Lencana Facebook

Senin, 09 Mei 2011

Sumur Zam dari zaman ke zaman

Setelah tiba di suatu lembah sunyi, kering, dan tak berpenghuni, Ibrahim ‘Alaihissalam meninggalkan Hajar beserta sang putra beliau, Ismail yang saat itu masih menyusu. Ditinggalkan pula sebuah periuk berisi korma dan tempat minum yang berisi air.

Ketika Ibrahim beranjak pergi, Hajar mengikutinya dan mengatakan, ”Wahai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi, engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni.” Berkali-kali Hajar mengulangi kata-kata itu, Ibrahim tetap tidak menoleh ke arahnya.

Akhirnya Hajar bertanya, ”Apakah Allah memerintahkanmu melakukan hal ini?” Ibrahim menjawab, ”Iya.” Hajar lega dengan jawaban itu, hingga mengatakan, ”Jika demikian, Allah tidak akan membiarkan kami.” Lantas, sang istri kembali ke tempat semula saat ia ditinggalkan.

Hajar tinggal di tempat itu hingga perbekalan habis. Beserta putranya, beliau mulai merasakan kehausan. Beliau berlari-lari menuju bukit Shafa untuk melihat, apakah ada orang di sekitarnya. Ternyata, setelah tiba di tempat itu, tidak ada siapa pun yang terlihat.

Akhirnya Hajar mencoba menuju Marwah untuk tujuan yang sama, namun apa yang diharapkan tidak diperoleh, hingga beliau berlari-lari kecil bolak-balik antara Shafa-Marwa hingga tujuh kali, dengan hasil yang sama. Saat itulah malaikat turun di tempat Ismail ditinggalkan. Di tempat itulah akhirnya air mamancar. Hingga malaikat itu mengatakan kepada Hajar, ”Janganlah khawatir disia-siakan. Sesungguhnya di tempat inilah Baitullah akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya.” (Shahih Al Bukhari)

Dalam Shahih Al-Bukhari juga dijelaskan bahwa setelah itu sebuah kafilah menyaksikan ada beberapa burung berputar-putar, hingga mereka berkesimpulan bahwa burung-burung tersebut melihat air. Diutuslah dua budak kafilah untuk melihat. Mereka kembali dengan membawa berita gembira, bahwa memang di tempat itu ada air. Mereka akhirnya meminta izin kepada Hajar untuk tinggal. Kafilah dari Syam ini memperoleh izin, namun tidak berhak menguasai air Zamzam. Mereka ini yang disebut Al Azraqi sebagai kabilah Jurhum. Kabilah ini akhirnya hidup berdampingan dengan keluarga Hajar.

Al Azraqi menyebutkan, setelah Ismail ‘Alaihisallam wafat, penguasaan terhadap Kabah, dengan Zamzam merupakan bagiannya, turun kepada keturunan beliau, Bani Ismail bin Ibrahim. Namun, setelah Bani Ismail melemah, Bani Jurhum menggantikan posisi mereka.

Saat Bani Jurhum berkuasa di Makkah, datanglah Kabilah Khaza’ah yang berasal dari Yaman. Mereka berbondong-bondong pergi ke Makkah, karena tertarik dengan sumber air Zamzam yang melimpah itu. Akhirnya mereka memutuskan tinggal di tempat itu. Perselisihan dengan Jurhum sering terjadi, hingga pecahlah pertempuran antara kedua kabilah tersebut. Jurhum kalah dalam pertempuran, mereka terusir.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa saat kabilah Jurhum keluar Makkah itulah, mereka sengaja menimbun mata air Zamzam, hingga tidak diketahui bekasnya. (Lihat Sirah Ibnu Hisyam, 1/116)

Mata air Zamzam kemudian digali kembali oleh Abdul Muthallib (kakeknya Nabi), setelah ia bermimpi mendapat perintah untuk menggalinya. Dalam mimpi, Abdul Muthallib juga mendapat petunjuk posisi mata air tersebut. Salah satu ciri yang disebutkan adalah adanya sarang semut dan tempat burung gagak biasa mengais. Dengan putra satu-satunya, Harits. Abdul Muthallib melakukan penggalian. Setelah itu, dirinyalah yang bertanggung jawab menjaga mata air Zamzam dan memberi minum jamaah haji. (Lihat Sirah Ibnu Hisyam, 1/150)

Upaya Menjauhkan Umat Islam dari Zamzam

Pasca Abdul Muthallib, pengelolaan air Zamzam diwariskan turun-temurun, dari generasi ke generasi selanjutnya. Dan Zamzam tetap menjadi air yang diminati oleh seluruh Muslim di seluruh penjuru dunia. Hingga akhirnya ada pihak yang iri, dan mencoba membuat sumur di luar Makkah, agar para jamaah meninggalkan sumur Zamzam yang penuh berkah itu.

Perbuatan tersebut dilakukan oleh Khalid bin Abdullah Al Qasri, penguasa Makkah pada tahun 89 H. Namun upaya yang dilakukan seorang yang suka mencela Ali bin Abi Thalib ini gagal, karena umat Islam tetap berbondong-bondong menuju sumber Zamzam. Dan tak menghiraukan seruan Khalid. Hingga akhirnya, sumur tersebut ditimbun dan tak berbekas (lihat Raudhah Al Anf,1/170)

Hal yang menghebohkan juga terjadi pada tahun 1304 H, saat Konsulat Inggris yang berkedudukan di Jeddah mengeluarkan penyataan bahwa air Zamzam banyak dicemari kuman-kuman berbahaya dan mengandung kolera. Kabar itu pun akhirnya sampai di telinga Khalifah ‘Utsmaniyah, Abdul Hamid II. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengirim beberapa dokter Muslim ke Makkah untuk membuktikan pernyataan miring tersebut. Hasilnya, setelah diteliti, air Zamzam tetap air yang terbaik. Setelah itu, pihak ‘Utsmani mengeluarkan pernyataan untuk menyanggah klaim pihak penjajah itu. (Fadha`il Ma` Zamzam, hal. 161-163)

Tradisi penjagaan Zamzam terus berlanjut, hingga akhirnya klan Zamazimah bertanggung jawab memelihara Zamzam. Dengan terbentuknya Kerajaan Saudi, Zamazimah tetap berkhidmat kepada jamaah haji dalam membagikan air Zamzam atas dasar keputusan pemerintahan lokal.

Di masa pemerintahan Raja Faishal, pada tahun 1384 H (1963 M), dibuka kesempatan bagi berbagai kabilah untuk berkompetisi dalam pengelolahan Zamzam, hingga siapa saja memiliki kesempatan yang sama untuk berkhidmat kepada jamaah haji.

Pengelohahan air Zamzam pada tahun 1403 H (1982 M) benar-benar sudah lepas dari dominasi kabilah tertentu, setelah dibentuknya Maktab Az Zamazimah Al Muwahhad. Berbentuk yayasan, Maktab bertugas secara khusus mengelolah air Zamzam. Dan hal itu berlangsung hingga saat ini.

Kini, para jamaah haji dari berbagai negeri yang baru tiba di Arab Saudi, sudah bisa mereguk segarnya air Zamzam sebelum masuk ke Makkah atas jasa yayasan ini. Demikian pula untuk para jamaah yang hendak meninggalkan Kota Suci setelah mereka menunaikan ibadah haji, mereka akan membawa pulang Zamzam dalam botol kemasan yang berlogo Kabah dengan dua gerabah air yang diproduksi oleh yayasan tersebut.*

Rabu, 20 April 2011

Wal Ashri

Wal Ashri, Inilah bodohnya aku
Waktuku hanya melihat indahnya ketika di belakang
Sementara mereka memandang jauh ke depan
Wal Ashri, Inilah gobloknya Aku
“Dia beranggapan, “He is the Best””
Tapi……… begitu dia tahu saat komunikasi dengan mereka
Dia meleleh…….leh……….leh………leh
Wal Ashri, Awalnya dia coba gagah
Akhirnya dia tersenyum kecut
Mereka sudah bersiap masuk finish
Dasar Goblok !!!,
Dia masih saja terpukau dengan mimpi
Cintanya yang sudah ditelan birahi bumi
Wal Ashri,
Celakalah Aku jika terus begini
Oh My God !!!!.

Binjai, April 2011
Kir. Drs. Fuad Afsar

Dongeng Cintaku

30-an tahun lalu, hatiku terjatuh di Simpangkuraitaji
Seorang ceweq memungutnya dengan lembut
Aku bahagia sekali, hatiku jatuh tapi ada yang memungutnya
Saat hatiku sebelah lagi kosong, kutemukan ada hati berlebih
Di Simpangkuraitaji juga.
Jadilah hatiku dan hati yang kutemui mengisi hidupku
Suatu hari, hatiku yang penuh itu jatuh berserakan
Seperti kaca, pecah. Berserakan !,
Aku kaget,
Aku tertegun,
Aku tersenyum,
Ahhhh, bisa apa anak SMP ?
Luka tersayat itu malah semakin parah
Saat pemungut hatiku, yang hatinya berlebih
Kuambil dan kusimpan sebagai pengenap hatiku
Dihantam prahara nafsu syahwat syetan tidak bertanggung jawab
Luka hatiku mulanya luka karena tidak mampu menerawang masa depan
Aku masih SMP !.

Luka itu semakin bernanah dan menyayat hatiku
Saat hati yang kutemui menderita !.
Ya, dia menderita
Sangat menderita !.
Hati yang kutemui bukanlah hati yang kutemui mengisi hatiku yang jatuh
Melainkan hati yang porak poranda sehancur-hancurnya
Jahanam itu telah mengotori pemilik hati yang kutemui
Dengan keserakahn nafsu yang bersangatan
Jahanam itu bukan manusia
Jahanam itu adalah setan yang sangat-sangat bernafsu
Memperkosa hati, hati yang sangat kucintai
Segala cara jahanam itu lakukan, agar hati
Hati yang kutemui , tunduk di bawah nafsu setan jahanam
Sungguh !
Hatiku bernanah,
Sakit,
Perih,
Perih sekali !.
Air mataku jatuh di dalam cinta,
Cintaku basah
Cintaku menjadi busuk, terendam air mata darah
Hati yang kutemui itu, seperti malaikat kebingungan
Dia kelimpungan,
Dia sangat lemah,
Dia tidak bertenaga,
Ya, malaikatku itu kalah saat bertarung melawan kemauan nafsu setan
Malaikatku yang lunglai bersinergi dengan hatiku yang busuk
Akibat terendam air mata darah
Disebabkan perengutan secara biadab
Hati malaikatku yang dulu kupungut di Simpang kuraitaji
Oleh pemilik nafsu biadab jahanam itu
Waktu menggilas segala-galanya
Busuk hatiku semerbak dipelukan ibu pertiwi
Hati yang pernah kudapat di simpang kuraitaji
Lenyap di belantara cinta
Kadang aku kehilangan
Kadang aku kebingungan
Hati yang pernah kupungut
Ternyata tidak hancur semua
Ada serpihan sebesar zarah tertinggal di lubuk hati terdalam
Tertimbun cinta-cinta yang nyata yang ada dalam duniaku
Subhanallaah,
Serpihan sebesar zarah itu hidup.
Aneh,
Benih yang tertimbun berpuluh tahun itu
Perlahan hidup lagi
Aku coba membunuhnya,
Aku coba membuangnya
Oh my God,
Aku tidak sanggup, Aku mau jadi pembunuh
Aku tidak bisa
Semakin kusayat semakin dia hidup
Aku lunglai dalam kebingungan
Aku tidak berdaya
Hati yang kupungut dulu itu, yang sudah tertimbun jutaan detik
Berangsur menggeliat, menolak apa yang ada di atasnya
Yang membenamkannnya
Hatiku yang pernah jatuh dipungut anak simpang kuraitaji
Yang pernah busuk terendam air mata darah, terlihat dibersihkannya
Dengan kelembutannya
Karena hatiku yang dipungutnya adalah hati yang pertama ditemukannya
Seperti juga aku !.
Hati yang berlebih yang kupungut itu, juga pertama kali
Sekarang menjadi madu, sekaligus menjadi tuba
Sekarang……………?











Hati yang pernah kupungut dulu
Jauuuuuh sekali
Dekaaaat sekali
Aduhhhhhh.
Zaman tidak salah,
Waktu tidak salah,
Semua tertulis di kitab Nya
Bab tersendiri tentang aku
Bab tersendiri tentang hati yang kupungut
Biarlah…………


(Ilham ini hadir saat sholat maqribdi mesjid taqwa Muhammadiyah kelurahan Pahlawan Kb. Lada di saat rakaat ke dua, 19 April 2011)
Binjai, Drs. Fuad

Minggu, 17 April 2011

Bandara Cinta

Ketika kota Padang memasrahkan dirinya
dalam dekapan senja yang penuh kasih
ada sepenggal cintaku yang pernah tercecer menjemput masa depan putranya
dengan kerinduan seorang ibu
Berbekal niat yang ikhlas
Sepenggal cintaku yang pernah ada meninggalkan asanya di Bandara Tabing.
Saat mentari sore masih bernafsu mendekap jakarta
makhluk mungil separuh dewa
sudah menanti dengan kerinduan yang bersangatan
sudah 20-an tahun lebih kebersamaan itu diterlan birahi bumi
selama itu pula cinta-cinta mencari cintanya
Ada sedih, ada bahagia, ada duka, ada lara
Ntahlah..................
Makhluk setengah dewa terpukau
saat sepenggal cintaku
hadir dihadapannya
sepenggal cintaku kaget,seolah tak percaya.
Dicobanya tafakkur
Kucoba bayangkan detik detik saat
sepenggal cintaku terpaku dan terpukau dalam dekapan birahi rindu
makhluk setengah dewa
http://www.youtube.com/watch?v=lVfRl7PivT8
Badara suta dalam keadaan pasrah ketika selimut malam mendekapnya
dengan penuh nafsu
Mempertontonkan kepada semua orang
"Persaksikan oleh Kalian bahwa malam ini dengan kekuasaanKu
Kusatukan kembali pertemanan mereka yang pernah ditelan birahi bumi !"
Lihatlah !
Lihatlah !
Pertemenan itu hanya sesaat
Sesaat yang sudah memporak porandakan kerinduan dalam angan menjadi satu kenyataan
Dari sudut birahi bumi yang lain
Makhluk ajaib bersorak
Sungguh !, makhluk ajaib itu bersorak
Ya dia bersorak "Berpelukan !"
Aku merinding
Aku menggigil
Aku seperti bermimpi
20-an tahun yang lalu
Cintaku terjatuh
Sekarang sepenggal cintaku yang jatuh itu
dalam pelukan penuh rindu makhluk setengah dewa
Salahkah aku jika bertafakkur ??
Salahkan aku jika aku berbahagia ??
Salahkah ?????


"Sepenggal Cintaku yang pernah ada" adalah "My first love"

"Makhluk ajaib" dari belahan bumi "Sofya Yenti Siregar, She said "Berpelukan"

Minggu, 13 Maret 2011

Ya Raabb

Ya Raabb,
Hari ini aku kembali berbuat dosa
Ketika telinga yang Engkau anugerahi ini mendengar undanganMu
Aku malah dengan sengaja memekakkannya.
Rabb, Ampunilah kesalahanku ini.
Anakku yang bungsu sudah mengingatkan aku
Apakah aku sudah memenuhi panggilanMu ?????????
Aku cuma tersenyum kecut.
Maafkan aku ya Rabb
Ampunilah dosaku yang dengan sengaja aku bangun.
Rabb,
Janganlah Engkau tinggalkan aku dalam kesengsaraan menanggung beban dosa ini
Rabb,
Janganlah Engkau sia-siakan kesungguhan asaku ini
Ya Rabb,
Astaqhfirullah mina lkhataya-Ashtaghfirullah mina lkhataya

Binjai, sudah lewat 1 jam waktu Ashar
13 Maret 2011

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktops