka) mengkoordinasikan rombongan yang sebahagian besar para manula dan ibu-ibu lagi.

Bayangkan, seorang anak gadis yang masih hijau konon belum pernah ke Jakarta terlantar di tanjung periuk., sendirian. Belakangan dari cerita-cerita yang kudengar , ternyata dalam sikapnya yang agak lasak di kapal ia berkenalan dengan seorang ibu. Si A memang lebih suka dan lebih sering bergabung dengan teman sekapal yang lain ketimbang dengan rombongannya dari Binjai.. Barangkali dia punya pertimbangan tersendiri. Begitu sampai ke darat, langsung si A mencari wartel dan menelepon ke keluarganya. Kepergiannya ke wartel tanpa permisi dan tanpa sepengetahuan anggota rombongan lainnya. Aku sendiri, karena tegesa-gesa akibat konfirmasi dari awak bus kramat jati tentang kegelisahan penumpang yang menunggu kami, tidak lagi mencek anggota. Siapa sangka, si A nyelonong pergi mencari wartel tanpa pemberitahuan ke temannya yang lain dalam rombongan ?. Nah begitu selesai dari wartel, dia kaget dan pucat pasi melihat tidak satupun rombongannya ada. Dia celingak celinguk sendirian. Dalam kepanikannya dia menelepon keluarganya di Binjai seperti kuceritakan di atas. Saat itulah, si ibu yang dikenalnya di kapal menanyai keberadaannya. Sungguh, aku merasakan kasih sayang Allah swt saat itu terhadap kami sungguh luar biasa. Aku sendiri belum pernah menyampaikan informasi ke anak gadis ini akan bus yang kami tumpangi menuju Malang . Analisaku, karena bu Ning lain bus denganku dari tanjung periuk ke terminal kramat jati, terjadi komunikasi antara si A dengan buk Ning. Karena di tanjung periuk, aku sudah menerima 17 tiket bus kramat jati yang diurus keluargaku. Allahu akbar, secara kebetulan, ternyata rumah si ibu persis berseberangan dengan terminal bus kramat jati. Seterusnya sudah dapat diterka, mereka menginap di rumah ibu itu. Menurut informasi mereka berangkat keesokan paginya. Hebatnya lagi, ibu itu adalah penganut nashrani. Masya allah.Luar biasa. Sampai sekarangpun, jika mengingat kejadian ini, rasa syukur senantiasa saya ucapkan. Saya tak dapat bayangkan, apa kejadian yang bakal menimpa saya jika saja si A ini tercecer dan hilang ditelan belantara Jakarta .

Teman sebangku saya di bus Kramat jati mas Edi Priyono. Beliau menyampaikan rasa simpatinya kesaya dan memberi saya card-name nya. Beliau mengundang saya jika ada masalah, jangan sungkan menghubungi dia di Malang . Seyogyanya, menurut jadwal bus masuk kota Malang bakda shubuh, tapi karena berangkatnyapun sudah lewat jauh, bus yang seyogyanya berhenti di mesjid memberi kesempatan penumpang untuk sholat, ini tidak terjadi dan tidak biasanya. Bus terus melaju. Saat itu, saya lihat mas Edi tayamum dan sholat di bus. Terus terang, saya malu. Saya mengakunya kader Muhammadiyah, tapi hal seperti ini koq kayaknya masih terlalu asing bagi saya. Akhirnya, sayapun ikut melaksanakan seperti apa yang dia lakukan. Tayamum dengan media jok bus dan sholat duduk dengan kebimbangan karena belum pernah melaksanakan. Saya lihat beberapa penumpang lain juga berbuat demikian.

Bakda jum’at bus masuk terminal. Mas Priyono panitia, menjemput kami. Saya bergabung dengan mobil beliau dengan beberapa kawan yang lain. Sementara yang lainnya disediakan L-300. L-300 tahunya pusat kegiatan Muktamar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), langsung saja membawa rombongan saya ke UMM. Sementara oleh Mas Priyono kami dibawa ke Perumahan Bukit Cemara Tidar. Terpaksa, lagi-lagi saya dihebohkan akibat ulah L-300 yang langsung saja terbang begitu dapat penumpang.Jaket kulit yang saya pinjam tercecer di terminal bersama kain sarung ibu yang meminjamkan. Karena begitu turun pegangan saya di bus saya letakkan di atas pagar dan mengurus yang lain.Kain sarung saya dapatkan lagi dari sebuah kedai minuman di terminal itu sementara jaket kulit pinjaman kakak saya lenyap.. Menjelang ashar, rombongan baru berkumpul semua. Setelah mendapat tempat istirahat, sebahagian teman langsung melepaskan rasa penatnya.

Hari sabtu, hari ke dua di Malang bakda sholat shubuh saya diajak mas Priyono melihat rombongan yang baru tiba. Ternyata dari Sibolga (Sumatera Utara). Lebih hebat lagi, mereka menggunakan L-300 ke Malang dan busnya full. 5 hari 4 malam ditempuh dalam posisi duduk. Ini lebih luar biasa lagi. Rombongan ini hanya semalam di Malang , karena mereka melanjutkan perjalanan ke Bali begitu usai acara pembukaan. Sebahagian teman-teman langsung membuat acara jalan-jalan. Setelah mendapat sewaan mobil dari warga komplek mereka pergi melancong. Khabarnya mereka ke Batu Malang. Badan saya masih sangat lelah. Saya tinggal sendirian di komplek. Saya masih ingin istirahat. Menjelang siang, saya mendapat telepon dari Buk Ning agar menjemput dia dengan si A di terminal. Atas bantuan mas Priyono, kami berangkat ke terminal. Dalam perjalanan menuju terminal saya ditelepon teman penggembira yang berangkat naik pesawat, agar saya tak usah pusing mengurus bu Ning dan si A lagi karena ke dua orang ini akan bergabung dengan penggembira lain dari Binjai yang naik pesawat dan menginap di rumah keluarga bu Wirda di Malang. Terlepas ada apa dibalik semua ini, yang jelas sampai detik ini saya tidak dapat membayangkan bagaimana wajah si A karena sampai kembali ke Binjai usai Muktamar dan selama di Malang saya tidak pernah ketemu. Tas kopernya yang terbawa dalam rombongan saya, dijemput anak bu Wirda yang di Malang . Akhirnya, dari menjelang siang sampai malam saya dibawa jalan-jalan sama Mas Priyono yang juga membawa keluarganya sekalian mengambil tanda penggembira. Ketika mampir di komplek UMM tempat pusat kegiatan Muktamar, di depan pintu masuk bazaar saya lihat seorang rombongan saya letoy tak bertenaga. Tampak, wajah tua itu sangat kelelahan. Bayangkan, usianya sudah 60-an tahun. Karena semangat dan rasa cintanya pada persyarikatan diusahakan untuk ikut jadi penggembira muktamar. Yang lain sibuk shooping, si ibu kelelahan. Dengan ditemani beberapa teman satu rombongan, ibu Jamilah kami bawa pulang ke penginapan di Bukit Cemara Tidar. Setelah gagal menghubungi posko kesehatan, ibu Jamilah kami bawa ke balai pengobatan yang ada di komplek untuk melakukan check up. Kesimpulan diagnosa, ibu Jamilah kelelahan dan perlu istirahat. Tinggalah beliau dibalai pengobatan itu ditemani rombongan ibu-ibu yang lain. Bakda magrib, saya membezoek ibu Jamilah. Disini beliau merengek minta pulang. Beliau meminta saya agar saya menghubungi anaknya yang ada di Binjai. Terpaksa hal ini tidak saya penuhi. Saya hanya memberikan pengertian ke beliau dan meminta beliau agar sabar serta berpikir dengan jernih. Akhirnya beliau pasrah dengarkan penjelasan saya dan dikuatkan dengan kawan-kawan lain. Hampir tengah, malam tanggung jawab saya bertambah dengan masuknya dua penggembira baru nenek-nenek dari Binjai yang datang belakangan naik pesawat. Keluarganya yang menghantarkan, mengantar ke Bukit Cemara Tidar karena rombongan Binjai menurut panitia yang dihubunginya tercatat tinggal di situ. Apa boleh buat.

Hari Minggu pagi sesuai kesepakatan,kami rekkreasi ke air terjun Cuban Rondo. Semua ikut termasuk dua nenek-nenek yang baru masuk tadi malam dan Ibu Jamilah yanf terpaksa tinggal. Beliau ditemani ibu yang lain yang tidak ikut sengaja ingin menemani ibu Jamilah. Diareal rekreasi ini saya diberi 4 undangan masuk oleh seorang ibu rombongan saya. Menurut beliau dia diberi oleh panitita sebanyak 8 undangan. Kebetulan rumahnya persis disebelah rumah tempat pemondokan ibu-ibu rombongan dari Binjai. Jadi untuk gampangnya, diberinya ke saya 4 (karena saya kordinator, mungkin) dan yyang 4 di dia, katanya akan diberikan ke dua gadis penggembira rombongan kami dengan tujuan agar meningkat rasa keorganisasiannya. Saya setuju-setuju saja. Otomatis, dalam rombongan saya ibu-ibu yang tua, tidak satupun mendapat undangan masuk. Padahal dalam perhelatan muktamar, acara pembukaan adalah peristiwa yang ditunggu-tunggu penggembira dan peserta lain. Jangan harap dapat masuk jika tidak ada undangan. Konon, waktu pembukaan muktamar Muhammadiyah di Yogya seorang anggota PP Muhammadiyah yang terlambat datang karena baru tiba dari Malaysia terpaksa tidak dapat masuk karena tidak ada undangan. Saya sendiri bingung bagaimana membagi yang 4 yang ada di saya. Masalahnya dengan saya ada 4 orang, 3 bapak-bapak yang satu diantaranya beristeri jadi pas 4. Dibagi semua, saya tidak dapat. Akhirnya yang beristeri tidak saya libatkan. Beliau yang dari awal, di Binjai mencabut pendaftarannya karena akan berangkat naik pesawat kemudian mendaftar lagi sekaligus dengan isterinya. Beliau pula yang komplain akan fasilitas bus yang membawa rombongan dari Binjai ke Belawan. Beliau pula yang ngotot ingin kejelasan harga tiket saat di kapal. Kepada dua yang mendapat tiket saya wanti-wanti agar hal ini jangan sampai diketahui oleh si Bapak yang beristeri. Sisa yang satu saya niatkan untuk ibu yang memberi saya tambahan uang saku saat di kapal.

Usai dari coban rondo, rombongan membubarkan diri di sekitar stadion Gajayana tempat pembukaan muktamar akan digelar bakda magrib. Masing-masing dengan kegiatannya. Saya hubungi Mas Edy Priono, saya katakan saya akan ke rumahnya dan saya belum makan. Ternyata dia ada di rumah. Setelah dibimbingnya melalui hape saya sampai ke rumah mas Edy Priono. Ketika sholat zhuhur di mesjid Siti Khadijah dekat rumah Mas Edy, terdapat puluhan penggembira dari Sulawesi Selatan yang menginap di situ dengan segala keterbatasan fasilitas MCK nya, sangat beda jauh dengan kami. Di rumah mas Edy saya disuguhi nasi goring dengan porsi jumbo, kemudian ditambahi lagi dengan cake ringan dan sebotol aqua.Saat itu saya dapat telepon dari teman rombongan pesawat menanyakan dimana posisi saya. Karena lokasi stadion Gajayana tak jauh dari rumah mas Edy, dengan berjalan kaki saya pergi ke Gajayana. Karena pintu stadion akan ditutup pukul 16.00. Disekitar stadion, orang sudah ramai. Badan saya rasanya tidak bertulang. Kelelahan akrab dengan saya saat itu. Saya rebahkan badan dipinggir jalan tak jauh dari pintu masuk stadion Gajayana persis di bawah billboard Presiden SBY dan loga Muhammadiyah. Saat bersamaan hembusan angin menerbangkan selembar plastik agak tebal ke arah saya. Saya sambar plastik itu.dan menjadikannya alas kemudian saya rebahan dan saya tertidur lelap seperti orang mati dan itu berlangsung hanya lima menit. Begitu saya tersentak, saya lihat jam, ya tidak lebih dari lima menit. Badan saya ringan, yang tadinya lelah luar biasa, sekarang agak ringan. Saya pandangi orang sekeliling dengan kegiatan masing-masing. Di sisi saya satu keluarga beranak kecil kebingungan entah mau kemana karena tidak memiliki undangan masuk. Saya hubungi mas Priono, menanyakan di mana posisi beliau. Tak lama kemudian, saya lihat ibu-ibu rombongan saya sudah berpakaian seragam organisasi didampingi mas Priono. Saya tanyakan perihal ibu Jamilah. Saya mendapat jawaban bahwa ibu Jamilah masih perlu istirahat. Saya bingung, masing-masing ibu-ibu sudah memegang undangan masuk. Belakangan saya ketahui, ternyata undangan itu diberi panitia sebagai tambahan yang kebetulan tinggal bersebelahan dengan ibu-ibu di Bukit Cemara Tidar. Termasuk dua nenek-nenek yang datang belakangan. Sebenarnya ketika ibu Kartini (salah seorang rombongan yang memberi saya tambahan uang saku di kapal) ditawarkan undangan, setelah menyebut jumlah yang diperlukan, hitungan beliau tidak masuk kepada dua yang datang belakangan. Kenapa akhirnya yang dua bisa dapat ?. Rupanya ketika ibu-ibu menjemput ke tempat penginapan bapak-bapak, bapak yang dicari bareng isterinya tidak ada. Jadi mereka tinggalkan saja, karena memang tidak ada di rumah. Alhamdulillah, semua rombongan saya, kecuali ibu Jamilah dan bapak beserta isterinya yang tertinggal, semua dapat berkumpul karena pintu gerbang masuk undangan kami sama. Bekal penganan yang diberi mas Edy langsung habis. Posisi kami persis berseberangan dengan podium tempat Presiden menyampaikan amanah pembukaannya. Jauh sekali. Tapi kami tetap bergembira, paling tidak karena kami dapat masuk. Belakangan saya dapat informasi tidak satupun rombongan penggembira dari Binjai yang berangkat dengan pesawat udara dapat masuk. Bahkan dengan bertengkar sekalipun dengan penjaga pintu stadion, mereka tetap tidak dapat izin untuk masuk karena tidak memiliki undangan.

Kemalangan menuju Malang


Muhammadiyah adalah organisasi terbesar yang pernah tercatat dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia . Tidak sedikit kader putra putri terbaik Muhammadiyah yang memiliki andil dalam menegakkan Bangsa dan Negara kesatuan Republik Indonesia . Sebut saja, Ki Bagus Hadikusumo, Kahar Muzakkar diawal-awal kemerdekaan. AR Fachruddin dengan ciri khas dakwah Beliau, menjadikan Muhammadiyah tetap eksis sampai detik ini. Karena masa kepemimpinan Beliau, Pemerintah menerapkan azas tunggal. Amien Rais, yang dengan terawangannya didukung gerakan mahasiswa dan masyarakat, berhasil mengakhiri sepak terjang kekuasaan orde baru. Insya Allah, Muhammadiyah akan terus dan tetap eksis sampai akhir zaman.

Muktamar, adalah forum musyawarah tertinggi dalam persyarikatan. Semenjak 5 periode yang lalu sebelum kepemimipinan sekarang setiap pertemuan atau Muktamar digelar, senantiasa diramaikan oleh anggota maupun simpatisan Muhamadiyah. Momen Muktamar yang bersamaan waktunya dengan liburan anak sekolah, menjadi wahana pertemuan antara anggota dan simpatisan dari seluruh Indonesia . Dari Sabang sampai Merauke. Bahkan juga dari luar negeri. Para anggota dan simpatisan yang datang dengan keikhlasan dari berbagai pelosok tanah air dengan biaya sendiri, menandakan kecintaan mereka terhadap gerakan persyarikatan yang didirikan KHA Dahlan allahu yarham ini. Dalam istilah mereka yang datang ini disebut dengan penggembira. Para penggembira ini, oleh panitia tempat akan disediakan pemondokan seperti di rumah-rumah penduduk, di unit-unit amal usaha Muhammadiyah seperti sekolah-sekolah dan unit amal usaha lainnya. Berbeda dengan para peserta yang diberi mandat oleh persyarikatan dan terikat dengan acara-acara, para penggembira ini justru bebas dan merdeka. Mereka tidak terikat. Mau kemana, dan mau ngapain terserah. Biasanya panitia tempat mengadakan kegiatan sampingan untuk para penggembira. Atau para penggembira sendiri yang berinisiatif jadwalkan kegiatan internal mereka. Jadi sementara para peserta berkutat dengan berbagai macam kegiatan untuk memikirkan gerak Muhammadiyah ke depan,para penggembira menggembirakan hati mereka dengan berekreasi atau aktivitas lain yang tidak mengikat. Tidak sedikit yang memboyong keluarga besarnya. Anak isteripun dibawa.

Karena sudah berkali-kali berpartisipasi sebagai penggembira, mulai dari muktamar Muhammadiyah di Yogya, muktamar Muhammadiyah di Banda Aceh, dan muktamar Muhammadiyah di Jakarta, oleh kawan-kaawan di PDM Binjai, pada Muktamar Muhamadiyah ke-45 yang lalu di kota apel Malang, saya ditunjuk menjadi koordinator penggembira dari Binjai dengan tugas menginventarisir para anggota dan simpatisan yang berminat ikut serta sebagai penggembira, mendampingi mereka ke Malang dan bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang menimpa mereka. Begitu sosialisasi muktamar diadakan, beberapa orang langsung mendaftarkan diri untuk turut serta. Penggmbira yang berangkat dibagi dua kelompok, satu kelompok dengan pesawat udara, satu lagi kelompok kapal laut. Karena kemampuan financial saya di kapal laut, maka penggembira lewat kapal laut jadi tanggung jawab saya. Setiap peserta yang mendaftar, langsung saya belikan tiket kapalnya. Mengingat bersamaan dengan hari libur anak sekolah. Sampai H min dua dari jadwal keberangkatan, masih saja ada yang mendaftarkan dirinya untuk ikut rombongan. Bahkan ada pula diantara penggembira yang awalnya mendaftar, kemudian menarik kembali pendaftarannya dengan alasan ingin naik pesawat, belakangan kembali mendaftarkan diri karena beberapa hari menjelang Muktamar ongkos pesawat mengalami kenaikan yang lumayan besar. Bahkan tidak hanya mendaftarkan diri sendiri, malah berdua dengan isterinya. Sampai pada hari keberangkatan, suami isteri yang paling akhir mendaftar sudah menunjukkn sikap yang lain. Beliau komplain dengan fasilitas yang disediakan olah travel, karena saling berhimpitan dengan sekalian barang penumpang. Dari Binjai ke Belawan, kami disediakan L-300. bergabung dengan penumpang lain yang juga akan berangkat dengan menggunakan kapal laut.

Dilepas oleh PDM Binjai, kamipun berangkat menuju Belawan. Tercatat ada 17 orang yang harus saya pertanggung jawabkan selama dalam perjalanan menuju Malang . Dua pertiganya ibu-ibu manula, sebagai komitmen awal yang telah disepakati, tugas kordinator adalah menghantarkan para penggembira sampai ke Malang . Selepas di Malang kemungkinan ada penggembira yang akan dijemput keluarganya atau ingin ke rumah keluarganya, maka itu sudah diluar tugas kordinator. Dalam perjalanan menuju Belawan, seorang teman peserta penggembira menelepon saya karena L-300 yang ditumpanginya dengan rombongan lain mengalamai kerusakan. Teman yang menelepon meminta saya mencarikan solusinya. Saya katakana saja, karena dia bukan satu-satunya penumpang di L-300 itu, maka berembuk saja antar mereka untuk mencari jalan keluarnya. Bagaimana mungkin saya di rombongan L-300 yang lain beserta dengan rombongan yang ada kembali untuk bergabung dengan bus L-300 yang mengalami kerusakan. 10 menit menjelang kapal melaut, jangkar diangkat, rombongan bus L-300 yang rusak tiba di Belawan. Saya sempat cemas, karena dari information sudah menginformasikan agar para penumpang kapal segera naik ke kapal karena kapal akan segera diberangkatkan. Alhamdulillah. Setelah mencek segala sesuatunya, kamipun barengan naik ke kapal.

Hari Selasa, hari pertama di kapal, beberapa bapak-bapak manula rombongsn saya mempertanyakan discount dari harga tiket kapal. Karena memang tercatat, usia sekian tahun ke atas dengan bukti foto copy diri akan mendapatkan discount dari Pelni. Awalnya saya sempat kebingungan untuk memberikan jawaban, karena berapa ongkos yang ditetapkan pihak travel untuk kelas wisata sebanyak itulah yang saya berikan tanpa mau tahu dengan yang lainnya. Sebenarnya, jika saja para Bapak-bapak itu menyadari posisinya dan faham kesepakatan awal, seyogyanya berapa harga segala macam tetek bengek itu, mereka tidak perlu tahu. Karena panitia pemberangkatan muktamar, c.q kordinator penggembira telah disepakati dengan biaya lima ratus ribu rupiah adalah biaya yang dibebankan kepada penggembira yang ingin turut serta ke Malang . Perkara berapa biaya yang digunakan, koordinator penggembira akan mempertanggung jawabkannya ke PDM melalui panitia pemberangkatan muktamar. Hal ini sudah coba saya jelaskan, tetapi sebagian mereka tetap mengotot untuk menjelaskan perinciannya. Masya Allah. Terakhir, kami terpaksa melibatkan pihak Pelni yang ada di kapal dengan menanyakan segala sesuatu yang menjadi ganjalan para Bapak-bapak ini. Akhirnya, mereka dapat menerima. Alhamdulillah. Kegalauan saya menghadapi tingkah para Bapak-bapak manula terbaca oleh ibu-ibunya. Mereka bersimpati kepada saya dan memberikan saya uang saku. Saya awalnya menampik, karena saya tidak ingin dikira macam-macam. Karena mereka terus memaksa akhirnya pemberian mereka saya terima. , Alhamdulillah.

Hari Rabu, hari kedua kapal singgah di Batam. Beberapa rombongan saya yang mempunyai keluarga di Batam sempat plesiran. Saya sebenarnya diajak dan sudah saya iyakan walaupun hati mendua. Ikut plesiran atau tetap di kapal dengan anggota rombongan lain. Akhirnya kedua-duanya tidak. Karena saya mempunyai sepupu juga di sini, setelah mendapatkan no hp nya, saya hubungi sepupu dan mendapat jawaban dengan terpaksa tidak dapat menjemput saya karena sedang ada tugas yang tidak dapat ditinggalkan. Olehnya saya disarankan untuk menghubungi keluarga yang lain di Batam dan sarannya saya ikuti. Dari informasi tanya sana tanya sini, saya mengetahui lokasi kantor tempat keluarga ini bekerja. Karena memang tak jauh dari pelabuhan, dengan berjalan kaki saya selusuri kota Batam. Yang dicari, tidak ketemu. Ketika kapal kembali melaut, saya dapat telepon dari panitia Malang menanyakan posisi saya dan rombongan dimana. Saya jelaskan posisi dan kemungkinan jadwal tiba ke Malang . Saya betul-betul memaksimalkan kemajuan teknologi yang saya ketahui. Nama rombongan yang saya bawa, sudah saya fax kan bersamaan dengan no hp saya. Jadi komunikasi dengan panitiapun berjalan lancar.

Hari Kamis,hari ketiga menjelang kapal tiba, saya sudah dikontak oleh awak bus yang bakal kami tumpangi menuju Malang . Dengan hanya 17 penumpang, tidak terpikirkan untuk mencarter bus penumpang. Saya kontak teman-teman di PP Muhammadiyah, tak ada yang bias diharapkan. Akhirnya dengan bantuan keluarga di Jakarta saya minta tolong dicarikan bus Jakarta-Malang. Keluarga sudah membantu saya, mereka memilih Kramat Jati. Awak bus inilah yang menghubungi saya dengan mengatakan penumpang lain sudah menunggu. Cuma rombongan saya yang belum ada. Jadwal keberangkatan bus Jakarta-Malang pukul 14.00 sementara pukul 15.00 kami masih akan merapat. Jelas situasi ini membuat saya deg-degan dan tidak enak. Pukul 16.00 kapal merapat, pukul 17.00 kaki baru menginjak tanjung priuk. Sudah ada bus antar jemput dari Kramat jati dan satu mobil keluarga. Alhamdulillah, saya sangat gembira semua selamat sampai di tanjung periuk. Sebahagian ke bus antar jemput Kramat Jati sebagian nimbrung dengan mobil keluarga karena kapasitas mobil antar jemputnya tidak mencukupi untuk 17 peserta rombongan saya.

Jakarta menjelang maqrib adalah Jakarta dipuncak kesibukan dan kepadatan lalu lintasnya karena bersamaan dengan jam pulang karyawan kantor. Tidakpun jam pulang kantor, Jakarta memang sudah macet, apalagi pada saat jam pulang kantor. Semua ingin duluan sampai ke tempat. Pada saat itu ha-peku berdering “Assalamu’alaikum, siapa ini” tanyaku seraya memberi salam. “Bu Wirda Fuad, dari Binjai” sahut suara di seberang telepon. “Ya ada apa bu”. “Bagaimana kau ini, anak aku kau tinggalkan sendirian di Tanjubg periuk”. Jelas ada kekhawatiran dalam nada suara ibu Wirda. “Ah ndak mungkinlah buk, nanti kucoba mencek di mobil satu lagi, karena kami ada dua mobil dari Tanjung periuk” Jelasku mencoba menenangkan dirinya.”Apa pula, dia menelepon dari Tanjung periuk menyatakan dirinya kalian tinggal”, semakin tinggi suara bu Wirda di seberang telepon. Aku terdiam tidak dapat berbuat apa-apa. Keluargaku bingung, demikian juga temanku satu mobil. Ketika kujelaskan asal telepon dan kejadian yang menimpaku, Kuhubungi temanku di bus antar jemput kramat jati yang dua hari lalu meneleponku di saat bus L-300 yang ditumpanginya beserta rombongan lain mogok dalam perjalanan dari Binjai ke Belawan. Kutanyakan keberedaan si A. Begitu mendapat penjelasan si A memang tidak ada, spontan keluar dari mulutku “Mampus si A tinggal”. Selesai bicara dengan nada demikian, kurasakan darahku hilang. nyawakupun hilang setengah. Aku betul-betul down. Keluargaku mengatakan tak mungkin kembali. Kita sudah terlalu terlambat. Hingar binger suara klakson kenderaan disekelilingku tak lagi kudengarkan. Semua mati. Semua lenyap. Semua gelap. Mobil yang kutumpangi tidak lagi kurasakan apakah masih berjalan membelah jalanan Jakara atau tidak. Aku tidak tahu, ntah apa yang ada dalam jiwaku, dalam benakku. Semua kosong. Semua bolong. Semua gelap.

Tiba-tiba saja hapeku kembali berdering “Ya, assalamu’alaikum”, sapaku tak bergairah. “Fuad, kau tunggu anakku di terminal, dia menyusul naik taxi”. Ternyata bu Wirda yang menelepon. “Ya buk” jawabku.

Di terminal Kramat jati, kami disambut hujan seperti air yang sengaja dilimpahkan satu tong besar sekaligus. Hujan selebat-lebatnya menyambut kedatangan kami. Semua rombongan langsung naik ke bus kramat jati yang sudah stand by sejak pukul 14.00 siang Sementara kuperkirakan saat itu sudah pukul 18.00 lewat. Badanku basah oleh lebatnya air hujan. Lumayan kuyup. Kudengar gerutuan ketidak puasan dari sebahagian penumpang yang terlunta-lunta karena menunggu kami dan rombongan. Awak buspun tidak dapat lagi berkompromi. Mereka tidak perduli dengan anak gadis yang tertinggal di tanjung periuk yang sedang menyusul dengan taxi. Disaat-saat aku sedang negosiasi dengan awak bus, suara penumpang lain menyuruh supir untuk segera memberangkatkan bus. Seorang ibu muda dengan terpaksa harus menunggu si A yang tertinggal. Karena ibu muda ini, bu Ning memang mendapat titipan untuk menjaga si A, mengingat si A adalah gadis hijau yang baru tumbuh dan belum pernah ke Jakarta . Terpaksa dan sangat-sangat terpaksa. Bu Ningpun menerima saranku dan itu pula memang keinginannya. Dia tidak dapat pergi tanpa si A ikut. Disepakati bu Ning tinggal dan tidur di kantor Kramat Jati. Besok pagi berangkat barengan dengan si A.

Istikharah Cinta



Hidup memang misteri. Sedetik ke depan tak satupun makhlukNya yang dapat memastikan apa yang akan terjadi. Andai hidup sesuai dengan apa yang diinginkan, rasanya tak perlu ada Malaikat Raqib Atid, Munkar Nangkir atau Malik Ridwan. Tapi hidup adalah fakta. Hidup adalah kenyataan.
Ada si Polan berteman dengan si Polin, pertemenan mereka sudah sekian tahun berlalu, kesepakatan antar keluarga untuk mengabadikan kisah kasih mereka sudah di amin kan kedua belah pihak. Perjalanan kisah mereka yang penuh kasih mulus. Undangan untuk khalayak yang pantas diundang telah tersebar. Polin sudah siap untuk bersuamikan Polan. Polan sudah berkhayal sampai menembus alam luar yang tak terjangkau oleh manusia manapun, kecuali Polan sendiri. Lihatlah, Polan terseyum sumringah. Bibirnya melebar. Matanya bercahaya menandakan kegembiraan yang luar biasa. H minus satu dari kesepakatan duduk di pelaminan, Polan yang sedang santai di teras rumahnya melihat seekor kucing di pohon jambu depan rumahnya. Kucing itu tak dapat turun. Polan berniat membantunya. Polan memanjat, berniat ingin menjangkau sikucing yang manis, naas kakinya tergelincir, Polan jatuh terjerembab dan pagar tajam rumahnya menanti elok tubuhnya yang limbung. Polan meninggal.
Ada pula si Ucok sama si Butet. Ketika itu teman Butet sedang mengadakan pertemuan dengan genk nya. Diantara yang hadir ada si Ucok yang hadir karena dibawa temannya yang kebetulan masuk kelompok genk nya Butet. Butet yang selama ini menutup rapat hatinya, menggemboknya dan membuang kunci gemboknya ke Samudera Indonesia mengalami debaran yang luar biasa saat menatap Ucok. Padahal hampir dipastikan mayoritas teman Butet menilai Ucok tak ada apa-apanya. Keistimewaannya cuma pembawaan Ucok yang sangat gentle. Sangat beda dengan teman-teman Butet lainnya. Sebulan berlalu, teman Butet kaget, mereka mendapat undangan pernikahan Butet-Ucok. Waduh …………. Hidup memang misteri.
Yang luar biasa, ada Adek. Dia akrab dengan teman kuliahnya Pun-pun. Keakraban mereka dari pertemanan biasa meningkat ke pertemanan plus. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun berlalu. Suka duka pertemanan plus mereka lalui. Adek sudah datang ke kampung Pun-pun di kaki Gunung Sibayak. Pun-pun pun pernah dibawa Adek ke rumah orang tuanya. Suatu hari, menjelang Ashar, terjadi mis komunikasi. Adek berang, Pun-pun tak mau kalah. Waktu Ashar masuk. Adek sholat di Musholla yang kurang terurus dekat kost Pun-pun. Merasa pernah mendapat ilmu tentang penggunaan sholat istikharah, Adek pun melaksanakannya. Adek mohon petunjuk, mana yang terbaik untuk dunia plus akhiratnya diantara teman-teman plusnya yang bias menjadi pendampingnya. Awal berdoa beberapa nama berkelebat di otaknya. Bulu kuduknya merinding. Adek merasa belum pernah berdoa sekhusuk itu.. diakhir doa, tersirat Pun-pun di hatinya. Diyakininya Pun-pun adalah jodohnya. Gayung bersambut. Pucuk dicinta, jodoh tiba. Rupanya peristiwa yang persis dialami juga oleh Pun-pun. Klop. Mereka semakin mempererat hubungan persahabatan plus.
Selesai Adek wisuda, sebelum ke Jakarta mencari sesuatu untuk masa depan, Adek pamit ke Pun-pun. Dalam kegalauan menuju rumah Pun-pun, bibirnya berzikir, mohon kemudahan dariNya. Semua lancar, semua mendukung. Hadir pula kilanya. Adek diterima sebagai bagian komunitas mereka. Hubungan mereka direstui. Saat jangkat kapal di tarik menandakan kapal akan ke Jakarta, semangat 45 yang sudah dibangun Adek, porak poranda. Hatinya galau. Hatinya kacau. Ketegaran hatinya, luluh dan leleh karena adanya air mengalir di pipi Pun-pun teman plusnya. Pun-pun menangis. Jakarta bagi Adek jadi neraka. Tidak mengenakan. Tawaran untuk bersuka ria seolah mengejek nya.
Dalam keseharian cuma Pun-pun doank yang ada dibenaknya. Surat rekomendasi untuk Sekjen Deptan, Bp. Ir. Nusyirwan Zein dari bokappun dengan separuh hati disampaikannya. Adek sowan ke rumah Beliau di kawasan Pasar Minggu. Sempat menyuapin ibundanya yang sedang sakit. Karena Beliau belum lama jadi sekjen, harapan bokap untuk mencarikan "tempat kerja" di Jakarta belum dapat terpenuhi. Adek alumni Fasas USU jurusan Bahasa Arab, sementara Beliau di Kementrian (Departemen) Pertanian. Sangat jauh bedanya. Puncaknya, ketika suatu hari terjadi komunikasi Adek-Pun-pun via telepon. Pun-pun meminta Adek pulang, balik ke Medan. Pun-pun tak sanggup sendirian, dia selalu kacau. Bahkan Pun-pun nyaris kehilangan nyawa karena ditabrak karena bengong dan bengong. Pijakannya untuk terus bertahan di Jakarta, patah. Diambilnya keputusan yang nekad. Dari depan toko buku Walisongo daerah Senin Jakarta, dibuatnya surat khusus dan bohong-bohongan atas nama Bokap. Memintanya pulang, karena lamarannya di Departemen Penerangan diterima. Surat bohong-bohongan itu Adek kirim kilat khusus. Begitu sampai di rumah, kakaknya yang yakin itu surat dari bokap, menawarkan adek naik pesawat. Adek menolak. Besoknya setelah menerima surat itu, langsung adek meninggalkan Jakarta. Ibukota yang menjadi incaran banyak orang, tempat jutaan manusia masih sangat menggantungkan harapan untuk dapat hidup lebih baik. Di tempat pemberhentian bus untuk makan, adek kirim surat ke kakaknya, surat permohonan maaf karena meninggalkan Jakarta dengan cara tidak jantan. Apa boleh buat. Akhirnya adek tidak langsung ke Medan. Adek singgah di Kuraitaji. Tempat neneknya.Saat Ramadhan, karena alumni Sastra USU bahasa Arab dan bisa dikit-dikit ceramah, Adek ditawarin mengisi pengajian. Setelah itu, masih hitungan keluarga dari pihak ibu, Adek ditawarin jodoh. Adek meminta waktu supaya lebih kenal lagi dengan ceweq yang ditawarin ibu itu. Ibu itu tidak keberatan. Dari penjajakan awal, Adek tidak keberatan. Suatu hari, bareng ibu (mak comblang) mereka pergi ke rumah si calon yang ditawarkan kepadanya. Lebetulan siibu anak gadis itu yang menerimanya. Sungguh, penerimaannya kurang baik. Mungkin karena situasi Puasa atau mungkin perkiraan Adek saja yang salah. Akhirnya setelah berbasa basi kami pulang. Tidak jauh meninggalkan ibu itu, ketemu sama mamak si ceweq. Setelah tahu siapa yang datang, ibu yang tadi kami tinggalkan langsung berubah 180 derjat sikapnya. Dia bersorak memanggil kami, dan akhirnya disepakati bahwa secara resmi kami diundang berbuka puasa di rumahnya. Pada hari yang ditentukan, Adek dan mak comblang sudah hadir lagi di rumah si ceweq yang ditawarkan untuk Adek. Keluarganya sudah lengkap. Adek ditawarkan jadi imam. Adek menyanggupinya. Saat makan bersama di ruang tengah, duduk bersila, ada keanehan yang dialami Adek. Adek haqqul yakin, Nurlela ceweq yang mau dijodohkan ke Adek, ada persis didepannya. Tapi tidak terlihat. Sementara keluarga yang duduk dikiri kanan Nurlela semua terperhatikan dan terlihat jelas. Usai acara makan bareng, di tengah jalan menuju pulang mak comblang meminta pendapat Adek tentang Nurlela. Adek tidak dapat memberikan penilaian. Adek belum dapat melihat Nurlela dengan jelas. Sudah dua kali datang, dua kali Nurlela tidak terlihat, walaupun dia ada di depan Adek. Adek dianggap aneh oleh mak comblang. Apa boleh buat. Atas kesepakatan, Adek mau ke kampus Nurlela dengan Adek yang asli. Bareng Didi Almahdia, anak ibu (mak comblang) Adek ke kampus Nurlela di Lubuk Alung. Pakai kaos oblong logo USU, celana jeans belel koyak di lutut dan sendal jepit, Adek ke kampus Nurlela. Adek malu sendiri. Dengan senang hati Nurlela menerima kedatangan Adek dan mengenalkannya dengan kawan-kawan kuliahnya sebagai seorang saudaranya. Begitu kembali, Adek langsung menyatakan persetujuannya untuk dijodohkan dengan Nurlela. Mak comblang minta foto copy ijazah sarjananya. Mamak Nurlela kabag keuangan di kantor Gubernur, konon dapat jatah satu pegawai dan tawarannya jatuh ke Adek. Pendekatan antar keluarga dijajaki. Adek malah gelisah. Jiwanya seperti terbelenggu. Pun-pun yang diyakini lewat istikharah bakda ashar seperti membayanginya terus. Tapi Adek cuma memendam kegelisahannya. Proses pendekatan antar keluarga ters berlanjut. Keculi tantenya di jakarta, semua mendukung perjodohan Adek-Nurlela. Adek di JAPUIK dengan PEGAWAI NEGERI di lingkungan Pemprov. Plus kenderaan roda dua dan rumah siap huni. Itu yang Adek dengar dari mamak-mamaknya. Disaat orang susah mendapatkan pekerjaan, ini malah ada tawaran pekerjaan. Waduhhhhhhh.
Suatu hari, tanpa disengaja Adek membaca buku Membina Keluarga Bahagia. Buku itu dibelinya di pelataran Toko yang terdapat di Mesjid Taqwa Muhammadiyah Padang. salah satu poin yang menggelitiknya adalah perlunya Sholat Istikharah. Klop. Adek sudah istikharah. Pun-pun diyakininya adalah jodohnya. Harapan Mak comblang dan keluarga yang lain putus. Malam itu, saat kumpul keluarga Adek mengeluarkan pernyataan "Anggap kerja kantor gubernur bukan rezekiku dan Nurlela bukan jodohku". Apa boleh buat. Mak comblang terdiam. Dia kecewa karena dia selama ini jadi fasilitatornya. Waktu berjalan pesat. Pulang ke rumah orang tuanya, beberapa lama Adek masih sempat berkunjung ke kosan Pun-pun. Jarak Medan-Binjai jadi begitu jauh ketika seorang ibu guru selalu titip salam sama adiknya dan pembantu sekolahnya untuk Adek. Aneh, tidak lama. Akhirnya Adek married dengan ibu guru SD itu. Adek pamit baik-baik dengan Pun-pun. Di rumah makan Minang pernyataan berpisah itu disampaikannya dengan baik-baik. Teman-teman sesama kuliah yang mengetahui peristiwa ini kaget. Adek mengaku salah. Apa boleh buat. Sampai beberapa saat Adek selalu diminta Pun-pun untuk dapat menemaninya.
Musim berlalu, zaman berganti. Alhamdulillah, ditengah rasa bersalahnya Adek mendengar Pun-pun pun sudah married. Dalam suatu pertemuan yang tidak terduga sama sekali, Pun-pun kaget melihat adek. Adek dengan anak-anaknya yang pulang jumatan terkejut melihat Pun-pun. Masya Allaah. Sekarang, semua berjalan masing-masing. Adek dengan keluarganya yang berharap terbinanya keluarga sakinah, Mawaddah wa Rahmah dan Pun-pun juga dengan keluarganya, mudah-mudahan juga terbina Keluarga Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah.
Inilah Hidup yang Penuh Misteri.

Pelajari Islam Secara Lengkap




Suatu hari Rasulullah saw kedatangan para shahabat. Mereka adalah bekas pemeluk Yahudi yang taat dan disegani kaumnya. Mereka adalah Tsa’labah, Abdullah bin Salam, Ibnu Yamin, Asad dan Usaid bin Ka’ab, Said bin Amru serta Qais bin Zaid. Walaupun mereka telah memeluk agama islam, mereka ingin minta dispensasi dari Rasulullah saw. Mereka minta izin, walaupn sudah menjadi bagian dari masyarakat Muslim, mereka kiranya diperkenankan melaksanakan ibadah Sabtu dan mempelajari Taurat secara lebih mendalam. Rasulullah saw tercenung. Permintaan mereka dapat dipahami, karena dari masih balita rutinitas mereka memang sudah demikian, ibadah Sabtu dan mendalami Taurat.
Allah swt membantu Rasul Nya dengan menurunkan S. Al Baqarah 208 :


208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Mereka yang datang menjadi terdiam. Rasulullah saw memberikan penjelasan akan ayat tersebut. Jika sudah islam, tak perlu lagi mengikuti ajaran Yahudi. Jika sudah Islam, Al Quran sudah cukup untuk dijadikan pedoman. Al Quran itu sudah lengkap. Taurat sudah kadaluarsa, sudah expire. Ikuti sajalah Al Quran, karena didalamnya telah dimuat semua kebutuhan umat sampai akhir zaman.
Taurat dan al quran sama sama produk langit, sama-sama wahyu. Tapi ketika al quran datang maka taurat tidak lagi berlaku. Sekarang malah, produk manusia lebih diimani ketimbang alquran. Sebut saja primbon atau undang-undang. Ketka sholat, acuannya al quran. Ketika ibadah lain ???????????. Padahal alquran telah mengisyaratkan ikut al quran secara totalitas. Jika ada keyakinan tradisi atau doa tradisi sesuai dengan al quran, lanjutkan. Namun bila nyata bertentangan, kita wajib meningggalkan secara ikhlas. Mencampurkan antara islam dengan tradisi berarti keislamannya tidak lagi murni.
Ibarat emas, jika tidak murni disebut imitasi. Emas imitasi tidak ada harganya. Bagaimana dengan iman dan islam kita yang tidak murni ????. Adakah nilainya dihadapan Allah swt ?????????.
Seorang janda yang habis masa iddahnya kemudian menikah lagi. Respon masyarakat mencapnya sebagai yang tidak manusiawi. Padahal islam tidak melarangnya. Seorang ustadz beristeri lebih dari satu dan dia berkemamapuan. Bagaimana reaksi ibu-ibu yang selama ini mengikuti pengajiannya. Si ustad tak lagi dipakai dalam majlis ta’lim ibu-ibu itu. Atau seorang kyai yang menikahi anak gadis, dianggap menentang undang-undang perlindungan anak dan HAM. Begitulah zaman kita sekarang. Mengikuti ajaran islam yang kaffah dianggap menyalahi aturan. Karena keislaman kita memang lebih banyak dipengaruhi oleh undang-undang dan peraturan-peraturan produk manusia ketimbang undang-undang dan peraturan-peraturan produk wahyu.
Yang menutup aurat secara utuh dianggap kolot. Karena bukan produk Indonesia. Membuka rumah makan siap santap disiang hari ramadhan atas nama tuntutan ekonomi biasa. Menikahkan gadis dengan tenaga kontrak luar negeri lebih baik ketimbang bekerja di bar atau diskotik. Membiarkan harta warisan tidak dibagi lebih baik ketimbang dibagi.
Lebih aneh lagi, yang mendemo undang-undang pornografi malah mereka yang berjilbab dan tidak sedikit yang memakai lobe. Demikian juga yang mendemo keberadaan Ahmadiyah. Padahal mereka sesama umat islam. Jika semua datang dari nurani yang dalam berarti keislamannya masih dalam taraf sebutan. Karena islam tidak demikian. Jika memang ada dalangnya, alias direkayasa, ini berarti si dalang berhasil memanfaatkan umat islam yang banyak seperti buih dan mayoritas yang tidak berkwalitas.

ADA APA DI DALAM QUBUR


Aisyah ra pernah bertanya kepada Rasul saw : semua umatmu akan diajukan pertanyaan nanti di dalam qubur, bagaimanakah saya ini hanya seorang wanita yang lemah … ? Rasuluhllah saw menjawab : Allah swt akan meneguhkan iman orang – orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Hal ini sesuai Firman Allah dalam Al Qur’an S. Ibrahim 27. Hadits Riwayat Al- Bazzar.
Hamba Allah semacam Aisyiyah ra yang imannya serta amal shalehnya tidak diragukan lagi, masih cemas serta khawatir tentang persoalan di alam barzakh, sang suami yang rasul lewat ayat menenangkan kecemasan itu, bahwa bagi orang yang semasa hidupnya dipenuhi dengan kalimah Thoyyibah, yakni Iman, amal saleh, amar ma’ruf serta nahi munkar, akan dibantu oleh Allah swt untuk menjawab segenap pertanyaan munkar dan nakir. Seperti isyarat dalam Surat Ibrahim 24.
Sesungguhnya kubur itu sempit dan menjepit, jika seseorang selamat karena mampu menjawab segenap pertanyaan, maka untuk seterusnya akan amanlah perjalannya. Musnad Ahmad 6 : 98. pertanyaan yang diajukan itu adalah, pertama : Siapa Tuhanmu, Kedua : Apa Agamamu, Ketiga : Siapa nabimu serta keempat : ditayangkan gambar dan ditanya siapakah itu, dan terakhir yang kelima : Apa yang anda peroleh dari yang punya gambar itu ( Muhammad rasuluhllah saw ). Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Hakim dan Baihaqi. Jawaban dari kelima pertanyaan itu tidak usah dihapal dari sekarang, sebab ia akan muncul sendiri oleh iman dan prilaku saleh ketika di dunia.
Acapkali kejadian, disaat hendak menanam jenazah diperkuburan yang rendah apalagi di musim penghujan, lobang yang telah digali penuh dengan air. Meski ditimba, namun air yang muncul tidak bisa dikalahkan, pada akhirnya mayat dibenamkan begitu saja, ditutup papan serta ditimbun tanah. Betapakah perasaan seseorang bila melihat keadaan yang seperti ini. Pikiran dunia kita tentu akan menjawab si mayat akan megap, kedinginan, sendirian, gelap tanpa penerangan.
Sahabat Nabi saw semisal Usman bin Affan akan berurai air mata jika mendengar apalagi melihat sendiri penguburan jenazah ketika ditanya, kenapa dia bisa seperti itu, beliau menjawab : kubur itu sempit, gelap, banyak ulat serta kita benar – benar ditinggal sendiri. Anak, istri, sahabat dan harta begitu tega meninggalkan kita, tinggallah badan sebatang kara bersama iman dan amal saleh.
Setiap kita telah banyak mengantar jenazah ke perkuburan, tetapi kenapa tidak nampak pengaruhnya pada cara pikir dan kelakuan keseharian kita. Andaipun barangkali ada satu orang yang bisa keluar dari kubur saat ini, terus dia bisa pula kembali kerumahnya selanjutnya menceritakan pengalaman yang ia rasakan disana, hampir dapat dipastikan hanya sedikit sekali diantara yang masih hidup yang dapat mengambil pelajaran. Begitu dahsyatnya kedegilan otak manusia untuk dapat menyerap kebenaran meski ada fakta nyata.

Ketidak mampuan akal sehat manusia untuk menangkap ajaran – ajaran kebenaran adalah karena didesak oleh kebutuhan riil yang bersifat kebendaan, sehingga apabila ia dihadapkan dengan persoalan ghaib, apakah itu yang berupa ancaman maupun kabar gembira seolah tidak mendapat tempat yang layak. Hampir sama perbandingannya , beras baru dimasak zaman dulu, atau bunga tanjung yang harum semerbak dizaman dulu, maka kini aroma beras begitu juga aroma bunga tanjung meski disentuhkan ke hidung tak bisa lagi dirasakan. Hal itu disebabkan betapa kotornya udara akibat polusi. Demikian pula halnya dengan keyakinan, dia telah terpolusi dengan pikiran kebendaan, harta, uang yang telah menyelimuti seluruh pikiran dan otak manusia akhir zaman.
Bukankah kita telah diperingatkan, bahwa berleha – leha berlomba saling menimbun harta, hingga mendekati liang kubur. Keseharian terus menumpuk jika malam tiba yang terkumpul dihitung, meski barangkali hanya sekedar melihat angka yang tercantum pada buku tabungan umpamanya, atau sekedar melihat – lihat sertifikat tanah, sudah muncul rasa kepuasaan. Sepertinya kesemua yang kita kumpulkan itu mampu mempertahankan kehidupan untuk abadi, atau sepertinya hidup dengan setumpuk persoalan bisa diatasi dengan harta.
Allah swt dan Rasulnya tidak pernah memaksa seorangpun untuk mempercayai ajaran Qur’an tetapi biarlah seseorang itu menggunakan akal pikirannya yang menjadi persoalan adalah kenapa setelah seseorang itu mengaku muslim, namun kemudian justru ia tidak begitu percaya kepada isi Al – Qur’an itu, inikan aneh. Hampir sama anehnya jika mempercayai orang yang dipanggilnya sebagai Ayah dan Ibu, adalah ayah dan ibu kandungnya. Akan betapakah perasaan Ayah dan Ibu kita jika masih meragukan kebenaran bahwa merekalah sebenarnya orangtua kandung kita. Percayakah kita?

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktops